Makassar-persatuannews.com. Proses evakuasi salah satu korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1) menggunakan teknik Rappeling dari atas tebing.
“Posisi korban berada di lokasi yang sulit dijangkau, sehingga tim vertikal rescue Basarnas menggunakan teknik khusus dalam proses evakuasi yakni teknik Rappelling,” kata Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan, teknik evakuasi tersebut dipilih karena medannya cukup sulit dengan posisi berada di tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat.
Teknik rappeling adalah metode turun dari ketinggian (tebing, jurang, struktur vertikal) menggunakan tali khusus dengan bantuan alat descender (seperti figure-8 atau autoblock) yang terhubung ke harness atau alat pelindung diri (APD).
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transportasi (AT) dengan 7 kru dan 3 orang penumpang jatuh di Pegunungan Bulusaraung di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.00 WITA.
Baca juga :
- Sosialisasi 4 Pilar Bersama Guru, Senator M Nuh Tekankan Pentingnya Literasi dan Mitigasi Bencana di Sekolah
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Dia menjelaskan satu orang korban telah dievakuasi lewat Balocci, Kabupaten Pangkep, karena jaraknya ke darat lebih dekat dan memungkinkan mobil ambulans merapat dibandingkan jika lewat Kabupaten Maros.
Pencarian bangkai pesawat dan penumpangnya dilakukan tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AU, AirNav Indonesia serta pihak terkait lainnya.
Sebelumnya informasi dari Kemenhut menyebutkan bahwa cuaca pada saat pesawat hilang kontak dilaporkan sedikit berawan dengan jarak pandang sekitar 8 kilometer sesuai data Badan Meteorologi, Kimatologi dan Geofisika (BMKG).
Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026











