Medan-persatuannews.com. Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatra Utara, dan Aceh akhir bulan November 2025 meninggalkan jejak kehancuran luar biasa.
Hujan yang turun berkepanjangan menyebabkan luapan sungai, lereng perbukitan runtuh, ratusan desa terendam banjir, infrastruktur vital putus, dan banjir bandang itu menelan ratusan korban jiwa.
Bencana banjir bandang di akhir November 2025 lalu sejatinya bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Bahkan para ahli menilai fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang kian meningkat dalam fase dua dekade terakhir.
Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai ( DAS) telah menghilangkan daya dukung dan daya tampung ekosistem hulu untuk meredam curah hujan tinggi. Hilangnya tutupan hutan yang berarti hilang pula fungsi hutan sebagai pengendali daur air kawasan melalui proses hidrologis intersepsi, infiltrasi, evapotranspirasi, hingga mengendalikan erosi dan limpasan permukaan yang memicu erosi masif dan longsor yang menjadi cikal bakal banjir bandang. Hutan di wilayah DAS sangat vital sebagai penyangga hidrologis.
Vegetasi hutan yang rimbun ibarat spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai (Dr.Ir.Hatma Suryatmojo, S. Hut,. M. Si., IPU, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM)
Baca juga :
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
- 1.902 KK terdampak banjir di Tapanuli Tengah
Bagaimana pula curah hujan yang terjadi di Sumatera Utara yang menyebabkan banjir bandang di sejumlah daerah. Penyebab banjir bandang adalah kombinasi curah hujan ekstrem akibat anomali cuaca, siklon tropis Senyar, yang diperburuk oleh kerusakan ekosistem hutan di hulu (deforestasi, alih fungsi lahan) mengurangi daya serap tanah, serta kondisi geomorfologi curam dan penyumbatan sungai.
Dampak curah hujan ekstrem yang tercatat di Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Utara tanggal 27 November 2025 dapat di lihat berikut ini:
1. Gebang : 390 mm
2. Cempa : 386 mm
3. Secanggang: 316 mm
4. Turangi Lama: 305 mm
5. Pancur batu: 261 mm
6. Helvetia : 229 mm
7. Poktan suka makmur: 221 mm
8. BPP Batang Kuis: 186 mm
9. Bulu Cina: 185 mm
10. Tandem: 178 mm
11. Binjai Selatan: 167 mm
12. Wampu: 155 mm
13. Binjai Barat: 126 mm
14. Tanjung Selamat: 123 mm
15. Binjai Utara: 120 mm
Sedangkan data curah hujan yang tercatat alat ARG (Automatic Rain Gauge) AAWS (Automatic Agroclimate and Weather Station) dan AWS ( Automatic Weather Station) di sejumlah Stasiun pengamat sebagai berikut: Hinai Langkat: 376.2 mm, Pakkat: 299.4 mm, PDAM Sunggal:265.4 mm, Tapanuli: 114.2 mm, Staklim Deli Serdang: 132.8 mm
Berdasarkan data-data curah hujan tersebut diatas bahwa salah satu faktor terjadi banjir di sejumlah tempat.
Data curah hujan tertinggi yang tercatat adalah Gebang, Hinai, Cempa, Secanggang, Turangi Lama, serta Pakkat, ” ujar Kepala Stasiun Klimatologi Sumatra Utara Wahyudin.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem yang semakin sering akibat perubahan iklim membuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan harus terus di perkuat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengupayakan peringatan dini cuaca ekstrem dan potensi banjir bandang setiap memasuki puncak musim hujan. Informasi- informasi yang dikeluarkan BMKG harus ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan langkah- langkah nyata seperti simulasi evakuasi, penataan ulang permukiman rawan bencana seperti pemukim di sepanjang DAS, dan tidak kalah pentingnya memastikan kapasitas tanggap darurat ditata ulang agar bisa memberikan bantuan dengan cepat saat bencana terjadi.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) patut dipertimbangkan sebagai upaya mengurangi penumpukan curah hujan dilokasi tertentu ketika potensi banjir sangat mengkhawatirkan di daerah terdampak.
Koordinasi, pemerintah daerah bersama komunitas/ masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media dapat merumuskan langkah nyata.
Tragedi akhir November 2025 adalah sebuah pelajaran pahit bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan alam, di dalamnya hidup berbagai keanekaragaman hayati yang patut di jaga kelestariannya.
Penulis: Abdul Aziz
Purna tugas BMKG
Pengurus, F-PRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Sumatera Utara








