Warung Kopi Wak Dollah : Hati-hati Dunia bisa Menipumu

Wak Dollah yang cekatan menyeduh kopi pesanan, "Hahaha! Tapi bagus itu, daripada sibuk di rumah aja. Ini kopi sengaja tak kasih gula dikit, biar kalian sadar..., hidup ini emang pahit kalau cuma diisi kerja, kerja, kerja, tapi lupa gerak dan lupa nikmatin hasilnya!"

Medan-persatuannews.com. Ahad pagi, waktu menunjukkan pukul 09.15. Pak Dermawan, Arief, Dadang Narto, dan Mbak Lastri baru saja jalan kaki menyeberang dari Taman Ahmad Yani di Jalan Sudirman, setelah joging tipis-tipis dari jam 7.00 tadi. Dengan baju training yang masih agak basah oleh keringat, mereka langsung menyerbu warung kopi Wak Dollah yang letaknya tak jauh dari situ.

Dadang, langsung mengempaskan badan ke kursi panjang, meluruskan kaki sambil kipas-kipas pakai handuk kecil, “Aduh Wak… kopi tubruk satu, manis ya! Asli, joging dua jam di taman Ahmad Yani tadi bukan bikin sehat, malah bikin saya sadar kalau dengkul ini sudah minta pensiun dini,” ujar Dadang.

Mbak Lastri yang uduk di pojokan warung, masih pakai jaket parasutnya, spontan, “Halah, Kang Dadang mah kebanyakan duduk di bangku taman sambil ngeliatin orang jualan jajan! Tadi aja gayanya paling semangat pas start jam 7, giliran jam 8 lewat udah nyari-nyari tukang bubur ayam.”

Wak Dollah yang cekatan menyeduh kopi pesanan, “Hahaha! Tapi bagus itu, daripada sibuk di rumah aja. Ini kopi sengaja tak kasih gula dikit, biar kalian sadar…, hidup ini emang pahit kalau cuma diisi kerja, kerja, kerja, tapi lupa gerak dan lupa nikmatin hasilnya!”

Pak Dermawan sibuk memperbaiki posisi duduk celana training-nya, tersenyum bijak, “Betul itu, Wak. Zaman sekarang banyak orang terjebak ritme cepat. Kejar target, perluas usaha, bangun karier sampai lupa waktu, bahkan lupa olahraga. Giliran sukses, yang dinikmati cuma struk tagihan rumah sakit karena asam lambung naik atau kolesterol tinggi. Kita sering ketipu sama yang namanya ‘sibuk’ urusan dunia.”

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Arief yang santai dipojokan sambil meneguk air mineral, lalu membuka HP-nya, “Wah, pas banget Pak Dermawan! Ini saya pas istirahat joging tadi baca tulisan Jendela Fajar di grup WhatsApp. Di situ diingatkan dari Surah Al-Hadid ayat 20, kalau kehidupan dunia itu emang banyak main-main, perhiasan, dan megah-megahan, ujung-ujungnya memperdayakan alias nipu kalau kita nggak sadar akhirat.”

Narto menghela napas panjang, pura-pura mijit jidat, “Aduh, Rief… jangankan mikir megah-megahan akhirat. Saya ini dari subuh sebelum joging udah sibuk. Sibuk nyari kunci motor yang rupanya dari tadi nyelip di kantong celana training sendiri. Itu termasuk ketipu kesibukan duniawi atau ketipu faktor U ya?”

Mbak Lastri tertawa sambil berkacak pinggang, “Itu mah kurang fokus namanya, Kang! Tapi bener lho, Pak Dermawan. Zaman sekarang, jangankan bapak-bapak, ibu-ibu aja sibuknya minta ampun. Sibuk bikin konten pas joging, sibuk scrolling medsos, sampai kadang lupa waktu. HP-nya makin pintar pakai AI, yang punya HP malah makin linglung!”

Wak Dollah tertawa renyah sambil meletakkan cangkir kopi panas, “Nah, makanya! Makna hadis yang sering kita dengar itu dalam banget: manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara. Waktu luangmu sebelum sibukmu, sehatmu sebelum sakitmu. Jangan sampai saking sibuknya nyari nafkah, kita lupa siapa yang ngasih rezeki dan kesehatan. Giliran rezeki lancar tapi ibadah bolong-bolong, ah… hati-hati, bisa jadi itu istidraj.”

“Bener, Wak. Dunia ini cuma tempat singgah, akhirat tempat kembali yang terbaik. Boleh kita punya usaha maju, teknologi canggih, baju training keren, tapi semua itu harus jadi sarana ibadah dan jaga amanah tubuh yang sehat. Jangan dibalik, malah menjauhkan kita dari Yang Maha Kuasa,” kata pak Dermawan.

Dadang melihat Mbak Lastri mengeluarkan kotak camilan, “Mantap! Kalau gitu, demi menjaga keseimbangan dunia dan akhirat, serta menghargai waktu luang setelah joging… pisang goreng bawaan Mbak Lastri ini saya amankan dulu ya. Biar nggak ketipu sama kesibukan orang lain yang mau ngambil!”

Mbak Lastri melirik kotak cemilannya, “Eeeh… dasar Kang Dadang! Modal joging dua jam cuma buat ngabis-ngabisin cemilan!”. Semua tertawa renyah di warung kopi, memecah lelah setelah olahraga pagi.

  • Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat