MEDAN-persatuannews.com. Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah ketika seseorang rela mengorbankan kebenaran demi keuntungan sesaat. Demi jabatan, harta, popularitas, atau kepentingan kelompok, ia berani mengabaikan amanah, memutarbalikkan fakta.
Bahkan menjadikan agama sebagai alat pembenaran. Inilah yang diisyaratkan Al-Qur’an sebagai perbuatan menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.
Allah ﷻ berfirman :
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Artinya: “Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma’idah 5: 44)
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masa lalu, tetapi juga tampak dalam kehidupan modern. Korupsi, suap, jual beli jabatan, manipulasi hukum, penyebaran fitnah, penyalahgunaan kekuasaan, hingga penyalahgunaan dalil agama untuk membela kepentingan pribadi merupakan bentuk-bentuk nyata dari hilangnya rasa takut kepada Allah.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas kepada setiap pemegang amanah. Sabda Rasulullah ﷺ :
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Artinya: “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanah memimpin suatu kaum, lalu ia meninggal dalam keadaan mengkhianati mereka, melainkan Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)
Hadis ini tidak hanya ditujukan kepada kepala negara atau pejabat. Amanah dimiliki oleh setiap orang sesuai kedudukannya, pemimpin masyarakat, guru, orang tua, pengusaha, pengurus organisasi, hingga siapa pun yang dipercaya memikul tanggung jawab. Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Ketika rasa takut kepada Allah memudar, manusia akan lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan ridha Allah. Ia lebih takut dicela manusia daripada melanggar syariat-Nya. Padahal seorang mukmin sejati memahami bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh kedudukan, melainkan oleh ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman :
إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya : “Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan para pengikutnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (QS. Ali ‘Imran 3: 175)
Takut kepada Allah bukanlah rasa putus asa, melainkan kesadaran bahwa seluruh ucapan, keputusan, dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Rasa takut inilah yang melahirkan kejujuran, menjaga lisan dari fitnah, menahan tangan dari korupsi, menghindarkan diri dari suap, serta mendorong seseorang untuk berlaku adil sekalipun terhadap orang yang tidak disukainya.
Sebaliknya, ketika rasa takut kepada Allah hilang, hawa nafsu akan mengambil alih. Demi mempertahankan kekuasaan atau memperoleh keuntungan, seseorang dapat menghalalkan segala cara. Padahal keuntungan dunia hanyalah sementara, sedangkan hisab di akhirat bersifat kekal.
Allah menjanjikan balasan yang sangat agung bagi orang-orang yang senantiasa takut kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman :
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ
Artinya : “Dan bagi orang yang takut akan kebesaran Tuhannya disediakan dua surga.” (QS. Ar-Rahman 55: 46)
Karena itu, marilah kita menjaga integritas, kejujuran, dan amanah dalam setiap aspek kehidupan. Jangan sampai ayat-ayat Allah dijadikan alat untuk memperoleh keuntungan dunia yang sementara. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan popularitas akan sirna. Namun amal saleh, kejujuran, dan amanah akan menjadi bekal terbaik ketika kita menghadap Allah ﷻ.
Semoga Allah ﷻ mengaruniakan kepada kita hati yang selalu takut kepada-Nya, lisan yang jujur, amanah dalam setiap tanggung jawab, serta keistiqamahan untuk mempertahankan kebenaran meskipun harus menghadapi berbagai ujian. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Kakan. PWK LAZ Persis Sumut.
- Anggota SOSBEN MUI Sumut
