Medan-persatuannews.com. Dalam sejarah pembaruan Islam di Indonesia, nama KH Ahmad Dahlan dan A. Hasan lebih di kenal sebagai Hasan Bandung, berdiri sebagai dua pilar penting gerakan purifikasi. Keduanya sama-sama ingin mengembalikan Islam pada kemurnian yang bersumber: Al-Qur’an dan As Sunnah. Namun, jalan yang mereka tempuh berbeda. Satu membangun lewat pendidikan dan amal sosial, yang lain menggugat lewat dalil dan logika. Dua pendekatan, satu tujuan: ” Menyelamatkan Umat dan memurnikan aqidah”.
Purifikasi, bagi keduanya, bukan sekadar membersihkan ritual dari takhyul, bid’ah, dan khurafat. Lebih dalam dari itu, purifikasi adalah usaha menyelamatkan cara berpikir umat dari sikap pasrah tanpa ilmu. Islam tidak boleh diwarisi hanya sebagai tradisi, tetapi harus dipahami sebagai keyakinan yang sadar.
KH Ahmad Dahlan memulai purifikasi dari kesadaran sosial. Ia melihat umat Islam tertinggal bukan semata karena penjajahan, tetapi juga karena cara beragama yang tidak membebaskan akal. Maka ia tidak datang membawa palu, melainkan lentera. Ia mengoreksi arah kiblat masjid, membenahi cara shalat, tetapi juga mendirikan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Bagi Dahlan, tauhid yang murni harus melahirkan keberanian untuk maju. Islam tidak cukup dipertahankan, ia harus diperjuangkan dalam bentuk peradaban.
Baca Juga :
- Peristiwa Besar Isra’ Mi’raj
- Persis Peduli Memberikan Paket Alat Bantu Sekolah
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Di tangan Dahlan, purifikasi tidak terasa sebagai ancaman budaya, melainkan sebagai pencerahan. Ia tidak memusuhi masyarakat, tetapi mengajak mereka berpikir. Ia tidak memaki tradisi, tetapi menimbangnya dengan dalil. Maka Muhammadiyah lahir sebagai gerakan yang membersihkan akidah sekaligus mengangkat martabat umat.
Berbeda dengan itu, A. Hasan datang dengan bahasa yang tajam dan argumen yang tegas. Ia tidak suka dengan kompromi. Baginya, agama harus berdiri di atas dalil, bukan di atas kebiasaan. Ia menolak taqlid buta, bahkan pada mazhab. Setiap keyakinan harus bisa dipertanggungjawabkan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
A. Hasan adalah wajah purifikasi yang konfrontatif. Ia berdebat, menulis, dan menggugat. Ia tidak segan menyebut praktik keagamaan yang tidak berdalil sebagai kesesatan. Ia tidak sedang membangun institusi sosial, tetapi membangun keberanian berpikir. Dalam Persatuan Islam (Persis), purifikasi tampil sebagai gerakan pemurnian akidah dan ibadah secara ketat.
Jika Dahlan membersihkan rumah sambil memperindah taman, A. Hasan membersihkan rumah dengan menyapu sampai ke sudut paling gelap. Yang satu merangkul, yang lain mengguncang. Tetapi keduanya sama-sama ingin umat keluar dari Islam warisan menuju Islam kesadaran.
Dari Dahlan kita belajar bahwa purifikasi harus melahirkan kemajuan. Dari A. Hasan kita belajar bahwa purifikasi harus melahirkan keberanian berpikir. Yang satu mengajarkan bahwa iman harus produktif. Yang lain mengajarkan bahwa iman harus argumentatif.
Di tengah zaman ketika agama sering dipakai sebagai identitas, bukan sebagai nilai, warisan Dahlan dan A. Hasan menjadi sangat relevan. Islam tidak boleh berhenti di simbol. Ia harus hidup sebagai keyakinan yang rasional, berani, dan membebaskan.
Purifikasi, pada akhirnya, bukan tentang membatalkan tradisi orang lain. Ia tentang menyelamatkan diri sendiri dari iman yang diwarisi tanpa dipahami. Dan dalam kerja besar itu, KH Ahmad Dahlan dan A. Hasan telah memberi tauladan: membersihkan sambil membangun, dan menggugat sambil menyadarkan. Dua jalan, satu tujuan. Tauhid yang murni. Umat yang merdeka.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
- Penulis : Jufri
- Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan











