MEDAN-persatuannews.com. Sore itu, angin sepoi-sepoi menggoyangkan dedaunan di depan Warung Kopi Wak Dollah. Pak Dermawan sedang menyeruput teh manis hangatnya, sementara Narto dan Dadang asyik main catur. Mbak Lastri sibuk merapikan toples kue, dan Arief sibuk bolak-balik melihat layar ponselnya.
“Fokus kali kau, Rief? Lagi mikiri antrian isi BBM atau nyari promo minyak goreng?” celetuk Narto sambil menggeser benteng caturnya.
Arief menoleh sambil tertawa. “Bukan, Tok! Ini lho, aku baru baca kalau hari ini, tanggal 28 Juli, ada dua peringatan penting sekaligus, Hari Hepatitis Sedunia sama Hari Konservasi Alam Sedunia.”
Wak Dollah yang lagi mengelap meja langsung menyahut, “Oalah…, Hepatitis sama Konservasi Alam? Hubungannya apa itu, Rief? Yang satu urusan badan kita, yang satu urusan hutan?”
Pak Dermawan tersenyum mesra, menurunkan cangkir tehnya. “Nah, justru di situ menariknya, Wak. Dua-duanya sama-sama ngomongin soal menjaga asset yang sering kita sepelekan sampai dia rusak.”
Mbak Lastri mendatangi meja sambil membawa piring gorengan panas. “Duh, Pak Dermawan kalau ngomong suka bener tapi nusuk. Maksudnya gimana tuh, Pak?”
“Gini, Mbak Lastri…” Pak Dermawan menjelaskan. “Hepatitis itu kan menyerang hati. Hati kita itu diam-diam kerja keras menyaring racun dari makanan dan gaya hidup kita yang asal-asalan. Mirip sama alam. Bumi ini nyaring polusi dan ngasih kita udara segar, tapi sering kita acuhin, kita buang sampah sembarangan, kita rusak.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Dadang yang dari tadi diam langsung nyeletuk sambil menunjuk Narto. “Pantaslah si Narto ini hatinya sering korosi! Gaya hidupnya sembarangan, hobinya makan gorengan lima tapi ngakunya dua!”
“Muka kau yang korosi, Dang!” potong Narto tertawa. “Tapi bener juga sih… Kalau hati kita rusak kena hepatitis, kita yang merana. Kalau alam rusak, kita juga yang kena banjir sama panas bedengkang gini.”
Wak Dollah mendaratkan badannya di kursi kosong. “Berarti intinya, dua-duanya butuh perhatian dan kasih sayang ya. Jangan cuma pas sakit baru ingat dokter, jangan pas banjir baru ingat nanam pohon.”
“Betul kali itu, Wak!” sahut Arief. “Makanya Hari Hepatitis Sedunia mengingatkan kita buat tes kesehatan, vaksinasi, dan jaga pola makan. Sedangkan Hari Konservasi Alam mengingatkan kita buat kurangi plastik, hemat air, dan jaga lingkungan sekitar.”
Mbak Lastri tersenyum manis sambil melipat tangannya. “Wah, keren ya. Jadi mulai hari ini, kita harus jaga dua ‘hati’. Hati di dalam tubuh, dan ‘Hati’ bumi tempat kita tinggal.”
“Satu lagi Mbak Lastri…” tambah Dadang sambil nyengir kuda, “…jaga hati nih juga dong.” “Huuuuu!” seru seisi warung kopi kompak. Mbak Lastri hanya tertawa sambil menepiskan serbetnya ke arah Dadang.
Pak Dermawan menepuk bahu Dadang pelan. “Boleh canda, Dang. Tapi ingat, menjaga kesehatan diri dan alam itu bukan cuma tugas pemerintah atau dokter. Itu dimulai dari cangkir kopi kita, dari sampah yang kita buang pada tempatnya, dan dari piring makanan yang kita pilih sore ini.”
Wak Dollah mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi. “Setuju! Mari kita tos pakai kopi! Selamat Hari Hepatitis Sedunia dan Hari Konservasi Alam Sedunia! Jaga hati, jaga bumi, biar kita bisa ngopi bareng sampai anak cucu!”
“Lho, Wak… Tadi kopi saya mana?” tanya Narto kebingungan melihat mejanya kosong.
“Sudah diminum Dadang tadi, Tok! Katanya demi ‘menjaga alam’ biar nggak ada sampah sisa kopi!” tawa Wak Dollah meledak, disambut gelak tawa riuh seluruh warga warung di sore yang hangat itu.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Anggota Sosial dan Bencana MUI Sumut , Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat
