MEDAN-persatuannews.com. Aroma kopi hitam saring campur gumpalan uap hangat menyambut pagi di kedai kayu milik Wak Dollah. Suara denting cangkir bertubrukan dengan riuhnya lalu lintas di luar. Namun di meja pojok, suasana sedikit berbeda: hampir semua kepala tertunduk, dihiasi pendar cahaya putih dari layar ponsel masing-masing.
“Coba kau tengok si Narto itu,” celetuk Pak Dermawan sembari menyeruput kopi Ulee Kareng-nya. “Dari tadi jempolnya menari macam penari samba saja. Ditanya jalan, dijawabnya offline. Kena sihir gawai kau ya, Tok?”
Narto mendongak, meringis sambil mengusap tengkuknya. “Aduh, Pak Dermawan. Ini lho, saya lagi sibuk balas komentar di media sosial. Ada yang debat panas soal berita terkini. Sayang kalau jempol ini tak ikut meramaikan.”
“Meramaikan apa meracuni?” potong Mbak Lastri sembari meletakkan sepiring gorengan tempe hangat di meja. “Wong cuma hal sepele saja dibikin ribut. Kemarin saya baca status orang, isinya cuma nyinyir sama tetangga. Zaman sekarang, jempol lebih cepat daripada pikiran.”
Arief yang sibuk menggeser-geser layar tabletnya ikut menimpali, “Tapi ya Mbak, teknologi ini bikin kita makin pinter. Informasi apa saja ada. Hitungan detik, materi ceramah sampai berita dunia langsung masuk ke WA.”
“Pinter ilmu iya, Rief,” sahut Dadang yang sejak tadi tenang menikmati teh manisnya. “Tapi kadang kita cuma sibuk nampung informasi, lupa menyaringnya pakai hati. Kebanyakan makan berita gorengan, wajar hatinya gampang panas,” sebut Dadang.
Wak Dollah yang sedang mengelap meja kayu tua di dekat mereka akhirnya angkat bicara sambil tersenyum khas. “Nah, itu dia! Orang sekarang pandai-pandai. Punya HP canggih, kecerdasan intelektualnya tinggi, akses informasi luas. Tapi sering lupa sama satu hal yang paling krusial, Kecerdasan Spiritual.”
Udien, yang dari tadi diam-diam menyimak sambil menikmati pisang goreng, mengernyitkan dahi. “Kecerdasan spiritual itu yang bagaimana, Wak? Apa harus sarungan terus tiap hari atau hapal ribuan kitab?”
Wak Dollah tertawa pelan. “Bukan cuma itu, Dien. Kecerdasan spiritual di zaman digital itu simpel: kemampuan hati untuk tetap eling dan sadar di tengah gempuran dunia maya. Tahu mana yang benar, mana yang cuma bikin gaduh.”
Pak Dermawan mengangguk-angguk setuju, matanya menatap tajam namun teduh ke arah anak-anak muda di meja itu. “Wak Dollah benar. Di medsos, tidak semua yang kita lihat harus dipercaya, tidak semua yang kita tahu harus dibagikan, dan tidak semua yang bikin kita emosi harus dikomentari.”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Ia melanjutkan dengan nada bernaz yang menyentuh, ” Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Sekarang coba renungkan, berapa kali sehari kita buka ponsel untuk cari ketenangan, tapi malah pulang bawa kekesalan dan ketakutan? Itu tanda kecerdasan spiritual kita lagi lowbat,” ujar Dadang lagi.
Atmosfer warung kopi yang tadi riuh mendadak hening. Dadang pelan-pelan meletakkan ponselnya di atas meja, tertutup. Mbak Lastri menahan tangannya yang hendak merapikan nampan, mendengarkan dengan penuh penghayatan.
“Sabar dan salat itu bentengnya,” tambah Dadang lembut. “Di era digital, ilmu butuh iman, kemajuan butuh takwa. Kalau jempol jalan tanpa ketakwaan, yang lahir cuma kesombongan dan kebohongan.”
“Iya ya…” celetuk Udien pelan. “Kadang awak sibuk kali ngeshare pesan kebaikan ke puluhan grup WA, tapi sama tetangga sebelah rumah lupa menyapa. Berarti spiritual kita cuma sebatas di layar, belum sampai ke dada.”
Wak Dollah menepuk bahu Udien sambil tersenyum hangat. “Nah! Pintar kau, Dien. Jangan sampai teknologi yang canggih ini malah bikin hati kita kerdil. HP boleh 5G, tapi koneksi hati ke Sang Pencipta jangan sampai NO SIGNAL.”
Gelak tawa ringan kembali pecah di warung kopi itu, menyapu kecanggungan. Dadang tersenyum lebar, lalu meraih cangkir kopinya yang mulai dingin.
Pagi itu, di meja sederhana milik Wak Dollah, mereka tidak hanya menikmati secangkir kopi dan sepring gorengan, tetapi juga merawat sinyal terpenting dalam hidup, kerendahan hati dan ketakwaan di tengah riuhnya dunia digital.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat
