Bandung-persatuannews.com. Hingga awal 1930-an, struktur organisasi Persatoean Islam (PERSIS) Bandoeng sangat sederhana. Koran Sipatahoenan menyebut model organisasinya adalah “paguyuban”. Struktur organisasi hanya terdiri dari Voorzitter (Ketua) KHM Zamzam, Vice Voorzitter (Wakil Ketua) KHM Yunus, Juru Surat I Sobirin, Juru Surat II M. Natsir, dan Penningmester (Bendahara) KM. Tosin. Demikian kabar koran Moestika pada 31 Agustus 1931. Tiga orang dari Palembang, satu orang dari Padang, dan satu lagi urang Sunda dari Bandung. Memang sebagaimana warta dari De Nieuwe Vorstenlanden tahun 1926, paguyuban PERSIS didominasi ”Palembangsche Kooplul” (para pedagang asal Palembang).
Namun, walaupun “stuktur organ”-nya sederhana, reputasi PERSIS sangatlah tinggi di kalangan masyarakat terpelajar Indonesia, khususnya warga urban Bandung. Dalam menjalankan roda organisasi dan memperluas peran-pengaruhnya, PERSIS pun membentuk organ baru (baca: underbouw). Hingga tahun 1933, organ underbouw PERSIS itu berupa: Komite Pembela Islam, Pendidikan Islam (Pendis), dan Persatuan Isteri.
Waktu itu, sebagai paguyuban, PERSIS belumlah menjadi hoofd bestuur (pengurus besar, sebuah sistem organisasi massa), sehingga tidak membentuk cabang-cabang di berbagai daerah. Padahal, murid-murid tuan A. Hassan di studi klub PERSIS tersebar di mana-mana: dari Aceh di ujung Barat hingga Sulawesi di ujung Timur.
Baca juga :
- PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
- Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung
Koran Sipatahoenan pada 25 Januari 1933 memberitakan:
“Oerang Bandoeng mah tangtoe moal aja noe bireuk ka djenengan Djrg. H. Zamzam teh…,kapan nja ieu pisan noe djadi loeloegoe ti pagoejoeban “Persatoean Islam” di Bandoeng teh. Handjakal ieu pagoejoeban henteu njieun tjabang-tjabangna di sababaraha tempat. Noe dipentingkeun ku ieu pagoejoeban teh djaba ti ngajakeun biantara-biantara…, ngaloearkeun boekoe-boekoe…, malah dina saboelan doea kali ngaloearkeun orgaan nu make ngaran “Pembela Islam”. Dina pingpinan Djrg. H. Zamzam, pagoejoeban “Persatoean Islam” geus bisa ngajakeun sakola Frobel, H.I.S. djeung Mulo noe make dadasar Kaislaman.”

Kita harus paham, berita koran itu adalah cermin opini publik kala itu. Dengan kata lain, masyarakat pada umumnya memandang apa yang telah dilakukan tokoh-tokoh PERSIS telah begitu besar. Padahal, “baju” yang dipakai masih model-ukuran lama. Jadi, tentu saja sudah tak muat lagi. Tak heran, jika kemudian banyak usulan-gagasan bermunculan terkait eksistensi PERSIS ketika itu terutama untuk masa depan: hendaknya “ganti baju!”
Momentum itu terjadi pada tahun 1934. Komite Pembela Islam yang membesarkan nama PERSIS kala itu sudah mulai sulit bergerak, karena terus dirongrong pihak Kolonial. Di berbagai tempat, majalah Pembela Islam dilarang beredar sampai akhirnya berhenti terbit. Sebaliknya dengan kondisi Komite Pendidikan Islam (PENDIS) yang dikelola M. Natsir dan kawan-kawan. Sekolah-sekolahnya terus berkembang, baik secara kuantitatif jumlah lembaganya, maupun secara kualitatif dengan bertambahnya jenjang pendidikan. Yakni, berdirinya pendidikan menengah (Dikmen), dari asalnya jenjang PAUD dan Dasar. Lengkap sudah: Frobelschool jenjang TK, HIS dan MULO pada jenjang dasar, serta Holland Inlandsche Kweekschool (HIK) pada jenjang menengah.

