Medan-persatuannews.com. Pesta sepak bola dunia kembali tiba. FIFA World Cup 2026 resmi bergulir, menyedot sorak-sorai dari seluruh penjuru bumi. Turnamen empat tahunan ini memasuki edisi ke-23, dan untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Konsekuensinya bagi Indonesia: jam tayang masuk prime time begadang. Mayoritas laga di WIB kick-off pukul 23.00 hingga 02.30 dini hari. Untuk Indonesia Tengah berarti mulai 00.00 WITA, dan Indonesia Timur pukul 01.00 WIT. Artinya, peluit panjang sering berbunyi saat subuh menjelang.
Begadang Boleh, Malas Jangan
Fakta ini memantik kekhawatiran klasik: apakah euforia Piala Dunia akan menggerus produktivitas kerja? Jawabannya: tidak, jika kita cerdas mengatur ritme.
Para pekerja, baik ASN, karyawan swasta, hingga pejabat eselon, dituntut disiplin mengatur waktu. Piala Dunia bukan alasan untuk datang ke kantor dengan mata panda dan kinerja 50%. Kuncinya ada di manajemen istirahat, asupan gizi, dan prioritas.
“Kalau sampai kedapatan lemas karena kurang tidur, yang rugi diri sendiri. Nama baik dan penilaian kinerja taruhannya,” tegas Jonaidi.
Jurus Anti-Loyo Nonton Piala Dunia
- Power Nap Strategis: Percepat tidur sebelum kick-off atau langsung tidur usai laga. Targetkan total tidur tetap 6-7 jam.
- Gizi Tempur: Siapkan makanan bergizi dan hidrasi yang cukup. Kurangi kafein berlebih yang justru mengacaukan jam biologis.
- Pilih Laga Prioritas: Dengan 104 pertandingan dari 48 tim, mustahil menonton semua. Seleksi laga tim jagoan dan fase krusial. Fase grup 11 Juni – 27 Juni, dan partai final digelar 19 Juli 2026.
Deja Vu Meksiko 1986
Kondisi ini mengingatkan pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Saat itu, final Argentina vs Jerman Barat juga berlangsung pagi hari waktu Indonesia. Laga legendaris itu melambungkan Diego Maradona dengan Gol Tangan Tuhan dan aksi solonya yang dijuluki lari seperti putaran mesin.
Bedanya, 2026 skalanya lebih raksasa: 48 tim, 104 laga, 39 hari. Artinya, godaan begadang lebih panjang. Tapi etos kerja bangsa ini sudah teruji. Piala Dunia harus jadi vitamin semangat, bukan alasan pembenaran untuk bermalas-malasan.
Sebab kerja tetap nomor satu. Bola hanya nomor satu di lapangan.
Oleh: Jonaidi, S.H., M.H.
Penikmat tontonan sepak bola







