Medan-persatuannews.com. Kisah ini terjadi saat Umar bin Abdul Aziz baru saja memakamkan jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Usai berpidato pelantikan, Umar turun dari mimbar, pulang ke rumah, dan langsung masuk kamar untuk beristirahat.
Belum sempat merebahkan badan, putranya, Abdul Malik yang baru berusia 17 tahun, tiba-tiba masuk dan bertanya dengan cemas, “Wahai Ayah, apa yang hendak engkau lakukan?” Umar menjawab, “Aku ingin istirahat sebentar, tubuhku sangat letih.”
“Apakah Ayah bisa beristirahat, sementara rakyat masih dibayang-bayangi kezaliman?” tanya sang putra.”Anakku, semalam aku tidak tidur karena mengurus pamanmu, Sulaiman. Nanti setelah shalat Dzuhur, aku akan shalat bersama rakyat dan menyelesaikan persoalan mereka,” jawab Umar.
Baca juga :
- PW ISMI Jambi Siap Dilantik, PW ISMI Riau Terima Mandat ISMI Ekspansi ke Sumatera, Usung Melayu sebagai Mesin Penggerak Zaman
- Di tahun 2045 Indonesia Emas Atau Indonesia Bubar
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Lalu sang putra bertanya lagi, “Ayah, siapa yang menjamin umur Ayah sampai waktu Dzuhur?” Pertanyaan itu menghantam hati Umar. Ia tersentak, memeluk putranya, dan dengan lirih berkata, “Segala puji bagi Allah.” Seketika itu juga, Umar bangkit, kembali menemui rakyatnya dan berseru: “Barangsiapa yang memiliki tuntutan atas kezaliman yang dilakukan khalifah sebelumku, maka ajukanlah sekarang juga.” (Shuwar min Hayat at-Tabi’in 1/138)
Sejarah Islam pernah mencatat pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz. Sejarah bangsa ini pun pernah melahirkan tokoh-tokoh yang mengayomi rakyat: Buya Mohammad Natsir, Buya Hamka, Bung Hatta, Hoegeng Imam Santoso, dan Ir. Sutami. Begitu juga dengan para ulama dan pimpinan ormas yang menjadi teladan, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dan masih banyak yang lainnya.
Hari ini, kita merindukan sosok-sosok seperti itu. Kita rindu pemimpin yang mengayomi, bukan menakut-nakuti. Kita rindu ulama yang menasihati, bukan mencari panggung. Sebenarnya, menyelesaikan persoalan bangsa ini sederhana. Kita hanya perlu satu hal: pemimpin yang memiliki empat sifat utama. Amanah dalam menjalankan tugas, Siddiq atau jujur dalam perkataan dan perbuatan, Fathonah atau cerdas dalam melihat persoalan, dan Tabligh atau komunikatif dalam menyampaikan dan mendengar suara umat.
Karena sejatinya, umat tidak butuh janji yang indah. Umat hanya butuh pemimpin yang bisa dipercaya. Dalam konteks Sumatera Utara hari ini, kerinduan itu semakin terasa. Umat Sumut ingin pemimpin ormas yang punya integritas. Pemimpin yang memegang teguh sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.
Umat tidak ingin dipimpin oleh orang yang tidak mumpuni. Masyarakat ingin pemimpin umat yang berakhlak, dan benar-benar layak dipercaya. Karena ketika pemimpin ormas jujur, maka umat akan tenang. Ketika pemimpin ormas amanah, maka umat akan kuat.
Rasulullah ﷺ sendiri mendapatkan gelar Al-Amin, “Si Terpercaya”, jauh sebelum diangkat menjadi Nabi. Mendakwahkan risalah agung ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang punya mental Amanah, Siddiq, Fathonah, dan Tabligh.
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari & Muslim).
Maka, kriteria pemimpin bukan diukur dari retorika, tapi dari sejauh mana ia menjaga amanah dan kejujurannya.
Pesan Abdul Aziz pilihlah pengurus DD Sumut yang amanah.
Demikian disampaikan saat serah Terima aset Dewan Dakwah kepada Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Ade Salamun, dan Tjatur, di Rencong kuphi Jalan Karya Jaya pada Rabu (1/7/’26), disaksikan Radi.
- Penulis: Abdul Aziz, Pengamat Sosial Masyarakat.
- Sekretaris Bidang Komdigi MUI Sumatera Utara.
