Menakar Daya Beli dari Secangkir Kopi: Ketika Nongkrong Masih Jadi Gaya Hidup di Tengah Tekanan Ekonomi

Kopi dan wedang jahe kini jadi indikator tak resmi daya beli. Kenapa? Karena ini “kebutuhan tersier yang terasa primer”. Orang boleh menunda beli baju baru, tapi nongkrong tetap jalan.

MEDAN – persatuannews.com. Di tengah guncangan nilai tukar rupiah dan inflasi bahan pokok, ada satu tempat yang masih tetap ramai: warung kopi dan kedai wedang jahe. Asap kopi dan hangatnya jahe masih jadi magnet. Tapi jika ditelisik lebih dalam, keramaian itu menyimpan cerita tentang bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan tekanan ekonomi.

“Orang masih suka ngopi. Datang ke warkop sudah menjadi bagian dari gaya hidup, khususnya masyarakat perkotaan yang kini juga merambah ke daerah-daerah,” ujar salah satu pengamat UMKM di Medan.

Budaya nongkrong memang belum mati. Data dari Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia APEKRINDO mencatat, sektor kuliner dan kafe masih tumbuh 8-10% di 2025-2026. Namun pertumbuhannya tidak merata. Yang tumbuh adalah kedai dengan konsep kuat, harga terjangkau, dan menu andalan.

Dari “Pesan Bebas” ke “Pesan Seperlunya
Perubahan paling nyata dirasakan pelaku usaha. Jika dulu pelanggan memesan tanpa melihat menu harga, kini hampir semua mulai menghitung.

Fenomena ini disebut trading down oleh ekonom. Konsumen tidak meninggalkan kebiasaannya, tapi menurunkan kelas konsumsinya. Dari coffee shop ke warkop. Dari pesan berbagai menu sekarang dikurangi sesuai isi kantong.

“Frekuensi kunjungan berkurang. Pesanan juga disesuaikan dengan budget. Yang penting tetap bisa nongkrong,” kata seorang barista di kawasan Ring Road Medan.

Wi-Fi Gratis dan “Kopi Sanger”: Magnet Baru Warkop
Menariknya, warkop dan coffee shop tetap penuh bukan hanya karena kopinya. Ada 2 faktor utama yang membuat bangku-bangku tetap terisi sampai malam.

Pertama, Wi-Fi gratis. Di era kerja hybrid dan kuliah online, warkop bertransformasi jadi “kantor kedua”. Mahasiswa, freelancer, hingga pekerja remote rela menghabiskan 3-4 jam hanya dengan 1 cangkir kopi 15 ribuan demi akses internet dan colokan listrik gratis.

Kedua, munculnya budaya “Kopi Sanger”. Di Medan dan Aceh, Sanger adalah singkatan dari “Sama-sama ngerti” kopi dicampur susu kental manis dan sedikit air. Harganya murah, rasanya pas di lidah, dan jadi simbol kebersamaan. “Sanger” juga menjadi bahasa gaul anak warkop: nongkrong itu bukan soal mewah, tapi soal “sama-sama ngerti” kondisi.

UMKM: Terjepit di Tengah “Shrinkflation”
Tekanan paling berat justru ada di pelaku usaha. Harga bahan baku naik: kopi robusta naik 25% YoY, gula, susu, hingga kedelai untuk tempe mendoan ikut terdampak nilai tukar rupiah.

Tapi menaikkan harga berisiko kehilangan pelanggan. Solusinya? Shrinkflation — istilah ekonomi untuk mengurangi ukuran porsi tanpa menaikkan harga.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

“Tempe mendoan dulu potongannya tebal dan padat. Sekarang dengan harga sama, irisannya dikurangi sedikit. Itu cara kami bertahan,” jelas seorang pemilik warkop.
Margin yang didapat pun makin tipis. “Yang paling merasakan sebenarnya pelaku usaha. Harga naik, tapi margin lebih kecil dari sebelumnya.”

Kopi dan Jahe: Barometer Tak Resmi Daya Beli
Kopi dan wedang jahe kini jadi indikator tak resmi daya beli. Kenapa? Karena ini “kebutuhan tersier yang terasa primer”. Orang boleh menunda beli baju baru, tapi nongkrong tetap jalan.

Bank Indonesia juga mencatat, konsumsi rumah tangga masih jadi penopang 53% PDB. Artinya selama warung kopi masih ramai, roda ekonomi mikro masih berputar. Tapi jika keramaian itu dibayar dengan utang pinjol atau paylater, maka ini jadi sinyal peringatan.

Tantangan dan Harapan
Di satu sisi konsumen semakin sensitif. Di sisi lain, jumlah kafe baru terus bertumbuh. Agar tidak mati, UMKM harus punya “ciri khas”: menu signature, tempat yang nyaman, Wi-Fi kencang, atau komunitas.

Ke depan, peran pemerintah sangat diharapkan. Stabilisasi harga bahan pokok, penguatan nilai rupiah, dan program bantuan permodalan UMKM dengan bunga rendah jadi kunci agar secangkir kopi tidak menjadi barang mewah.

Karena pada akhirnya, keramaian warkop bukan hanya soal kopi. Ia adalah ruang sosial, ruang diskusi, ruang kerja, dan ruang bertahan hidup bagi jutaan UMKM. Selama gelas kopi dan wedang jahe masih diangkat, harapan ekonomi rakyat pun masih ada.

  • Penulis : Abdul Aziz
  • Pengamat sosial dan Lingkungan