Warung Kopi Wak Dollah : Anggur buah Segar yang Minumannya di Haramkan.

“Setelah kadar alkoholnya naik, minuman ini berubah sifat menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan. Hukum zat memabukkan, di sinilah hukum fikih masuk. Islam melarang khamr bukan karena tak suka buah anggurnya, tapi karena efek memabukkannya bisa merusak akal sehat,” jelas Wak Dollah.

Medan-persatuannews.com. Di sudut Warung Wak Dollah aroma kopi Robusta, Arabika terasa harum dan menyegarkan. Suasana sore itu mendadak serius. Narto, dengan wajah sok tahu, melontarkan pertanyaan yang bikin Wak Dollah hampir salah menuang gula.

Narto berjalan membawa beberapa tangkai buah anggur yang terlihat masih segar. “Dari mana kau Tok”. Sapa  Wak Dollah yang sedang mengaduk teh hangat. “itu anggur yang kau bawa?”. Manis, cak Wak cobain !”. “ manis lah Wak, mau,” ujar Narto.

“Wak, sebetulnya siapa sih manusia pertama yang iseng nemuin buah anggur? Terus tahun berapa? Kok bisa-bisanya setelah diperas jadi minuman, hukumnya jadi haram diminum?”

Wak Dollah menghela napas panjang, meletakkan kain lapnya setelah menyuguhkan teh manis hangat ke Narto, lalu menarik kursi. Kalau Wak Dollah sudah duduk, artinya kuliah gratis jalur warung kopi resmi dimulai.

“Tok,” kata Wak Dollah sambil menunjuk segelas air putih. “Kalau kau tanya tahun berapa persisnya anggur ditemukan, jangankan kalender Masehi, kalkulator tercanggih pun bisa hang ngitungnya. Para ahli sejarah memperkirakan manusia sudah mulai akrab dengan anggur sejak zaman Neolitikum, sekitar 6.000 hingga 8.000 tahun sebelum Masehi!”

Baca juga :

  1. Warung Kopi Wak Dollah : Ghibah di Media Sosial
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Dadang yang duduk dipojokan melotot. “Lama kali, Wak? Berarti sebelum ada Firaun ya Wak?”. “Iya, jauh! Setahu Uwak, wilayah pertamanya itu di sekitar pegunungan Kaukasus sekarang daerah Georgia, Armenia, atau Iran. Jadi, penemu pertamanya bukan emak-emak lokal yang lagi bagi nasi jum’at berkah, tapi masyarakat kuno di sana yang melihat buah gelantungan berwarna ungu dan hijau, lalu mikir, ‘Eh, ini kalau dimakan manis, kalau disimpan kok bikin pusing tapi enak ya ?”

“Nah, ini bagian pentingnya,” Wak Dollah mengetuk meja, membuat Arief yang sedari tadi mendengar menyondong badannya ke depan. “Anggur itu sebetulnya buah yang mulia. Di dalam Al-Qur’an pun berkali-kali disebut sebagai buah surga. Makan anggur segar? Halalan toyyiban, menyehatkan, banyak vitaminnya.”

“Terus kenapa pas jadi cairan di dalam botol langsung divonis haram, Wak?” tanya Narto penasaran.

“Bukan cairannya yang salah, Tok, tapi proses pembusukannya yang disengaja alias fermentasi,” jelas Wak Dollah.

“Dalam Islam, perubahan status ini terjadi karena zat baru yang tercipta. Proses alami yang kebablasan. Ketika air anggur diperas dan didiamkan, ragi alami akan mengubah gula di dalamnya menjadi alkohol (etanol) dan karbon dioksida”.

“Setelah kadar alkoholnya naik, minuman ini berubah sifat menjadi khamr, sesuatu yang memabukkan. Hukum zat memabukkan, di sinilah hukum fikih masuk. Islam melarang khamr bukan karena tak suka buah anggurnya, tapi karena efek memabukkannya bisa merusak akal sehat,” jelas Wak Dollah.

“Logikanya gini,…,” Wak Dollah tersenyum lebar. “Waktu masih jadi buah, anggur bikin mata segar dan dompet bergetar karena mahal. Tapi begitu jadi khamr, dia mengunci akalmu. Kalau akal sudah hilang, kau bisa mengira tiang listrik di depan warung ini jodohmu yang tertukar. Itu makanya diharamkan, demi menjaga keselamatan akalmu sendiri!”

Dadang, Narto dan Arief manggut-manggut, tampaknya tercerahkan. “Oh… gitu ya, Wak. Berarti kalau jus anggur di kulkas saya udah seminggu sampai rasanya agak nyengat dan bikin melayang, itu udah auto-pensiun dari status halal ya Wak?”

“Itu namanya kau sengaja melihara bibit maksiat di kulkas,! Cepat-cepat kau buang!,” omel Wak Dollah sambil tertawa, kembali berdiri untuk menyeduh pesanan pelanggan lain.

“Tunggu dulu, Wak!” Dadang yang dari tadi sibuk mengunyah pisang goreng ikut angkat bicara. “Kalau anggur purba itu dari Kaukasus, berarti mereka dulu nggak pakai ragi sasetan dong buat bikin minuman? Kok bisa kepikiran bikin fermentasi?”

Sebelum Wak Dollah menjawab, Narto langsung menyenggol lengan Dadang sampai pisang gorengnya hampir jatuh. “Ah, Dang! Namanya juga zaman Neolitikum.

Pasti ada yang lupa nyimpan buah anggur di dalam gentong batu, ditinggal berburu mammoth, pas balik udah berubah jadi air ajaib. Jangan-jangan penemu pertamanya itu bukan sengaja, tapi lupa! Ha…ha…ha”.

Percakapan sore semakin seru menyangkut buah anggur, setelah jadi minuman justru haram dikonsumsi. Dadang berdiri, disusul Narto, “ Rief, jangan lupa minuman belum dibayar, kopi, teh dan gorengan, hari ini yang digratiskan cerita anggurnya,…ha..ha..ha..,” canda Wak Dollah.

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat