Belajar dari Kedaruratan: KOGANA Inisiasi Buku Saku Kebencanaan dan Mitigasi di Medan

“Kebencanaan bukan hanya soal merespons saat bencana terjadi. Lebih dari itu, ia adalah membangun budaya kesiapsiagaan sejak dini,” ujar Benny Yudha Purnama, Pembina Yayasan Komunitas Siaga Bencana Sumatera Utara (KOGANA).

Medan-persatuannews.com.Bencana alam bisa datang kapan saja. Baik karena perubahan iklim maupun pergeseran lempeng bumi, dampaknya selalu memakan korban. Kita memang tidak bisa mencegah bencana, tetapi kita bisa mengurangi kerusakan dan jumlah korban.

“Kebencanaan bukan hanya soal merespons saat bencana terjadi. Lebih dari itu, ia adalah membangun budaya kesiapsiagaan sejak dini,” ujar Benny Yudha Purnama, Pembina Yayasan Komunitas Siaga Bencana Sumatera Utara (KOGANA).

Inisiasi Buku Saku Mitigasi
Sabtu, (27/6/’26), bertempat di Hotel Kanasha , Jalan Dolok Sanggul nomor 8, Medan. KOGANA Sumut menginisiasi pertemuan lintas komunitas dan para praktisi kebencanaan. Tujuannya: menyusun Buku Saku Kebencanaan dan Mitigasi.

Buku ini akan menjadi wadah untuk menghimpun, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengalaman, pengetahuan, serta kompetensi para pegiat kebencanaan di Sumatera Utara. Fokus awal buku saku diarahkan pada penanganan Banjir dan Gempa Bumi.

Refleksi dari Tragedi FPRB Kota Medan
Momentum penyusunan ini tidak lepas dari peristiwa darurat pada pelantikan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Medan.

Baca juga :

    1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
    2. PW ISMI Jambi Siap Dilantik, PW ISMI Riau Terima Mandat ISMI Ekspansi ke Sumatera, Usung Melayu sebagai Mesin Penggerak Zaman
    3. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Selasa, 24 Juni 2026 di Gedung PKK, Jalan Rotan, Ketua FPRB Kota Medan, Ibrahim bin Nurdin, meninggal dunia secara mendadak setelah pingsan dan terjatuh usai dikukuhkan oleh Wali Kota Medan, Rico Waas.

Peristiwa itu menjadi cermin yang dalam. Acara yang seharusnya menjadi momentum penguatan mitigasi, justru menjadi ujian nyata: seberapa siap kita menghadapi kedaruratan yang datang tanpa aba-aba?

“Ini bukan soal siapa yang salah. Ini soal urgensi sistem dan kesadaran kolektif. Tugas seorang First Responder adalah memastikan setiap nyawa punya peluang untuk selamat. Tapi tindakan individu tidak akan maksimal tanpa dukungan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) di setiap titik acara,” jelas Benny.

3 Hal Penting dalam Setiap Event Massal
Dari refleksi tersebut, ada 3 poin krusial yang ditekankan KOGANA: Mitigasi Dimulai dari Diri Sendiri Kesiapan medis adalah bagian integral dari pengurangan risiko bencana.
Ini adalah jaring pengaman agar tidak ada lagi korban yang terlambat tertangani karena akses atau fasilitas tidak siap. Sehebat apa pun respons di lapangan, tanpa koordinasi baik antara panitia, tim medis, dan fasilitas rujukan, sebuah acara hanyalah formalitas tanpa proteksi yang memadai.

Pembahasan Buku Kebencanaan dari KOGANA

 

Peserta Rapat Lintas Komunitas
Turut hadir dalam forum ini: Ariza Putra Kelana, Herri HT, Yanuarlin, dan Benny YP dari KOGANA. Dari kalangan praktisi hadir Muchtar dan Muliadi, serta Abdul Aziz dari Penasehat PW. Persis Sumut Peduli Lingkungan.

Forum ini akan merangkum seluruh kemampuan, praktik terbaik, dan pelajaran dari satu bencana ke bencana lainnya untuk dituangkan ke dalam Buku Saku.

“Berangkat dari peristiwa demi peristiwa, kita mengambil pelajaran yang paling berharga. Semoga buku saku ini bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa ke depan, dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” tutup Benny.

Pewarta: M. Ash Shiddiqy
Editor: Abdul Aziz