Warung Kopi Wak Dollah : “Parlemen Politik Kopi Pahit”

"Karena yang bikin hidup ini punya rasa itu bukan cuma nasib baik atau rezeki melimpah," lanjut Wak Dollah dengan senyum hangat. "Yang bikin hidup ini manis adalah harapan dan kebersamaan. Asal kita masih punya Allah tempat bersandar, dan masih punya teman untuk berbagi cerita, kepahitan apa pun bisa kita nikmati sama-sama," ujar Wak Dollah bersemangat.

MEDAN-persatuannews.com. Di sudut Warung Kopi Wak Dollah, aroma seduhan kopi hitam mengurai pekat bersama kepulan asap rokok dan suara denting sendok mengaduk-aduk gelas. Di meja kayu panjang, “Parlemen Politik Kopi Pahit” pagi itu mulai bersidang.

“Kulihat kondisi ekonomi saat ini dikertas cukup baik, tapi kok bahan pokok pada naik, apa ini efek perang AS-Iran yang belum juga mereda?” celetuk Arief sambil menatap layar ponselnya. ” Di data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen merupakan capaian semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Mau dibawa kemana ekonomi ini”

Dadang menyeruput kopinya santai. “Ya dibawa ke jalan yang benar lah, Rief. Kaya kamu aja, tiap hari mikirin ekonomi negara, tapi dompet sendiri deficit terus.”

Ha..ha…ha…,gelak tawa pecah di meja itu.

“Bukan gitu, Dang!” potong Mbak Lastri sambil meletakkan piring gorengan hangat. “Arief itu mikir jauh. Daripada Udien, tiap hari nongkrong di sini cuman nunggu giliran siapa yang mau bayarin kopinya.” Udien yang sedang memegang pisang goreng meringis polos.

“Lho, Mbak Lastri… Ini namanya memanfaatkan potensi kemitraan strategis! Saya ini kan menerapkan sistem gotong royong nasionalisme-kopi pahit yang jujur.”

“Gundulmu itu Dien, pakek istilah kopi pahit jujur, gotong royong lagi!” sahut Narto tertawa kekeh. “buat istilah macam-macam kau ini Dien, Itu mah modal dengkul namanya, Dien!”

Di tengah keriuhan itu, Pak Dermawan merapikan letak kacamatanya. Ia menatap kopi pahit di depannya dengan senyum tipis. “Maksud si Udien itu, kopi pahit itu jujur, ia pahit tidak dikatakannya manis. Dari pada penyebutan tidak ada kenaikan harga, hanya disesesuaikan saja, itu lebih menyakitkan.”

“Tapi benarlah kata kalian,” pancing Pak Dermawan. “Hidup sekarang memang makin tidak mudah. Kadang rasanya kita ini seperti mengaduk kopi tanpa gula. Pahitnya kerasa terus, manisnya cuma ada di ingatan.”

Suasana mendadak agak hening. Pertanyaan Pak Dermawan menghujam pelan ke dada masing-masing. Wak Dollah yang sedari tadi diam memutar wajan gorengan, berjalan menghampiri meja dengan membawa teko stanless tua. Ia menuangkan sedikit air panas ke cangkir Pak Dermawan.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

“Pak Dermawan…” ucap Wak Dollah pelan tapi dalam, matanya menatap satu per satu wajah langganannya. “Kopi ini dinamai kopi pahit bukan karena airnya yang salah, tapi memang begitulah karakternya. Tapi coba pak Mawan lihat…,”Wak Dollah menunjuk ke arah cangkir-cangkir di meja.

“Walau kopinya pahit, kelen semua tetap datang ke sini kan? Rapat Parlemen Politik Kopi Pahit, tetap ketawa, tetap saling ledek, tetap berbagi gorengan. Kenapa?”

Semua diam mendengarkan. “Karena yang bikin hidup ini punya rasa itu bukan cuma nasib baik atau rezeki melimpah,” lanjut Wak Dollah dengan senyum hangat. “Yang bikin hidup ini manis adalah harapan dan kebersamaan. Asal kita masih punya Allah tempat bersandar, dan masih punya teman untuk berbagi cerita, kepahitan apa pun bisa kita nikmati sama-sama,” ujar Wak Dollah bersemangat.

Mendengar ucapan Wak Dollah, Pak Dermawan tersenyum lebar, mengangguk-angguk setuju. “Betul sekali, Wak. Harapan itu seperti gula yang tak terlihat, tapi bikin segalanya tetap layak dijalani.”

Udien tiba-tiba mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Wah, betul itu Wak Dollah! Karena hatiku sudah dipenuhi harapan dan kehangatan kebersamaan…, kopi dan pisang gorengku pagi ini disubsidi Pak Dermawan ?,” sebut Udien.

“Dasar si Udien kau!” teriak Narto, Arief, dan Dadang serempak sambil melemparinya dengan tisu bekas.

Warung kopi itu kembali dipenuhi gelak tawa, tawa yang lahir dari hati-hati yang tangguh, yang memilih untuk tidak pernah kehilangan harapan meski hidup kadang menyuguhkan cangkir yang pahit.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat