Medan-persatuannews.com. Sungguh pendulum kekuasaan adalah metafora politik yang menggambarkan pergeseran dominasi kekuasaan secara bolak-balik antara dua kutub, seperti eksekutif dan legislatif.
Allah ﷻ berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 2:183)
Konsep ini menunjukkan dinamika, kekuasaan jarang berada di tengah, melainkan cenderung bagai ayunan yang didominasi satu sisi.
Allah ﷻ berfirman :
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا ۙ وَاِ ذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّا سِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya : “Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ 4: 58)
Baca juga :
- PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
- Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung
Menurut Talcott Parson dalam buku Dasar Dasar Ilmu Politik, “Kekuasaan adalah kemampuan untuk menjamin terlaksanakannya kewajiban yang mengikat, oleh kesatuan kesatuan dalam suatu system organisasi kolektif.”
“Kewajiban adalah sah jika menyangkut tujuan kolektif. Jika ada perlawanan, maka ada pemaksaan melalui sanksi negatif dianggap wajar, terlepas dari siapa yang melaksanakan pemaksaan itu.”
Sungguh singgasana kekuasaan dapat menekan, memaksa dan memenjarakan siapa yang ia kehendaki. Karena itu penguasa merasakan kesenangan dan kecintaan pada kekuasaan. Ia ingin terus duduk disinggasana kekuasaannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“لَا يُوَفِّقُ اللَّهُ عَبْدًا لَا حِرْصَ عَلَى الدُّنْيَا وَلَا حِرْصَ عَلَى الْمَنَاصِبِ، كَمَا يُوَفِّقُهُ لِطَاعَةِ اللَّهِ وَرَغْبَتِهِ فِيمَا عِنْدَهُ”
Artinya : Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah dua serigala yang kelaparan lalu dilepas kepada seekor domba lebih merusak agama seorang daripada rakusnya manusia terhadap harta dan takhta.” (HR at-Timidzi, Ah mad, Ibnu Hibban,)
Hadist ini mencakup situasi di mana kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, dengan mengabaikan kepentingan umum atau melanggar prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran.
Kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki seseorang bisa menjadi fitnah yang luar biasa. Siapa saja yang termasuk dalam kalangan elit bisa mendapatkan fitnah ini. Karena sejatinya manusia tidak terbebas dari fitnah dan dosa.
Allah ﷻ berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. (QS Maidah 5:8)
Ayat ini mengingatkan umat agar senantiasa berlaku adil dan menjadi saksi yang jujur. Kekuasaan harus digunakan dengan keadilan, tanpa ada rasa kebencian yang mendorong pada ketidakadilan.
Allah ﷻ berfirman:
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran 3: 26)
Bagi mereka yang memiliki kekuasaan gunakan kekuasaan itu dengan adil, berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, serta menjaga hak-hak manusia dan kesejahteraan umat.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Pencinta dunia tak akan lepas dari tiga hal: kegundahan yang terus berlanjut, keletihan yang menerus, dan penyesalan yang tak akan berhenti.” (Ighatsatul Lahfan)
Kekuasaan dan kewenangan dapat menjadi fitnah yang luar biasa. Tidak pandang siapun dia. Apakah ia seorang RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur hingga Presiden atau para elit birokrasi yang mengemban Amanah.
Semoga dibulan Ramadhan ini menyadarkan diri betapa besarnya fitnah singgasana kekuasaan. Berhati-hatilah, jaga amanah agar berjalan sesuai ketentuan syariat.
- Penulis: Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor Laz Persis Sumut
Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.











