Mimpi Anak Negeri Untuk Ibu Pertiwi

Rasulullah ﷺ  bersabda saat meninggalkan Mekah: "Demi Allah, sungguh engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Andai kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu." (HR. Tirmidzi No. 3925)

Medan-persatuannews.com. Hidup ini sepenuhnya adalah rahasia Sang Pencipta. Ia menghadirkan fragmen demi fragmen penuh makna…
Ada pertemuan, ada perpisahan. Ada tawa, ada air mata.

Namun satu hal yang senantiasa terpatri dalam sanubari: cinta negeri ku
Ungkapan ini tidak berlebihan. Karena cinta pada tanah air adalah bagian dari iman.

Rasulullah ﷺ  bersabda saat meninggalkan Mekah:
Demi Allah, sungguh engkau adalah negeri Allah yang paling aku cintai. Andai kaumku tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar darimu.” (HR. Tirmidzi No. 3925)

Di momentum HUT RI ke-81 ini, kita patut menoleh ke belakang. Jauh sebelum bendera merah putih berkibar.

Ada ungkapan indah dari pemikir Islam modern, Imam Hasan Al-Banna:
“Haqaa-iqul yaumi ahlaamul amsi, wa ahlaamul yaumi haqaa iqul ghadi.”
“Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.”

Dulu Mereka Bermimpi, Kita yang Menikmati
Coba jujur melihat sejarah.
Jauh sebelum 1945, para pendahulu kita sudah bermimpi. Mimpi tentang negeri yang merdeka, umat yang tercerahkan.

1905 lahir Sarekat Islam. 1908 Budi Utomo. 1912 Muhammadiyah. 1923 PERSIS. 1926 NU. 1930 Al-Washliyah.
Satu demi satu organisasi lahir. Tujuannya satu: mencerdaskan umat, melepaskan dari cengkeraman penjajah.

Pada 1928. Para pemuda berkumpul. Beda suku, beda bahasa, beda pulau. Tapi satu sumpah:
Bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu.

Allah juga memerintahkan kita bersatu:
Dan berpeganglah teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Google Image. Indahnya Negeriku. Negeri Yang Kucintai

Mereka bermimpi. Mereka berjuang. Mereka mati-matian.
Dan hari ini… mimpi mereka jadi kenyataan kita. Kita hidup di negara merdeka.

Lalu pertanyaannya: Mimpi apa yang sedang kita tanam untuk 20 tahun lagi?

Bagaimana Menyikapinya?
Ini PR kita di usia Republik Indonesia 81 tahun merdeka.
Dulu bermimpi merdeka dari penjajah.
Sekarang kita diuji: merdeka dari apa?

Dulu pemuda turun ke jalan. Sekarang banyak pemuda turun ke kolom komentar. Jago kritik, tapi rendah aksi.
Padahal Allah berfirman:
Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...” (QS. At-Taubah: 105)

Merdeka dari Penjajahan Digital
Judi online, pinjol, konten sampah, narkoba. Ini penjajahan model baru. Menjajah otak, menjajah dompet, menjajah masa depan.

Hafal lirik K-Pop tapi lupa Pancasila. Tahu sejarah luar negeri tapi buta sejarah NU, Muhammadiyah, Sumpah Pemuda.

Cinta pada negeri, sejarah, dan identitas adalah bagian dari keimanan itu.

Problem kita hari ini bukan lagi penjajah berseragam. Tapi penjajah yang masuk lewat layar ponsel.

Banyak dari rakyat terlilit pinjol dan judi online karena ingin “kaya cepat”.
Hidupkan lagi semangat Sarekat Islam. Semangat berkoperasi, berwirausaha, tolong-menolong. Jangan jadi konsumen terus. Jadi produsen.

Seperti para pendiri organisasi dulu. Mereka punya mimpi besar untuk umat. Kita juga harus punya. Mau jadi apa 10 tahun lagi? Untuk siapa karya kita?

Penutup
Kenyataan hari ini adalah mimpi orang-orang hebat 100 tahun lalu.
Maka mimpi kita hari ini, adalah kenyataan anak cucu kita nanti.

Jangan biarkan mereka mewarisi negeri yang utangnya menumpuk, akhlaknya rusak, dan sejarahnya dilupakan.

Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat:
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” HR. Ahmad

Dirgahayu Indonesia ke-81.

Wallahu a’lam bishawab.

  • Penulis: Abdul Aziz
  • Pengamat Sosial dan Lingkungan