Trigger yang paling penting adalah nasehat dari Syeikh Ahmad Soorkati, guru yang dihormati oleh jamaah dan para tokoh PERSIS di samping Tuan Hassan. Apa nasehatnya itu? Untuk semakin meluaskan dakwah, PERSIS hendaknya mengembangkan sayap di daerah-daerah dengan menjadi organ hoofd bestuur, sehingga bersifat organisasi massa (ormas), bukan paguyuban.
Cabang-cabang PERSIS pun seketika berdiri di berbagai daerah. Distrik Bogor termasuk yang mula-mula deklarasi sebagai cabang PERSIS. Sebelumnya, para tokoh reformis Bogor ini ikut Majlis Ahlu Sunnah Cilame (MASC). Baru pada tahun 1934 lah, cabang PERSIS berdiri secara resmi di Bogor. Tidak hanya itu, para aktifis PERSIS Bogor pun siap menjadi tempat diselenggarakannya konferensi jamiyah yang pertama sejak menjadi ormas Pengurus Besar Persatuan Islam (PB PERSIS).
Di daerah Betawi, segera berdiri cabang PERSIS Tanah Abang, Tanjung Priok, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Di Priangan Utara, cabang PERSIS berdiri di Cirebon (Gebang) dan Indramayu (Karang Ampel). Di Priangan Barat ada cabang PERSIS Cianjur dan Sukabumi (Cipetir). Di Tasikmalaya, ada cabang PERSIS Cisalak. Di Garut, karena menjadi basis kelompok puritan MASC, cabang PERSIS telambat: Baru berdiri pada Februari 1936. Padahal H. Zarkasyi asal Kadungora telah ikut studi klub PERSIS sejak tahun 1923.
Di luar Pulau Jawa, cabang PERSIS sudah berdiri sejak tahun 1934 di Padang (Sumatera Barat) dan Sibolga (Sumatera Utara). Pada Januari 1935, cabang PERSIS berdiri di Aceh. Cabang Aceh ini beralamat di Kuta Raja. Sementara PERSIS cabang Padang mengeluarkan majalah bulanan “Ma’loemat” yang beralamat di Terandam 39, Kota Padang. Setahun kemudian berdiri cabang PERSIS di Banjarmasin, Pulau Kalimantan. Tepatnya pada 13 Maret 1936.
Struktur PB PERSIS pun ditetapkan. Mula-mula ada empat bahagian (baca: Bidang pada hari ini). Istilahnya waktu itu “Persatuan Islam Bahagian.” Yakni: Persatuan Islam Bahagian Tabligh, Persatuan Islam Bahagian Sekolah, Persatuan Islam Bahagian Pustaka, dan Persatuan Islam Bahagian Isteri. Dari istilah Persatuan Islam Bahagian Isteri inilah muncul akronim “Persisteri”, silahkan lihat majalah Al-Lisaan No. 1, Desember 1935, hlm 26.
Pada Konferensi PB PERSIS yang pertama di Bogor pada 17 April 1934, pembahasan difokuskan pada urusan sekolah, mengingat perkembangannya yang signifikan. Natsir diminta laporan tentang perkembangan sekolah PENDIS. Waktu itu yang ditetapkan sebagai Ketua Bahagian Sekolah adalah Tuan AA Banama, sementara Natsir menjadi Direktur Sekolah PENDIS. Pada momentum Konferensi itu pula, Natsir berorasi ilmiah tentang konsep pendidikan Islam. Tidak sekedar urusan teknis-manajerial pendidikan, namun lebih mendasar: tentang paradigma pendidikan Islam yang dibangunnya itu.
Kala itu, Natsir membentangkan gagasan tentang “Islamietisch Paedagogische Ideaal.” Lebih tepatnya—dalam brosur yang dimuat di Capita Selecta jilid I (1956: 84)—yaitu: “Islamietisch Paedagogische Ideaal jang gemerlapan jang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan perahu pendidikannya.” Yakni, paradigma Pendidikan Unggul berbasis Islam.
Konferensi PB PERSIS yang kedua dilaksanakan di Bandung pada tahun 1935. Situasi dan kondisi Jamiyah PERSIS semakin kompleks. Jumlah cabang semakin banyak di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar Pulau. Kebutuhan mubaligh pun semakin tinggi. Karena berdiri cabang-cabang baru, mereka pun minta dikirim mubaligh dari PB PERSIS. Masalahnya: mubaligh yang dimiliki PB PERSIS saat itu belum memadai secara jumlah, karena terbatas pada murid-murid Tuan Hassan di studi klub. Sementara, alumnus Sekolah PERSIS tidak ditujukan menjadi mubaligh.
Tuan Azhari sebagai Ketua Bahagian Tabligh pun memutar otak. Untungnya setiap bahagian dilapisi generasi muda terpelajar. Jika AA Banama pada Bahagiaan Sekolah diback-up Natsir, maka Tuan Azhari di Bahagian Tabligh diback-up mula-mula oleh Fachrudin Alkhahiri—dan nantinya oleh KH. Abdurahman, ajengan Sunda asal Cianjur yang baru masuk PERSIS pada tahun 1934 dan mempunyai peran penting mulai tahun 1936 ketika didirikan Pesantren PERSIS. Terutama ketika PB PERSIS membentuk Majlis Agama pada Agustus 1937. Ada tujuh orang yang diangkat sebagai anggota Majlis Agama, salah satunya adalah KHE Abdurrahman. Majlis Agama inilah yang nantinya bertransformasi menjadi Majlis Ulama PERSIS oleh Ustaz Isa Anshary pada awal Kemerdekaan Indonesia. Ketua Majlis Ulama yang pertama adalah KH Munawar Cholil dari Kendal, Jawa Tengah.
Memang sejak akhir tahun 1934, program Bahagian Tabligh tengah naik naik daun dengan animo masyarakat terhadap kegiatan Tabligh Akbar. Pada tanggal 27 Oktober 1934, tabligh akbar PERSIS yang pertama berlangsung di Gedung PERSIS, jalan Pangeran Sumedang (sekarang Otista), Bandung. Ketua panitianya adalah Fachrudin Alkhahiri. Tabligh akbar itu dihadiri 700 orang. Tabligh akbar kedua dilaksanakan pada 24 November 1934. “Jang hadir 500 orang, lantaran hoedjan,” demikian laporan Al-Lisaan (1935: 26). Suatu jumlah yang besar untuk ukuran tahun 1930-an.
Balik lagi ke cerita Konferensi PB PERSIS kedua di Bandung pada 1935. Pembahasan pada konferensi kedua itu pun difokuskan pada dinamika Tabligh. Fokus prioritas program PB PERSIS adalah pemenuhan permintaan mubaligh dari cabang-cabang PERSIS. Sual jamiyah, kata Tuan Azhari, adalah bagaimana bisa menambah jumlah mubaligh untuk diutus ke cabang-cabang? Maka jawabannya adalah memperluas scoup studi klub yang dikelola oleh Tuan Hassan. Seperti biasa, sual-jawab pun berpindah ke pundak Tuan Hassan. Ia yang memikirkan solusinya.
Pada pokoknya, Konferensi PB PERSIS Tahun 1935 memutuskan: rekomendasi didirikannya lembaga kursus mubaligh. Tupoksi Bahagian Tabligh pun ditetapkan oleh Konferensi tersebut. Bahagian Tabligh tidak hanya bertugas untuk menyampaikan dan menyebarkan ajaran syari’at sesuai paham puritanisme PERSIS, tapi juga mengader para juru-tabligh, sekaligus menjadi “pengawas dan sekaligus penjaga” ajaran yang ditablighkannya. Dari sinilah bermula istilah “Dewan Hisbah” di bawah Bahagian Tabligh pada tahun 1935 (lihat Risalah, 1973, hlm. 301).
Majalah Al-Lisaan No. 4 yang terbit pada 27 Maret 1936 memberitakan: “Tempat peladjaran terseboet didirikan di Bandoeng pada tanggal 1 Dzulhijjah 1354 bersamaan dengan tanggal 4 Maart 1936, dengan nama: Pesanteren Persatoean Islam Bandoeng. Dengan berdirinja Pesanteren ini, berarti PB Persatoean Islam telah mendjalankan kepoetoesan Conferentie Persatoean Islam 1935 boeat mengadakan Cursus Moeballigh.”
(Bersambung, insya Allah).
- Penulis: Pepen Irpan Fauzan
- Borosngora Persatuan Islam






