Warung kopi Wak Dollah : Antrian BBM, Keluh Kesah Warga.

Sambil mengipasi lehernya pakai koran bekas Dadang duduk dikursi kayu Panjang, "Aduh, Wak Dol! Kopi dingin satu, banyakan es nya! Bisa jantungan aku lama-lama tengok antrean di SPBU tadi. Kereta mogok, kaki gempor, hampir saja aku baku hantam sama orang yang motong jalur!"

Medan-persatuannews.com. Suasana di Warung Kopi Wak Dollah sore itu mendadak riuh rendah. Suara dentingan cangkir beradu dengan keluh kesah khas warga yang baru selesai berjuang di jalanan Kota Medan.

Sambil mengipasi lehernya pakai koran bekas Dadang duduk dikursi kayu Panjang, “Aduh, Wak Dol! Kopi dingin satu, banyakan es nya! Bisa jantungan aku lama-lama tengok antrian di SPBU tadi. Kereta mogok, kaki gempor, hampir saja aku baku hantam sama orang yang motong jalur!”

Arief ikutan menimpali sambil sibuk main handphone, “Betul itu, Dang! dua jam aku mengantri demi dua liter pertalite. Mana panasnya minta ampun. Betul-betul krisis kita sekarang ya.”

Mbak Lastri yang kebetulan lagi memesan gorengan untuk dibawa pulang, “Halah, kalian berdua baru mengantri minyak aja udah ribut satu kelurahan. Tengok ibu-ibu di pasar, mengantri beras sama minyak goreng ba’da subuh sampai anak kesekolah gak ada yang ngeluh sekencang kalian!”

Baca juga :

  1. Warung Kopi Wak Dollah : Ghibah di Media Sosial
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Narto, sambil senyum-senyum simpul, “Tapi kan kasihan juga kereta si Dadang, Mbak Lastri. Kalau minyaknya habis, mana bisa dia jalan menjemput rezeki?”

Mendengar perdebatan rame diwarungnya, Wak Dollah meletakkan nampan berisi kopi pesanan dengan pelan, lalu menepuk pundak Pak Dermawan yang sejak tadi diam menyimak sambil memegang teh hijaunya.

Wak Dol, “Pak Dermawan, tengoklah anak-anak muda kita ini. Kuat-kuat kali fisiknya kalau urusan mengantrei minyak. Sampai berjam-jam pun tahan berdiri di bawah terik matahari.”

Pak Dermawan, menghela napas pelan sambil tersenyum teduh, “Iya, Wak Dol. Rela kita berpayah-payah supaya mesin kendaraan kita tetap hidup dan tidak mogok di tengah jalan…”

Wak Dollah langsung menyambar dengan gaya khasnya, “Nah! Itu dia!. Kendaraan mogok di Jalan Sisingamangaraja atau Jalan Gaperta, paling banter didorong ke pinggir jalan. Masih bisa diselamatkan. Tapi…,” Wak Dollah menatap tajam ke arah Dadang dan Arief “…kalau hati kita yang mogok kehabisan iman, mau ditolak pakai apa nanti di akhirat, Dang? Rif,?” Dadang & Arief seketika terdiam, saling berpandangan.

“Kita takut setengah mati kereta kita kehabisan minyak. Tapi pas muazin manggil, ‘Hayya ‘alas-Shalah’, cuma lima menit, ruangan masjid dingin pakai AC, sajadah empuk, kaki kita kok rasanya berat kali melangkah?, Saf subuh kita biarkan kosong melompong”, ujar Wak Dollah.

“Jangan sampai kita sibuk mengantri minyak, karena takut terhimpit krisis dunia, tapi nanti di akhirat kita malah kelimpungan karena tangki amal kita kosong melompong. Sempit di dunia itu cuma sementara, tapi kalau sudah sempit di akhirat, mau minta tolong sama siapa kita?”

Narto mengusap wajahnya, “Astagfirullah…, kena mental aku, Wak Dol. Masuk langsung ke ulu hati,” ujar Narto.

Mbak Lastri, sambil menunjuk Dadang dan Arief, “Dengar itu kalian berdua! Jangan cuma tangki kereta aja yang diisi penuh, tangki iman di dada juga musti diisi biar gak mogok di jalan akhirat!”

Pak Dermawan sambil tersenyum, “Alhamdulillah, nasihat Wak Dollah hari ini manisnya melebihi gula aren di kopi hangat dari Sidikalang. “Yuk, bentar lagi masuk waktu ashar, siap-siap. Pilih saf paling depan, mengisi penuh tangki iman kita.”

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat