Medan-persatuannews.com. Ormas-Ormas Islam yang demikian banyak sejak dasawarsa pertama abad 20 merupakan warisan kekayaan (heritage) Islam Indonesia yang luar biasa. Kekayaan Islam Indonesia ini dalam perspektif komparatif tidak bisa tertandingi negara muslim manapun di kawasan Dunia Islam lainnya.
Sejarah Ormas Islam sangat panjang. Mereka hadir melintasi berbagai zaman: sejak kolonial Belanda, penjajahan Jepang, orde Lama, orde Baru, terakhir orde reformasi sekarang ini. Dalam lintasan zaman yang terus berubah, satu hal pasti: Ormas-Ormas Islam memberikan kontribusi sangat besar tidak hanya kepentingan pendidikan, dakwah, kesehatan, dan penyantunan sosial kaum muslimin, juga dalam penggalangan dan pemeliharaan kohesi sosial, semangat keislaman-keIndonesiaan
Ormas Islam pada dasarnya seperti yang dikemukakan Azyumardi Azra, CBE dalam pengantar Sejarah dan Profil Ormas-Ormas Islam di Indonesia oleh Yon Machmudi 2013: adalah religious-based civil society organizations, yaitu organisasi masyarakat madani (masyarakat sipil). Oleh karena itu Ormas-ormas Islam sebagai civil society adalah self regulating dan self financing yang membuatnya independen.
Baca juga :
- Peristiwa Besar Isra’ Mi’raj
- PERSIS PEDULI Gerakkan Bantuan dan Penggalangan Dana Bencana Sumatera dan Aceh
- Persis Sumut Berbagi Sembago di beberapa Desa Terdampak Banjir
Dengan ketidakmampuan pemerintahan memberantas KKN, dan kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan, disini peran ormas Islam menjadi sangat krusial, dapat lebih meningkatkan perannya dalam pemberantasan KKN, pengentasan dhu’fa, kemiskinan dan penguatan good governance.
Ormas Islam dapat lebih memainkan peran signifikannya: Pertama, Ormas Islam memiliki jangkauan dan pengaruh yang luas sampai tingkat akar rumput. Kedua, keberlangsungan Ormas tidak tergantung pada pendanaan pemerintah dan funding agencies asing. Ketiga, mereka memiliki religious-sosial leverage, ini yang membuat mereka memiliki kredibilitas di matamasyarakat. Dan keempat, Ormas Islam lebih terpercaya dalam penggalangan dana filantropi yang bersumber dari kalangan menengah Muslim Indonesia yang terus meningkat jumlahnya.
Potensi peran yang baru saja dikemukakan, belum bisa terwujud secara maksimal, karena masih bertahannya kecenderungan tradisional mereka untuk lebih banyak bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan, pelayanan sosial dari pada bidang baru seperti, penciptaan good governance, dan pemberantasan kemiskinan, pengangguran dan keterbelakangan lainnya.
Ormas-ormas Islam adalah aset yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Mereka senantiasa eksis merespon berbagai tantangan dan problematika umat di berbagai bidang. Di tengah sorotan publik terhadap beberapa Ormas yang bermasalah munculnya stigma yang kurang baik, mereka tetap bekerja dengan ikhlas membangun umat.
Pengenalan kembali Ormas-ormas Islam menjadi sangat penting agar generasi muda lebih tertarik mengukuhkan kembali peran tersebut. Mengingat banyak Ormas Islam yang memiliki nilai historis bagi bangsa Indonesia, tetapi seiring perkembangan waktu mengalami kemunduran.
Peran tersebut sangat penting bukan saja di awal-awal kemerdekaan tetapi terus berkembang hingga saat ini.
Peran yang paling penting adalah sebagai soko guru penopang karakter bangsa Indonesia, sebagai lahan persemaian bibit-bibit kepemimpinan.
Kelahiran Ormas-ormas Islam di Indonesia:
- Sarekat Islam (SI)1912
- Muhammadiyah 10 November 1912
- Al-Irsyad Al-Islamiyah 6 September 1914
- Mathla’ul Anwar(MA) 10 Juli 1916
- Persatuan Islam (Persis) 12 September 1923
- Nahdlatul Ulama (NU) 31 Januari 1926
- Rabhitah Alawiyah 16 Januari 1928
- Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) 5 Mei 1928
- Al Jam’iyatul Washliyah 26 Oktober 1930
- Persatuan Umat Islam (PUI) didirikan 1917 selanjutnya secara resmi Fusi dua organisasi Islam POI dan PUII lahir secara resmi 5 April 1952
- Nahdlatul Wathan (NW) 1 Maret 1953
- Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) 26 Februari 1967
- Majelis Ulama Indonesia (MUI) 26 Juli 1975
- Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) 7 Desember 1990.
Selain ormas-ormas Islam yang disebutkan diatas masih banyak organisasi keagamaan yang berkontribusi di Republik Indonesia yang sangat kita cintai.
KHATIMAH
Peran ormas-ormas perlu dikuatkan kembali, mengingat saat ini kecenderungan penurunan peran Ulama terutama dikalangan generasi muda yang kurang memahami padahal orang tua mereka dahulunya adalah aktivis-aktivis ormas. Tokoh-tokoh ormas Islam hendaknya bisa menjadi panutan dan sumber inspirasi bagi generasi muda Islam.
- Penulis: Abdul Aziz
- Pengurus PP Persis
- Sekretaris Bidang Infokom dan Digitalisasi (Komdigi) MUI Sumut.











