Medan-persatuannews.com.Perjalanan hidup manusia tersusun rapi dalam program takdir yang telah digariskan Allah ﷻ, sebelum ia terlahir kedunia. Opera kehidupan manusia dimulai dari alam ruh selanjutnya kehidupan dunia dan berakhir di surga atau neraka.
Sebelum kita terlahir kedunia, dirahim ibu kita berikrar dihadapan Allah ﷻ. Namun adakah diantara kita mengingat pernah melakukan perjanjian dengan Allah ﷻ sebelum lahir ke dunia? Pasti tak satupun diantara kita pernah tahu ikrar kesetiaan tersebut kepada-Nya.
Allah ﷻ berfirman :
وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَالُوْا بَلٰى ۛ شَهِدْنَا ۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu?
Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketika itub kami lengah terhadap ini,”(QS. Al-A’raf 7:172)
Kecuali hamba-hamba yang pandai bersyukur atas segala nikmatnya. Fitrah manusia memang pelupa, sehingga tidak ingat terhadap hal-hal yang sudah disepakati dengan Rabb-Nya sebelum terlahir ke dunia.
Padahal kita tahu bahwa janji adalah hutang, amanah yang harus dipenuhi atas konsekwensi ucapan yang telah diikrarkan.
Bilamana kita semua mau mengingat, atau membaca janji yang pernah kita ikrarkan dan sepakati dengan Allah ﷻ, sebagaimana disebut dalam Al-Quran maka perjalanan hidup kita senantiasa berada di jalan yang benar dan diridoi Allah ﷻ.
Allah ﷻ telah mengambil kesaksian dari setiap jiwa atau ruh manusia. Allah mempertanyakan tentang keimanan kita, padahal Allah telah mengirimkan Rasul-Nya untuk membimbing kita sebagaimana dinyatakan dalam Alquran:
Allah ﷻ berfirman:
وَمَا لَـكُمْ لَا تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۚ وَالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ لِتُؤْمِنُوْا بِرَبِّكُمْ وَقَدْ اَخَذَ مِيْثَاقَكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul mengajak kamu beriman kepada Tuhanmu? Dan Dia telah mengambil janji (setia)mu, jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Al-Hadid 57:8)
Manusia secara fitrah memang melupakan ikrar perjanjian tersebut. Karena memang fitrah manusia itu pelupa bahkan suka ingkar.
Tak satu alasan apapun bagi manusia dapat mengelak atas ikrarnya kepada Allah ﷻ di akhirat kelak. Karena manusia dibekali akal dan pikiran untuk menentukan jalan yang benar.
Allah ﷻ telah mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk selalu mengingatkan kembali tentang perjanjian tersebut.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
Artinya : “Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR Al-Imam Malik).
Manusia secara fitrah memang melupakan perjanjian tersebut. Karena itu kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap insan. Kenyataan yang harus dihadapi, tak satu jiwa pun yang lahir ke dunia ini, kecuali Allah telah mengambil perjanjian dan kesaksian mereka ketika di alam ruh.
Baca juga :
Sungguh Allah adalah Rabb Yang Maha Agung. Allah ﷻ menguji kehidupan manusia didunia agar pada hari akhirat nanti tidak ada satupun manusia yang akan mengingkari tentang ke-Tauhid-an.
Tidak ada alasan bagi setiap insan bisa mengelak atas janjinya kepada Allah ﷻ di akhirat kelak. Karena manusia dibekali akal dan pikiran untuk menentukan jalan yang benar. Allah ﷻ juga mengutus Nabi dan Rasul-Nya untuk mengingatkan kembali tentang perjanjian tersebut.
Setiap manusia yang terdiri dari beragam warna, beragam bahasa, beragam kultur pada hakikatnya lahir dalam keadaan fitrah, bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Ini merupakan warisan Robbani sekaligus modal dasar yang paling kokoh yang akan menentukan eksistensi setiap insan. Sesungguhnya setiap insan pasti berhadapan di-Mahkamah-Nya dalam mempertanggungjawabkan ikrar yang pernah diucapkan.
Semoga kita tidak melupakan ikrar tersebut, sebab segala sesuatu yang kita lakukan hanyalah untuk Allah ﷻ semata, sebagaimana do’a kita, “Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin”.
Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan Penguasa alam semesta. Kalimat penyerahan diri secara sempurna dihadapan-Nya.
- Penulis: Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor Laz Persis Sumut
Anggota Komisi Sosben MUI Sumatera Utara.










