Medan-persatuannews.com. Jeffrey Epstein adalah seorang pemodal dan miliarder asal Amerika Serikat yang menjadi pusat salah satu skandal kejahatan seksual dan perdagangan anak paling menggemparkan di dunia. Kejahatan tersebut dilakukan melalui jaringan elit yang melibatkan tokoh-tokoh politik, selebritas, dan pengusaha.
Ia lahir pada tahun 1953 di Brooklyn, New York, Jeffrey Epstein lahir dari pasangan keturunan imigran Yahudi Ashkenazi, Paula dan Seymour Epstein. Ia memulai kariernya sebagai guru sebelum masuk ke industri perbankan. Ia berhasil mengumpulkan kekayaan luar biasa dengan mengelola aset para miliarder dan membangun koneksi dengan kelas elit global.
Jeffry memiliki kompleks properti Jeffrey Epstein dikenal sebagai Zorro Ranch sebagai Little Saint James dan dijuluki Pulau Pedofil, seluas 70-78 hektar di New Mexico. Dilengkapi fasilitas super mewah, mulai dari dermaga pribadi, landasan helikopter, empat vila tamu, hingga sistem penyaringan air berkapasitas tinggi, tersedia di pulau itu.
Jeffrey Epstein apabila tampil di depan publik bagaikan seorang finansier kaya raya, dermawan, dan sahabat para elite dunia. Memiliki banyak harta, kemewahan berlimpah, rumah-rumah elite, jet pribadi, dan pesta-pesta selebriti kalangan atas dunia.
Namun di balik citra itu, tersembunyi sebuah jaringan gelap yang selama bertahun-tahun menelan banyak korban gadis belia dibawah umur. Operasi jaringan yang sangat mengerihkan, ekploitasi seksual yang sangat terorganisir. Jaringan elit Jeffrey Epstein adalah sindikat perdagangan seks dan eksploitasi anak di bawah umur yang dioperasikan Jeffrey Epstein, bersama rekan-rekannya.
Baca juga :
- Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Mantan Jaksa Agung Kepulauan Virgin AS, Denise George, menyebut pulau tersebut sebagai tempat persembunyian sempurna bagi aktivitas kriminal Epstein. Menurut kesaksian George, Epstein memanfaatkan akses privat ini untuk membawa gadis di bawah umur menggunakan helikopter dari bandara St Thomas langsung ke pulau pribadinya, jauh dari jangkauan pihak berwenang.
Bagi para korban, Little St James bukanlah Surga tropis, melainkan penjara yang dikelilingi laut yang sulit melarikan diri yang dilengkapi berbagai cctv dan kebringasan penjaga. Little St James bagaikan Neraka yang setiap saat datang memberikan rasa sakit bagi anak-anak belia dibawa umur.
Skandal Jeffrey Epstein melibatkan konglomerat, tokoh politik, ilmuwan, hingga selebritas global yang sering mengunjungi pulau pribadinya atau menggunakan jet pribadinya. Memasuki tahun 2026, analisis terhadap puluhan ribu halaman dokumen rahasia (Epstein Files) dibuka.
Pengadilan Federal Amerika Serikat sejak awal 2024 secara bertahap pendeklasifikasi mencapai titik terang yang solid. Skandal Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell kini tidak lagi dilihat sekadar sebagai kasus kriminalitas biasa, melainkan sebuah anomali sistemik yang mempertontonkan kelumpuhan institusi hukum global ketika berhadapan dengan elit kapital.
Seiring dengan rilisnya 3 juta lembar dokumen baru terkait kasus Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman AS pada Jumat (30/1/2026), sorotan dunia kembali tertuju pada sebuah titik di Karibia, Pulau Little St James.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer meminta maaf karena telah menunjuk Peter Mandelson sebagai Duta Besar di Amerika Serikat (AS). Permintaan tersebut disampaikannya menyusul skandal hubungan Mandelson dengan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein yang memicu desakan politik dan mosi tidak percaya.
Sementara Presiden AS Donald Trump membantah terlibat dalam kejahatan Jeffrey Epstein. Sebagaimana diketahui hubungan keduanya berakar dari pertemanan di lingkaran sosial elit pada era 1990-an hingga awal 2000-an, di mana mereka kerap menghadiri acara bersama.
Nama Donald Trump tercantum dalam jutaan dokumen terkait Epstein yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Hal ini menarik perhatian publik dan memicu pemberitaan intensif dari berbagai media.
Seorang informan rahasia FBI dengan istilah Confidential Human Source atau CHS menyatakan keyakinannya bahwa Epstein bukan sekadar pemodal biasa. Ia menyebut Epstein adalah seorang mata-mata Israel.
Dalam dokumen yang dikeluarkan DOJ tertulis bahwa sang informan ingat saat pengacara Epstein, Alan Dershowitz, bicara kepada Alex Acosta, jaksa federal AS yang menangani kasus Epstein pada periode 2007–2008. Dershowitz menyebut Epstein adalah bagian dari dinas intelijen AS dan negara sekutunya.(Kumparan.com)
Skandal Epstein bukan sekadar cerita tentang nafsu, melainkan tentang penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) dan manipulasi psikologis tingkat tinggi. Ia menjadi simbol bagaimana kekuasaan, uang, jaringan elite, dan kelemahan sistem hukum dapat digunakan untuk menutupi kejahatan kemanusiaan selama bertahun-tahun.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.
