Medan-persatuannews.com. Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai “zona aman” dari badai siklon tropis. Letaknya yang berada tepat di garis khatulistiwa membuat negeri ini seolah memiliki perisai alami.
Secara teori, siklon tropis terbentuk dari kumpulan awan konvektif di atas lautan hangat yang kemudian berputar membentuk sistem tekanan rendah. Namun, syarat penting terbentuknya siklon adalah adanya *gaya Coriolis*. Gaya ini merupakan pembelokan semu lintasan udara atau air akibat rotasi bumi: di belahan bumi utara angin berbelok ke kanan, sementara di belahan bumi selatan berbelok ke kiri.
Di sekitar ekuator (0–5° lintang), gaya Coriolis hampir nol. Akibatnya, pusaran siklon sulit terbentuk sempurna di garis khatulistiwa. Inilah alasan mengapa Indonesia dulu dianggap “kebal” dari badai siklon.
Anggapan Itu Kini Mulai Runtuh
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin sering merasakan dampak badai siklon, meski pusatnya tidak berada tepat di wilayah Indonesia. Hujan ekstrem berhari-hari, angin kencang, gelombang laut tinggi, banjir, dan longsor terjadi di berbagai daerah, contoh nyata:
- Siklon Tropis Vamei (2001)* terbentuk di Laut Cina Selatan hanya *1,4° LU dari ekuator*, menjadikannya siklon tropis paling dekat dengan garis khatulistiwa yang pernah tercatat.
- Siklon Tropis Seroja (2021)* terbentuk di selatan Nusa Tenggara Timur pada *3 April 2021* dan bertahan hingga 12 April. Siklon ini menewaskan *272 orang, menyebabkan lebih dari **100 orang hilang, serta kerugian mencapai **USD 491 juta*. Dampaknya sangat parah di NTT, Timor Leste, hingga Australia Barat.
- Siklon Tropis Senyar (26 November 2025)* lahir dari bibit siklon di Selat Malaka dan memicu hujan ekstrem, banjir besar, serta longsor di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Ketiga peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa, kekebalan geografis Indonesia ternyata tidak lagi berlaku saat ini. Apa yang Berubah?, jawabannya, ada di laut.
BMKG menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama perubahan ini adalah, kenaikan suhu permukaan laut. Laut yang semakin hangat menjadi, bahan bakar utama bagi badai tropis.
Baca juga :
- Sosialisasi 4 Pilar Bersama Guru, Senator M Nuh Tekankan Pentingnya Literasi dan Mitigasi Bencana di Sekolah
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Data BMKG menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Indonesia dan sekitarnya kini kerap berada di atas 28–30°C, ambang ideal untuk memperkuat sistem badai. Akibatnya, siklon yang terbentuk di Samudra Hindia atau Pasifik Selatan menjadi lebih intens dan bertahan lebih lama, sehingga dampaknya menjalar hingga ke wilayah Indonesia.
Indonesia Tidak Diserang Siklon, Namun Tetap Terpukul.
Penting untuk dipahami: Indonesia bukan wilayah pembentukan siklon tropis. Namun, kita kini semakin sering menjadi korban tidak langsung dari dampaknya—mulai dari hujan ekstrem, banjir bandang, gangguan pelayaran, hingga gagal panen. Seroja 2021, Vamei 2001, dan Senyar 2025 adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak lagi aman dari badai siklon.
Melihat situasi ini sudah saatnya kita berdamai kembali dengan alam. Fenomena ini membawa pesan sederhana namun mendesak, “alam hanya akan melindungi kita jika kita menjaganya”.
Menanam kembali hutan, melindungi mangrove, menjaga laut dari pencemaran, serta menekan emisi karbon bukan sekadar slogan lingkungan. Itu adalah langkah nyata untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
BMKG, IPCC, hingga para ahli iklim sepakat, tanpa upaya serius menjaga ekosistem, cuaca ekstrem akan menjadi normal baru bagi Indonesia.
Indonesia tak lagi kebal dari badai siklon. Vamei 2001, Seroja 2021, dan Senyar 2025 membuktikan bahwa siklon tropis bisa terbentuk dekat ekuator dan menghantam daratan Nusantara. Kini, pertanyaannya bukan apakah badai akan datang, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.
Sumber data : Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, M.Si
- Penulis: Abdul Aziz
- Aktif di Stasiun Meteorologi Maritim Belawan hingga 2018.
