MEDAN-persatuannews.com. Berinteraksi mempunyai banyak cara dan sangat berperan besar dalam membangun hubungan yang dan sehat, baik di rumah, kantor, maupun lingkungan sosial. Saat pesan yang disampaikan jelas dan penuh empati, kemungkinan terjadi salah paham akan jauh lebih kecil, dan hubungan dengan orang lain terasa lebih nyaman.
Era informasi digital kita disuguhi berupa kemudahan dalam mengakses berita, baik melalui internet, medsos, bahkan A1 dan lain sebagainya. Revolusi Industri 4.0 adalah transformasi komprehensif dari keseluruhan aspek produksi di industri melalui penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. Ini adalah gabungan lompatan teknologi.
Lompatan teknologi Industri tidak berhenti pada tataran 4.0 namun saat ini sudah masuk pada era Society 5.0 ini adalah konsep masyarakat cerdas (super smart society) yang berpusat pada manusia ( human centered) dan berbasis teknologi. Konsep ini dicetuskan pada tahun 2016 untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial dengan memanfaatkan inovasi modern seperti kecerdasan buatan (AI), internet untuk segala (IoT) dan big data guna meningkatkan kualitas hidup manusia.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Menyahuti teknologi yang sangat cepat peran ulama dalam berdakwah sangat ditunggu dan dibutuhkan masyarakat. Untuk itu dalam pemanfaatan aplikasi seorang dai, ulama yang hendak menyentuh dunia maya perlu menyadari bahwa tanah yang akan dimasuki bukan lagi ‘jamaah konvensional, ulama perlu memahami media yang digunakan nya dalam berdakwah telah berubah mengikuti perkembangan zaman, para mubaligh, dai, ulama harus mengikuti media highlight dari waktu ke waktu.
Ulama harus sadar ia sedang menggunakan media yang terus berubah setiap saat. Kehadiran ulama di era digital sangat dibutuhkan umat. Sebagian masyarakat menanti kehadiran ulama di medsos untuk melihat atau mengetahui suatu masalah dalam perspektif Islam, bagaimana pandangan ulama tentang perilaku menyimpang seperti LGBT dan lain sebagainya.
Di era digital update tentang literasi media perlu terus diasah. Kalau dibandingkan era sebelum nya dakwah di publish di media cetak, setelah teks dibaca lama-lama akan hilang bisa jadi pembungkus. Beda dengan informasi digital bisa dibagi di komunitas, grub serta bisa bertahan lama.
Ulama harus paham tentang pengolahan isu, lebih responsif, membuka diri terhadap masalah yang terjadi di media sosial, dan setiap aplikasi mempunyai ciri khas masing-masing. Konten-konten yang dibuat oleh para ulama juga perlu menyasar kalangan generasi milenial, sehingga dengan demikian, perlu sekali dibuat semacam pelatihan tentang konten-konten yang membuat anak-anak muda menjadi tertarik melihatnya.
- Penulis : Abdul Aziz, ST
- Sekretaris Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital MUI Sumut.
