Ketika Pemimpin Berhenti Merasa Diawasi

Rasa cukup melahirkan rasa aman. Rasa aman yang berlebihan melahirkan keberanian tanpa batas. Dan di situlah pelampauan batas dimulai. Secara psikologis, manusia memang membawa dua potensi: membangun atau merusak.

Medan-persatuannewsnews.com. Tidak ada kekuasaan yang langsung menjadi tiran. Ia selalu bermula dari niat baik. Dari janji perubahan. Dari dukungan yang tulus. Dari mandat yang sah. Tetapi ada satu titik sunyi yang sering tidak disadari: ketika seorang pemimpin perlahan berhenti merasa diawasi.

Bukan diawasi secara administratif. Bukan diawasi oleh prosedur atau laporan. Melainkan berhenti merasa diawasi secara moral. Al-Qur’an mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq (96:6–8): manusia benar-benar melampaui batas ketika ia merasa dirinya cukup. Rasa cukup itu tidak selalu tentang harta. Ia bisa hadir dalam bentuk dukungan politik yang besar, legitimasi mayoritas, tepuk tangan yang panjang, atau jabatan yang semakin kokoh.

Rasa cukup melahirkan rasa aman. Rasa aman yang berlebihan melahirkan keberanian tanpa batas. Dan di situlah pelampauan batas dimulai. Secara psikologis, manusia memang membawa dua potensi: membangun atau merusak.

Dalam Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, M. Utsman Najati menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan untuk naik menuju kebajikan, tetapi juga kecenderungan untuk tergelincir ketika dorongan ego tak lagi terkendali. Kekuasaan memperbesar keduanya. Ia bisa meluaskan kebaikan, tetapi juga mempercepat kesombongan.

Baca juga :

  1. PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
  2. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
  3. Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung

Sejarah memberi kita simbol yang kuat: Fir’aun. Ia tidak hanya hadir sebagai tokoh masa lalu, tetapi sebagai cermin abadi watak manusia yang merasa tak tersentuh. Fir’aun tidak jatuh karena miskin dukungan. Ia jatuh karena kehilangan kesadaran bahwa ada otoritas yang lebih tinggi dari dirinya.

Menariknya, ketika Musa dan Harun diperintahkan menegurnya, Allah memerintahkan dengan kata-kata yang lembut (QS. Thaha 20:43–44). Bahkan kepada simbol keangkuhan, ruang kesadaran tetap dibuka. Artinya, setiap kekuasaan selalu punya kesempatan untuk kembali rendah hati.

Masalahnya bukan pada kuat atau lemahnya kekuasaan. Masalahnya adalah ketika pemimpin tak lagi mau mendengar, tak lagi merasa perlu dikoreksi, dan tak lagi merasa diawasi oleh nilai-nilai yang lebih tinggi.

Kritik lalu dianggap gangguan. Pengawasan dianggap ancaman. Perbedaan dianggap pembangkangan.

Padahal dalam sistem demokrasi, pengawasan adalah bentuk cinta pada republik. Kritik adalah vitamin bagi kekuasaan. Tanpa itu, kekuasaan mengalami obesitas moral—besar secara struktur, tetapi rapuh secara nurani.

Sabar ketika berjaya menjadi kunci yang sering dilupakan. Sabar bukan hanya menahan diri ketika dihantam masalah. Sabar adalah kemampuan menahan diri ketika semua orang sedang memuji. Sabar adalah keberanian untuk tetap merasa kecil di hadapan Tuhan, meski besar di hadapan manusia.

Puasa mendidik kita pada dimensi ini. Kita mampu makan, tetapi memilih menahan diri. Kita mampu membalas, tetapi memilih menenangkan diri. Ibadah adalah latihan agar ketika suatu hari kita berada di atas, kita tidak lupa menunduk.

Karena sesungguhnya, kekuasaan yang sehat bukan yang tak tersentuh. Kekuasaan yang sehat adalah yang sadar bahwa ia selalu dalam pengawasan—oleh hukum, oleh rakyat, oleh sejarah, dan oleh Tuhan.

Ketika pemimpin berhenti merasa diawasi, saat itulah ia mulai berjalan sendirian. Dan kekuasaan yang berjalan sendirian sering kali tak menyadari bahwa di depannya ada jurang.

Peradaban tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak pelan-pelan, ketika kesadaran moral ditukar dengan rasa cukup. Maka yang paling kita butuhkan bukan sekadar pemimpin yang kuat. Kita membutuhkan pemimpin yang tetap merasa diawasi. Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

  • Penulis : Jupri
  • Pemerhati Lingkungan Sosial

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed