Mendengunglah Walau Engkau Hanya Seekor Kumbang: Ketika Empati Mulai Luntur

Banyak yang lupa: kekuasaan adalah amanah yang mesti ditunaikan. Dan setiap titipan akan diminta pertanggungjawaban. Bukan di media, bukan di podium, tapi di hadapan rakyat dan di hadapan Tuhan.

Medan-persatuannews.com. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Bukan sakit karena alam, melainkan sakit karena orang-orang yang memegang kendali seolah lupa untuk apa mereka dipilih.

Lihatlah birokrasi yang berbelit. Di gedung dewan, suara mereka lebih nyaring saat membahas fasilitas sendiri dibanding nasib rakyat yang telah menitipkan suaranya. Begitu juga para pengambil keputusan yang duduk di ruang ber-AC, menandatangani kebijakan yang memukul perut rakyatnya sendiri.

Yang paling menyakitkan bukan kebijakan itu, tetapi hilangnya empati dan hilangnya nurani.
Rakyat berjuang untuk harga segantang beras, sementara mereka di sana berdebat soal berapa tunjangan yang didapat. Rakyat antre untuk mendapatkan pekerjaan, sementara mereka sibuk bagi-bagi kursi dan mempertahankan kekuasaan.

Banyak yang lupa: kekuasaan adalah amanah yang mesti ditunaikan.
Dan setiap titipan akan diminta pertanggungjawaban.
Bukan di media, bukan di podium, tapi di hadapan rakyat dan di hadapan Tuhan.

Negeri ini tidak kekurangan aturan, dan orang pintar.
Yang kurang adalah hati dan kepekaan.
Dan negeri tanpa empati adalah negeri yang sedang menuju kehancurannya sendiri

Negeri yang kuat bukan hanya karena aturannya lengkap, tetapi karena para pemegang amanah masih mendengar detak jantung rakyatnya.

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Hari ini kita menyaksikan banyak kebijakan yang lahir dari ruang rapat, namun terasa jauh dari dapur rumah warga. Birokrasi yang rumit, keputusan yang kurang menyentuh realita, suara rakyat sering tenggelam di antara kepentingan dan ambisi.

Bukan maksud untuk menyalahkan. Ini ajakan untuk mengingat kembali: kekuasaan adalah titipan. Dan titipan itu hanya berarti jika digunakan untuk memberi kemaslahatan, bukan menambah beban.

Mari kita kembalikan empati ke dalam ruang pengambilan keputusan.
Karena ketika pemimpin merasakan apa yang dirasakan rakyat, kebijakan yang lahir pun akan membawa harapan, bukan luka.

Negeri ini butuh lebih banyak telinga yang mendengar, dan hati yang peduli.

Carut-marut negeri ini bukan karena rakyatnya yang malas.
Tetapi karena para pengambil keputusan seolah lupa rasanya menjadi rakyat kecil.

Bila rasa hilang, yang tersisa hanya hitung-hitungan kekuasaan belaka.
Padahal…
Tanpa empati, kebijakan apa pun hanya menambah luka yang menganga.

Penulis : Abdul Aziz
Penasehat PW. PERSIS Sumatera Utara