Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia

“Muktamar ini bukan sekadar berkumpul, tetapi panggilan sejarah. Pemuda PERSIS harus siap memimpin peradaban dan mengambil bagian dalam visi dakwah global,” ujar KH. Jeje.

Bandung-persatuannews.com. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (PERSIS), Dr. KH. Jeje Zaenudin, menegaskan, Pemuda PERSIS harus mengambil peran strategis sebagai pemimpin peradaban, bukan sekadar menjadi penonton di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Hal tersebut disampaikan dalam taujih kebangsaan dan kejam’iyyahan pada pembukaan Muktamar XIV Pemuda PERSIS di Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (24/4/2026) Menurutnya, muktamar bukan hanya agenda rutin organisasi, melainkan momentum penting untuk menjawab tantangan zaman.

“Muktamar ini bukan sekadar berkumpul, tetapi panggilan sejarah. Pemuda PERSIS harus siap memimpin peradaban dan mengambil bagian dalam visi dakwah global,” ujar KH. Jeje.

Baca juga :

  1. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  2. PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
  3. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
  4. Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung

Tantangan Global dan Krisis Identitas

KH. Jeje menyoroti derasnya arus globalisasi yang berpotensi mengikis identitas generasi muda jika tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang kuat. Ia mengingatkan bahwa pemuda harus memiliki pijakan ideologis yang kokoh agar tidak mudah terombang-ambing.

“Kita hidup di tengah arus global yang sangat kuat. Tanpa identitas yang jelas, generasi muda akan kehilangan arah. Pemuda PERSIS harus berdiri tegak menjaga manhaj dan ruh gerakan,” tegasnya.

Selain itu,, KH. Jeje juga mengingatkan, predikat sebagai umat terbaik bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah besar untuk memimpin dan memberi manfaat bagi umat manusia.

Empat Tantangan Dakwah di Era Modern

Dalam kesempatan tersebut, Jeje menguraikan empat tantangan utama dakwah di era global, yaitu pertarungan ideologi digital, krisis moral generasi muda, fragmentasi umat, serta disrupsi teknologi.

“Pertarungan hari ini bukan lagi fisik, tetapi narasi. Ideologi masuk tanpa batas. Karena itu, pemuda harus siap dengan ilmu dan kemampuan digital,” katanya.

Ia menambahkan, dakwah saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan lisan, tetapi juga membutuhkan kecakapan dalam memanfaatkan teknologi dan media digital.

Kader Peradaban dan Visi Global

Jeje menegaskan bahwa Pemuda PERSIS harus diposisikan sebagai kader peradaban yang memiliki visi global. Menurutnya, tantangan ke depan menuntut generasi muda untuk tidak hanya berpikir lokal, tetapi juga mampu membawa nilai-nilai dakwah ke tingkat internasional.

“Pemuda PERSIS bukan hanya kader organisasi, tetapi kader peradaban. Kita harus membawa dakwah ini ke level global tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara identitas yang kuat, visi yang luas, dan ruh gerakan yang hidup sebagai fondasi dalam membangun kekuatan dakwah ke depan.

Muktamar Jadi Titik Lompatan Gerakan

Lebih lanjut, KH. Jeje berharap, Muktamar XIV Pemuda PERSIS menjadi titik lompatan baru dalam memperkuat gerakan dakwah. Ia menekankan bahwa forum ini harus melahirkan gagasan besar, program strategis, serta kepemimpinan yang progresif.

“Jadikan muktamar ini bukan sekadar pergantian kepengurusan, tetapi momentum pembaruan visi dan penguatan gerakan,” kata dia.

KH. Jeje juga mendorong agar Pemuda PERSIS aktif berkiprah di berbagai ruang, mulai dari pendidikan, sosial, hingga ruang digital dan kebijakan publik.

Seruan Kebangkitan Pemuda

Menutup taujihnya, KH. Jeje mengajak seluruh kader Pemuda PERSIS untuk bangkit dan mengambil peran nyata dalam membangun umat dan bangsa.

“Bangkitlah dengan ilmu, adab, keberanian, dan integritas. Jangan biarkan sejarah berjalan tanpa kontribusi kita,” tegasnya.

Ia optimistis, dengan semangat kolektif dan komitmen yang kuat, Pemuda PERSIS mampu menjadi generasi yang tidak hanya menjaga nilai-nilai Islam, tetapi juga mengukir peradaban baru yang berdaya saing global.

Pewarta: M.Ash-shiddiqi
Editor: Abdul Aziz