Roda kehidupan : Menemukan Pelangi di Balik Sun Shower

Kadang kala, masalah, kekecewaan, dan beban berat datang tak diundang—layaknya guyuran hujan deras yang membasahi seluruh sudut hati. Namun, di tengah kepungan badai itu, rahmat, pertolongan, dan kasih sayang Allah tidak pernah benar-benar padam. Cahaya-Nya tetap ada, menyinari sisi-sisi yang tak kita duga.

MEDAN-persatuannews.com. Pernahkah kamu memperhatikan fenomena sun shower? Sebuah momen unik tatkala hujan deras mengguyur bumi, tetapi di saat yang bersamaan, sinar matahari tetap memancar dengan begitu indahnya. Tetesan air hujan yang jatuh berderai itu mendadak menjadi ribuan prisma kecil, menangkap cahaya putih lalu membiaskannya menjadi lengkungan pelangi yang memikat mata.

Begitu pulalah sejatinya gambaran roda kehidupan yang kita jalani. Kadang kala, masalah, kekecewaan, dan beban berat datang tak diundang—layaknya guyuran hujan deras yang membasahi seluruh sudut hati. Namun, di tengah kepungan badai itu, rahmat, pertolongan, dan kasih sayang Allah tidak pernah benar-benar padam. Cahaya-Nya tetap ada, menyinari sisi-sisi yang tak kita duga.

Di sinilah peran sebuah hati yang jernih. Hati yang bening tidak akan meratapi basahnya hujan, melainkan akan menggunakan setiap tetes ujian sebagai prisma kehidupan—mencerna setiap duka menjadi hikmah, mengolah derita menjadi pelajaran, hingga akhirnya melahirkan warna-warna indah pelangi dalam jiwa.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Menariknya, di balik derasnya riak hujan dan riuknya kesibukan dunia, Allah selalu menitipkan sebaris “jeda”. Jeda itu hadir dalam bentuk-bentuk yang sederhana: secangkir kopi hangat yang mengepulkan aroma ketenangan, sekerat singkong rebus yang bersahaja, atau sekadar kesempatan untuk duduk sejenak sambil menarik napas dalam-dalam.

Meresapi jeda ini bukanlah tanda bahwa kita menyerah atau berhenti berjuang. Jeda adalah sarana untuk menyegarkan kembali pikiran yang buntu, mengistirahatkan raga yang lelah, dan menata ulang niat sebelum kembali melangkah melintasi jalan panjang di depan. Sebab, hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan dalam ketergesaan, kepanikan, dan rasa cemas yang tak bertepi.

Hujan turun untuk mengajari kita tentang indahnya kesabaran. Matahari tetap bersinar untuk mengingatkan kita agar tak pernah kehilangan harapan. Dan sajian sederhana berupa kopi serta singkong rebus mengajari kita betapa luasnya samudera rasa syukur.

Maka, nikmatilah kopi hangatmu hari ini, kawan. Istirahat sejenak dari penatmu. Biarkan pelangi di dalam hati itu perlahan merekah indah seiring dengan meredanya hujan.

  • Penulis : Abdul Aziz
  • Pemerhati Sosial Masyarakat