Jendela Fajar : Tafsir Mimpi

"(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf 12: 4)

Medan-persatuannews.com. Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra dalam tidur. Dalam Islam mimpi diistilahkan dengan الرؤيا al-ru’ya yang artinya penglihatan dalam keadaan tidur, disebut juga البشري al-busyra yang berarti kabar gembira, sedikit berbeda dengan     الرؤية al-ru’yah yang artinya melihat dengan mata kepala.

Allah ﷻ berfirman:

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya : “Dan demikianlah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti” (QS Yusuf 12 : 21)

Selain al-ru‘ya al-Quran juga menggunakan kata al-hilm, berbeda dengan al-ruya yang tidak  didahului oleh sibuknya otak memikirkan sesuatu sebelum tidur dan tidak ada campur tangan setan didalamnya.

Menurut Sigmund Freud, mimpi adalah motivasi manusia yang tidak disadari. Ia adalah motivasi terselubung dan terendap di alam bawah sadar. Ia menyebutkan bahwa naluri manusia dapat dirasakan oleh kesadaran.

Analisisnya Freud hanya pada area sensoris, sedangkan Islam menjadikan mimpi sebagai hal yang bermakna pada nilai-nilai keimanan dan memiliki implikasi nyata dalam kehidupan.

Karena mimpi tidak terjadi dengan sendirinya, mimpi bukanlah semata-mata aktivtas inderawi, pengendapan cita-cita serta kelanjutan berfikir atau problem hawa nafsu belaka.

Dalam al-Quran kita temukan kata أضغاث (adghast) yang berarti bercampur atau kalut maka dia tidak memiliki arti. Ketika Raja Mesir bermimpi tentang 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering.

Allah ﷻ berfirman:

قَا لُوْۤا اَضْغَا ثُ اَحْلَا مٍ ۚ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيْلِ الْاَ حْلَا مِ بِعٰلِمِيْنَ

Artinya : “Mereka menjawab, “(Itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu.””(QS. Yusuf 12: 44)

Ketika itu para pembesar al-Malik di masa Nabi Yusuf as menduga mimpi raja ketika itu sebagai adghas al ahlam karena bercampurnya mimpi dengan mengatakan, “itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.”

Baca juga :

  1. Kapoltabes Medan Buka Akses Informasi Selebar-lebarnya Bagi Wartawan Media Online Anggota IMO-Indonesia
  2. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
  3. Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung

Namun Nabi Yusuf as mampu mentafsir mimpi tersebut, rasional yang terbukti menjadi solusi yang tepat pada saat Kerajaan Mesir menghadapi krisis ekonomi.

Cadangan devisa yang didapat dari menimbun hasil panen 7 tahun sebelumnya dikonsumsi selama musim paceklik hingga musim hujan tiba.

Allah ﷻ berfirman:

اِذْ قَا لَ يُوْسُفُ لِاَ بِيْهِ يٰۤاَ بَتِ اِنِّيْ رَاَ يْتُ اَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ رَاَ يْتُهُمْ لِيْ سٰجِدِيْنَ

Artinya : “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai Ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf 12: 4)

Sesungguhnya dilangit biasanya ditaburi ribuan bintang, namun Nabi Yusuf as hanya melihat sebelas bintang dan benda-benda langit tersebut bersujud kepadanya.

Dalam QS Al-Shaffat 37:102, mimpi Nabi Ibrahim as, menyembelih putranya Isma`il as. Mimpi yang diyakini kebenarannya bahwa itu adalah perintah Allah ﷻ yang harus ditunaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالرُّؤْيَا ثَلَاثٌ، الحَسَنَةُ بُشْرَى مِنَ اللَّهِ، وَالرُّؤْيَا يُحَدِّثُ الرَّجُلُ بِهَا نَفْسَهُ، وَالرُّؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

Artinya : “Mimpi itu ada tiga. Mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Allah, mimpi karena bawaan pikiran seseorang (ketika terjaga), dan mimpi menyedihkan yang datang dari setan. Jika kalian mimpi sesuatu yang tak kalian senangi, maka jangan kalian ceritakan pada siapa pun, berdirilah dan shalatlah!” (HR Muslim).

Suatu hari seorang sahabat bercerita tentang mimpi yang dialaminya. Dalam mimpinya ia melihat dibawah tempat tidur kedua orangtuanya ada sepasang mahkota yang biasa dikenakan para raja-raja. Mahkota tersebut sangat indah dihiasi intan permata yang berkilau.

“Aku tak tahu apa tafsir mimpi tersebut, namun mimpi yang sama berulang sampai yang ketiga kalinya”, ujarnya. “Aku berfikir positip tentang mimpiku itu,” katanya lagi. “ lantas apakah kau pernah menceritakan kepada istri atau anak-anakmu tentang mimpi itu?,” jawabku. “tidak,” dengan tegas jawabnya.

“Setelah keduanya tiada, barulah aku sadar arti mimpi itu, ternyata Allah ﷻ telah memberikanku kesempatan berbuat baik kepada kedua orangtua, disaat mereka memasuki usia uzur,” ujar sahabatku sambil menitiskan airmatanya.

Itulah tafsir mimpi, pada hadis riwayat Muslim ada tiga macam mimpi manusia, mimpi kabar gembira dari Allah, mimpi karena bawaan pikiran seseorang saat terjaga, dan mimpi menyedihkan yang datang dari setan.

  • Penulis: Tauhid Ichyar
  • Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
    Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.