Medan-persatuannews.com. Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.45 menjelang subuh tiba, namun langkah kaki Pak Dermawan sudah mantap menyusuri jalanan kompleks yang masih berkabut. Baginya, rahasia kebugaran di masa tua bukanlah ramuan ajaib, melainkan konsistensi dari rutinitas sederhana setiap paginya.
Masjid menjadi tujuan pertama setiap hari. Melaksanakan sholat subuh berjamaah bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga caranya mencari kedamaian hati dan bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Ketenangan spiritual inilah yang membuat wajahnya selalu tampak teduh dan segar.
Sepulang dari masjid, kebiasaan beliau tidak langsung kembali ke rumah untuk tidur. Ia memanfaatkan momen setelah subuh saat udara masih bersih dari polusi untuk berjalan kaki santai keliling masjid. Aktivitas ini menjaga otot-ototnya tetap fleksibel dan jantungnya tetap kuat memompa darah.
Suasana Ahad pagi di warung kopi Pak Dollah tampak lebih hidup dari biasanya. Aroma kopi hitam yang baru diseduh beradu dengan wangi teh hijau, pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan.
Di sudut meja kayu panjang, berkumpullah “koalisi lintas generasi”, Pak Dermawan, ayah dari Dadang yang meski sudah pensiun tetap terlihat bugar bersama Dadang, Arief, dan Narko. Masing-masing dengan stelan olah raganya pagi, setelah ber jogging dilapangan hijau.
Pak Dollah meletakkan secangkir teh hijau panas di depan Pak Dermawan sambil berseloroh, “Ini Pak, teh khusus pensiunan berjiwa muda. Teh hijau, tapi rasanya manis.” Canda pak Dollah.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Pak Dermawan tertawa renyah, matanya berbinar segar. “Nah, ini dia! Biar fisik melambat, yang penting semangat di dada tidak boleh ikutan pensiun. Dollah, teh hijaumu ini, harum dan enak dinikmati,” ujar pak Dermawan.
“Tapi beneran lho, Pak,” timpal Narto sambil mengunyah pisang goreng. “Pak Dermawan ini makin sepuh makin segar. Rahasianya apa sih? Jangan-jangan punya simpanan rahasia,?” canda Narto.
“Huss! Ngawur kamu, Narto!” Dadang menyenggol lengan sahabatnya itu sambil tertawa. “Bapak saya ini rahasianya cuma satu, ba’da Shubuh jalan pagi, tak mau kalah dengan yang muda.” Ujar Dadang.
Arief ikut nimbrung, mencoba sok tahu, “Ah, saya tahu. Pasti karena Pak Dermawan sering memposisikan diri sebagai ‘perpustakaan hidup’ buat kita-kita kan? Jadi otaknya jalan terus karena suka dengan anak muda,” sebut Arief.
“Bisa jadi, Rief,” kata Pak Dermawan sambil tersenyum hangat. “Tapi yang paling penting itu hati harus lapang. Menua itu pasti, tapi jadi orang tua yang bahagia dan penuh rasa syukur itu pilihan. Kalau ada masalah, bawa senyum saja seperti sekarang,” balas pak Dermawan.
“Wah, kalau itu sih saya setuju, Pak. Tapi kalau dompet yang kosong, dibawa senyum malah disangka kurang sehat, Pak!” canda Narto yang langsung disambut gelak tawa riuh dari seisi warung, termasuk Pak Dollah yang sedang mencuci gelas.
Obrolan Ahad pagi itu terus mengalir, berpindah dari bahasan kesehatan, politik, pajak, hingga lelucon masa muda Pak Dermawan yang selalu menarik untuk didengar. Di warung Pak Dollah hari itu, usia hanyalah sebuah angka, karena tawa dan kehangatan mereka telah menghapus jarak antar-generasi.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat
