MEDAN-persatuannews.com. itu kedai Kopi Wak Dollah terasa semerbak kopi Dairi, aroma bubuk kopi hitam menyatu dengan kepulan asap rokok kretek Arief. Suasana ceria, ditambah dengan hangatnya obrolan warga yang rehat sejenak. Di sudut meja kayu, Dadang, Udien, dan Pak Darmawan sedang duduk melingkari tiga cangkir kopi hitam yang hamper separuh sudah diminum.
Di layar televisi gantung yang suaranya dipelankan, running text berita terus berulang: “6 Gunung Berapi di Indonesia Erupsi Bersamaan, Status Sinabung di Karo Naik Siaga.” Arief mengaduk kopinya lambat-lambat, matanya menatap layar TV lalu beralih ke dua seniornya.”Dadang dan Pak Dermawan…., “seram kali kubaca berita belakangan ini,” ujar Udien membuka suara.
“Bukan cuma Sinabung yang di daerah kita ini meletus melontarkan abu, tapi ada enam gunung lain di Indonesia yang batuk barengan. Gunung Krakatau di Jawa, Gunung Semeru, Ili Lewotolok. Semuanya seolah janjian. Jangan-jangan ini tanda-tanda alam mau kasih sinyal sesuatu untuk negara kita?” Udien menaikkan sebelah alisnya, menyeruput kopi kentalnya sampai berbunyi seruuup.”Kau ini, rief, baru baca berita sedikit langsung gemetaran,” sergah Arief sambil menghembuskan asap rokok.
“Alam itu mana ada pakai kirim WA atau bikin status dulu kalau mau ngasih sinyal. Tapi kalau kau tanya orang tua zaman dulu, gunung bergolak itu memang tandanya ‘isi bumi’ lagi kegemukan, alias kebanyakan beban. Pertanda negara kita ini lagi kebanyakan ‘hawa panas’.”, “Hawa panas gimana maksudnya, Bang?” tanya Udien makin penasaran. Pak Dermawan yang dari tadi tenang merapikan kacamata, akhirnya menyela dengan gaya khasnya yang teduh tapi menyengat.”Gini, Dien. Kalau kita bicara sains, gunung meletus itu murni urusan pergerakan lempeng tektonik dan tekanan magma di perut bumi.
Indonesia ini berada di Ring of Fire, jadi fenomena gunung erupsi itu hal yang alami secara geologis. Tapi, kalau kita bicara filsafat warung kopi atau kearifan lokal, alam itu memang sering jadi cermin dari apa yang terjadi di atas tanahnya.”Pak Dermawan mengetuk meja dua kali pakai jarinya.”Coba kau perhatikan. Kalau di bawah tanah ‘perut gunung’ bergolak karena tekanan gas yang menumpuk dan ndak ada salurannya, akhirnya apa? Meledak, kan? Sama kayak negara ini.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah
Sinyal dari alam itu ibarat pengingat: kalau di atas tanah terlalu banyak gesekan, obrolan politik yang panas, harga-harga mencekik, rakyat menjerit tapi ndak didengar itu namanya tumpukan tekanan. Kalau ndak ada katup pengamannya, ya tinggal tunggu waktu saja ada yang ‘erupsi’ di masyarakat.”, “Betul kali itu Pak Wawan!” sahut Wak Dollah, sedari tadi mendengar, sambil menunjuk Dadang.
“Sinabung batuk di Karo, abunya sampai ke mana-mana. Itu sinyal alam biar manusia sadar dan saling tolong-menolong, bukan malah makin sibuk sikut-sikutan di TV. Bumi saja tahu kapan harus melepaskan beban, masa manusia ndak tahu kapan harus nahan diri dari bikin ulah?” Arief mengangguk-angguk, mulai paham arah pembicaraan.
“Jadi maksudnya, erupsi beruntun ini bukan cuma bencana fisik, tapi kayak ‘alarm’ supaya kita makin mawas diri?””Nah, pintar juga mbak Lastri ini!” jawab Pak Wawan tersenyum. “Alam itu ngirim sinyal sederhana, menyuruh kita kembali eling dan waspada. Waspada bencana susulan secara fisik, artinya siap siaga tanggap bencana, bantu saudara kita di Karo dan daerah terdampak lainnya. Tapi juga mawas diri secara social, jaga kedamaian, turunkan tensi, jangan mau diadu domba. Kalau perut bumi saja sudah panas, jangan lagi hati dan pikiran kita ikut-ikutan panas.”Dadang tertawa kecil lalu menyenggol bahu Arief. “Sudahlah,. Daripada kau pusing mikirin sinyal alam yang bikin senut-senut, mending kau pikirkan sinyal dari dompetmu itu”.
“Itu sinyal paling nyata kalau kau belum bayar kopi dari kemarin!”Gelak tawa pecah di meja kayu itu. Kepulan asap kopi dan tawa hangat warga kedai seolah menjadi pendingin di tengah riuk-pikuk berita dunia yang sedang bergolak.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat
