Mereka Menyembunyikan Kebenaran, Menyeru Kepada Kesesatan

Sejarah mencatat betapa besarnya jasa para ulama dalam menjaga agama, membangun peradaban, dan membimbing umat. Di Indonesia, mereka berada di barisan terdepan membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajahan, mendidik masyarakat, serta menjaga persatuan dan akhlak bangsa.

Agama, Pencerahan101 Dilihat

MEDAN-persatuanews.com. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia menuju kebenaran. Karena itu Allah ﷻ mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu sebagai bentuk kemuliaan atas keimanan dan amanah ilmu yang mereka emban.

Allah ﷻ berfirman :

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah 2:42)

Sesungguhnya, para ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia karena mereka adalah pewaris para nabi. Tugas mereka bukan sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menjaga kemurnian Islam.

Allah ﷻ berfirman :

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah 58:11)

Membangun Peradaban.
Sejarah mencatat betapa besarnya jasa para ulama dalam menjaga agama, membangun peradaban, dan membimbing umat. Di Indonesia, mereka berada di barisan terdepan membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajahan, mendidik masyarakat, serta menjaga persatuan dan akhlak bangsa.

Karena itulah wafatnya seorang alim merupakan musibah besar bagi umat. Semakin sedikit ulama yang wafat digantikan oleh generasi yang kokoh ilmunya, sementara semakin banyak orang berbicara tentang agama tanpa landasan ilmu, maka semakin besar peluang munculnya kesesatan di tengah masyarakat.

Rasulullah ﷺ bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada para hamba. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka dimintai fatwa, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Peringatan Keras
Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras kepada orang yang mengetahui kebenaran tetapi sengaja menyembunyikannya demi kepentingan dunia.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat.” (QS. Al-Baqarah 2:159)

Ayat ini menjadi peringatan bagi siapa saja yang mengetahui kebenaran, namun sengaja menutupinya, memutarbalikkan dalil, atau menyampaikan agama sesuai kepentingan hawa nafsu, kedudukan, maupun keuntungan dunia. Perbuatan seperti ini bukan sekadar kesalahan pribadi, tetapi dapat menyeret banyak orang kepada kesesatan.

Dampaknya sangat besar. Yang hak dapat dianggap batil, sementara yang batil dipandang benar. Jika masyarakat telah mempercayai seseorang sebagai rujukan agama, maka penyimpangan yang disampaikannya dapat merusak akidah, ibadah, dan cara berpikir banyak orang.

Allah ﷻ berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Kecuali mereka yang bertobat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima tobatnya. Dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah 2:160)

Perhatikanlah bahwa taubat mereka memiliki tiga syarat: bertaubat kepada Allah, memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan, serta menjelaskan kembali kebenaran yang dahulu disembunyikan atau diputarbalikkan.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.”
(HR. Ad-Darimi dan Abu Dawud Ath-Thayalisi)

Peringatan ini mencakup setiap pemimpin yang menyeru kepada kesesatan, baik karena kebodohan maupun karena sengaja memalingkan manusia dari petunjuk Allah. Oleh sebab itu, umat Islam diperintahkan untuk selalu merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah yang sahih, dan penjelasan para ulama yang dikenal amanah, berilmu, serta istiqamah.

Fitnah Mudah Menyebar
Di era media digital saat ini, fitnah semakin mudah menyebar. Potongan ceramah, kutipan ayat yang dipisahkan dari konteksnya, serta opini yang dibungkus dengan dalil dapat dengan cepat memengaruhi masyarakat.

Karena itu setiap muslim hendaknya berhati-hati, melakukan tabayyun, tidak mudah menyebarkan informasi agama sebelum jelas sumbernya, serta senantiasa memohon petunjuk kepada Allah ﷻ agar diberikan pemahaman yang benar.

Semoga Allah ﷻ menjaga para ulama yang ikhlas, menambahkan keberkahan kepada para penuntut ilmu, serta melindungi umat ini dari fitnah orang-orang yang menyembunyikan kebenaran atau menyeru kepada kesesatan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

  • Penulis: Tauhid Ichyar,
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat