Medan-persatuannews.com. Suasana siang hari di Warung Kopi Wak Dollah tampak hangat. Aroma kopi hitam beradu dengan wangi pisang goreng panas. Di sudut meja bundar favorit, empat sahabat—Wak Dollah, Pak Dermawan, Arief, dan Narto—sedang berkumpul menikmati suasana Sabtu.
“Nah, ini dia! Panjang umur!” seru Narto sambil menunjuk ke arah jalanan. Dari kejauhan, tampak seorang pria dengan kemeja sederhana mengendarai vespa lansiran tahun tujuh-tujuh, melambaikan tangan ke arah warung sebelum berbelok menuju komplek perumahan.
“Si Dadang?” tanya Pak Dermawan sambil membetulkan letak kacamata bacanya.
“Siapa lagi, Pak. Jam segini baru pulang kantor. Padahal hari Sabtu, PNS lain sudah pada rebahan atau jalan-jalan ke mall sama keluarganya,” sahut Arief sembari menyeruput kopi susunya.
Wak Dollah yang sedang mengelap meja di dekat mereka langsung menyahut dengan logat khasnya. “Heh, jangankan hari Sabtu. Hari biasa pun, kalau jam tujuh pagi kulihat dia sudah memanaskan keretanya itu. Macam dikejar absen pabrik.”
Narto tertawa kecil. “Kemarin kutanya dia, Wak. “Dang, kau kan kepala seksi, datang paling cepat, pulang paling akhir, apa tak capek?” Tahu kalian apa jawabnya? Dia cuma senyum terus bilang, “Tok, berkas di mejaku itu hak orang. Kalau kutunda satu hari, bisa jadi ada urusan warga yang terhambat sebulan. “Gaya betul bahasanya, tapi bikin terdiam aku.”
Pak Dermawan mengangguk-angguk takzim. Beliau melipat koran yang dipegangnya, lalu menatap ketiga orang di meja itu.
“Itulah yang namanya memegang amanah, Rief, Nar, Wak. Di dalam Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 58, Allah ﷻ sudah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” Si Dadang itu paham betul, kursi empuk di kantornya bukan fasilitas untuk gagah-gagahan, tapi beban pertanggungjawaban.”
“Tapi ya Pak,” Arief menyela sambil mencomot pisang goreng, “jujur sajalah kita. Di zaman sekarang, birokrat macam Dadang itu seperti makhluk langka. Orang lain sibuk cari ‘sampingan’, sibuk ganti mobil baru, dia… ah, jangankan mobil, vespanya saja kalau lewat depan rumahku bunyinya sudah macam mesin jahit tua,” ujar Arief dengan wajah yang serius.
“Hus! Jangan kau ejek vespa legendaris si Dadang itu,” potong Wak Dollah sambil melempar kain lapnya ke bahu, lalu ikut duduk di kursi kosong. “Tapi betullah kata si Arief. Kadang kasihan aku melihatnya. Di saat orang lain menganggap suap itu ‘uang rokok’ atau ‘tanda terima kasih’, si Dadang malah ketakutan kalau disodori amplop.”
Narto mencondongkan badannya ke depan. “Nah, soal amplop ini ada cerita lucu sekaligus bikin merinding, Wak. Bulan lalu, ada kontraktor proyek mau menitip ‘oleh-oleh’ ke ruangannya. Si Dadang menolak halus. Begitu kontraktornya maksa dan bilang ‘Ini Indonesia, Pak Dadang, jangan sok suci, nanti tersingkir’, Dadang cuma senyum.”
“Terus dia bilang apa?” tanya Arief penasaran.
“Dia bilang, ‘Justru karena ini Indonesia, Bang, aku mau tetap punya alasan untuk bangga di hadapan Allah nanti, kalau di negeri ini masih ada orang yang mau jujur.” Kontraktornya langsung pulang sambil garuk-garuk kepala,” kata Narto menirukan gaya Dadang.
Tawa kecil sempat pecah di meja itu, namun perlahan suasana berubah menjadi hening dan menyentuh.
Pak Dermawan menghela napas panjang. Tatapannya menerawang. “Nabi ﷺ pernah bersabda, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sifat amanah.” Si Dadang mungkin tidak kaya materi. Rumahnya tipe 36, anaknya tidak pakai barang-barang bermerek. Tapi kalian lihatlah wajahnya? Tenang sekali. Istrinya santun, anak-anaknya berbakti. Dia tahu, kalau tangan kita kotor karena harta haram, do’a-do’a kita juga ikut terhijab.”
“Betul, Pak,” kata Arief, suaranya kini merendah, tidak lagi penuh canda seperti tadi. “Pernah suatu malam saya melihat dia menemani anaknya belajar di teras rumah hanya pakai lampu bohlam kuning yang hemat energi. Sederhana sekali. Saya yang melihatnya jadi malu sendiri. Kita yang bukan pejabat saja kadang masih suka mengeluh kurang.”
Wak Dollah menepuk pundak Arief pelan. “Itulah, Rief. Di dunia ini ada dua jenis manusia yang bila diberi kesempatan duduk di kursi jabatan. Ada yang sibuk menghitung berapa yang bisa diambil, ada yang sibuk bertanya-tanya apakah kerjanya hari ini sudah halal atau belum. Si Dadang itu memilih jalan yang sunyi. Karirnya mungkin lambat karena dia jadi ‘batu sandungan’ buat orang-orang yang mau culas. Tapi dia tidak peduli.”
“Dia mengingatkan aku pada kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang melegenda itu, Wak,” tambah Narto dengan mata yang agak berkaca-kaca. “Yang mematikan lampu minyak negara saat anaknya mau bicara urusan pribadi. Si Dadang mungkin bukan khalifah, tapi di level kecilnya sebagai birokrat, dia menghidupkan kembali ruh kejujuran itu.”
Pak Dermawan tersenyum hangat, memandang gelas-gelas kopi yang mulai mendingin di atas meja.
“Kelak, di hari kiamat,” ucap Pak Dermawan dengan nada bergetar, “ketika banyak orang datang memikul beban korupsi dan harta haram yang dulu mereka anggap biasa di dunia, Dadang akan berjalan dengan sangat ringan. Tangannya kosong dari harta haram, tapi hatinya penuh dengan keberkahan amanah. Dia adalah bukti, bahwa menjadi orang baik di tengah sistem yang rusak itu bukan hal yang mustahil.”
“Amin… Semoga dia selalu dijaga Allah,” ucap Narto pelan, yang diamini oleh semuanya.
“Sudah, sudah, jangan terlalu sedih,” kata Wak Dollah tiba-tiba berdiri sambil menepuk meja, mencoba mencairkan suasana. “Karena kita sedang membicarakan birokrat teladan yang jujur, maka siang ini… kopi kalian tetap harus dibayar masing-masing! Tidak ada subsidi atau suap di warung ini!”
“Yah, Wak! Kirain mau digratiskan karena suasananya lagi syahdu!” seru Arief disambut tawa lepas dari Narto dan Pak Dermawan.
Siang itu, di Warung Kopi Wak Dollah, sebuah cerita tentang kejujuran seorang Dadang telah melembutkan hati mereka, di bawah langit Sabtu yang perlahan bergeser menuju sore.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat










