Medan-persatuannews.com.Wajah atau muka adalah bagian depan dari kepala manusia yang meliputi wilayah dari dahi hingga dagu, termasuk rambut, dahi, alis, pelipis, mata, hidung, pipi, mulut, bibir, gigi, kulit, termasuk dagu.
Wajah terutama digunakan untuk ekspresi, penampilan, serta identitas. Allah menciptakan wajah, tidak ada satu wajahpun yang serupa mutlak, bahkan pada manusia kembar identik sekalipun.
Firman Allah Subahanahu WaTa’ala :
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman 31: 18).
Disetiap diri orang dewasa diberikan indentitas diri menyertakan gambar wajah. Sepert kartu tanda penduduk (KTP) atau tanda pengenal, terpampang foto wajah dari pemiliknya. Artinya foto wajah tersebut tervisualisasikan beberapa keterangan tertulis yang menguatkan identitas pemilik wajah.
Foto wajah di KTP adalah salah satu contoh objek identifikasi sedangkan contoh lainnya pada pengumuman atau informasi orang hilang wajah dihadirkan untuk dapat mengenalinya.
Baca juga :
- Sosialisasi 4 Pilar Bersama Guru, Senator M Nuh Tekankan Pentingnya Literasi dan Mitigasi Bencana di Sekolah
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Sesungguhnya secara umum wajah itu merupakan representasi dari gambaran suasana hati. Ekspresi yang muncul pada wajah merupakan sebuah ungkapan yang terjadi pada dirinya. Ekspresi wajah adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah.
Sebagian ekspresi wajah dapat diketahui maksudnya dengan mudah, misalnya sedang marah atau bersedih hati. Namun, beberapa ekspresi lainnya sulit diartikan, misalnya ketakutan dan kejijikan sulit dibedakan. Selain itu, kadang-kadang suatu wajah dapat disalahartikan mengalami emosi tertentu.
Ibnu Katsir menjelaskan QS. Lukman 31: 18 diatas, “Janganlah palingkan wajahmu dari orang lain ketika engkau berbicara dengannya atau diajak bicara. Muliakanlah lawan bicaramu dan jangan bersifat sombong. Bersikap lemah lembutlah dan berwajah cerialah di hadapan orang lain” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 56).
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
Artinya : “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).
Begitu pula dengan wajah ceria dan berseri akan mudah menarik hati orang lain ketika diajak pada Islam dan kepada kebaikan. Wajah dengan senyum yang manis adalah diantara modal dalam berdakwah.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
Artinya : “Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim).
Diceritakan dalam QS ‘Abasa, bahwa Rasulullah SAW pernah berwajah masam. Para mufassir sepakat bahwa kisah ini berkenaan seorang yang buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Di dalam tafsir ath-Thabari diceritakan bahwa ketika itu Nabi SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy.
Pemikiran beliau saat itu mendakwahi para pemuka kaum adalah sebagai bagian dari strategi dakwah, karena mereka adalah kuncinya. Bila mereka sampai masuk Islam, maka para pengikutnya akan melakukan hal yang sama.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
عَبَسَ وَتَوَلّٰۤى
Artinya : “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,” (QS. ‘Abasa 80: 1)
Saat Rasulullah sedang fokus berdakwah itulah, Abdullah bin Ummi Maktum memotong pembicaraan seraya berkata “arsyidni”. Beliau meminta agar Rasulullah memberinya petunjuk. Konsentrasi Nabi yang dipotong itulah yang membuat beliau bermuka masam dan berpaling.(Tafsir At-Thabari, 24/102)
Dalam konteks ketika ditegur, itu artinya Rasulullah keliru sehingga Allah meluruskannya, Allah SWT berfirman:
كَلَّا إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
Artinya : “Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan.” (QS ‘Abasa 11)
Semenjak kejadian itu, di dalam tafsir al-Baghawi diceritakan bahwa setiap kali Rasul berjumpa dengan Abdullah bin Ummi Maktum, maka Rasul senantiasa memyambutnya seraya mengatakan :
مَرْحَبًا بِمَنْ عَاتَبَنِي فِيهِ رَبِّي
Artinya : “Selamat datang wahai orang yang Rabbku menegurku karenanya.” Tak lupa Rasul pun senantiasa menanyakan keperluannya. (Tafsir al-Baghawi, 8/332).
Semoga kita mampu menunjukan wajah berseri, senyuman manis penuh keihklasan kepada lawan bicara. Namun wajah berseri ini tidaklah setiap saat harus ditujukan pada setiap orang.
Ketika menghadapi orang yang lebih pantas kita marah, harus ditunjukan bahwa kita sedang marah, apalagi dihadapan orang kafir yang banyak membuat kerusakan.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor LAZ Persis Sumatera Utara





