Medan-persatuannews.com. Pagi ini aku berdiskusi panjang dengan seorang sahabat baikku. Diskusi tentang perang AS, Israel vs Iran, diskusi Ramadhan, tentang singkatnya waktu hingga ekonomi umat saat ini. Diskusi pagi ini sampai mengingatkan aku kembali tentang perjalanan menulis yang telah aku jalani beberapa tahun ini.
Di tahun 2017 aku mulai menulis Jendela Fajar. Awalnya sangat sederhana, hanya ingin menulis sesuatu yang ringan-ringan yang dapat kurenungi sendiri. Namun dalam perjalanan waktu aku berpikir, umat juga membutuhkan pengingat. Manusia sering lelah dan lalai secara moral, jiwanya seperti baterai yang full atau low batt, ia membutuhkan charger akhlak.
Dari situlah lahir tulisan yang kuberi nama “Jendela Fajar-Mengulang Kaji.” Awalnya judulnya, Jendela Informasi. Tetapi judul itu terasa terlalu umum. Lalu aku menggantinya dengan Jendela Fajar, karena fajar adalah waktu kesadaran. Saat dunia masih hening, hati lebih jernih melihat diri dan kehidupan. Sedangkan Mengulang Kaji, adalah ajakan untuk meninjau kembali nilai-nilai yang sering kita lupakan.
Baca juga :
- PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
- Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung
Setiap hari aku menulis sekitar dua lembar kertas, siang hari aku menulis, malam hari aku membaca ulang dan memperbaikinya. Kemudian sekitar pukul 03.30 sebelum Subuh tulisan itu kukirimkan ke beberapa grup dan sahabat melalui WhatsApp.
Aku tidak pernah menghitung berapa tulisan yang telah lahir, melihat rentang waktu penulisan 9 tahun lamanya. Mungkin sudah ribuan. Judulnya bisa saja sama, tetapi isinya berbeda, karena setiap hari kehidupan menghadirkan peristiwa dan perenungan baru.
Tulisan-tulisan itu biasanya berbicara tentang empat hal: keislaman, kepemimpinan umat, akhlak, dan geopolitik dunia. Kupikir, umat tidak cukup hanya saleh secara pribadi. Ia juga harus memahami keadaan masyarakat dan dunia yang terus berubah.
Beberapa orang menyebutkan setelah membaca lalu disebarkan kembali keberapa WA group sahabat dan WA group lainnya. Ada yang setelah membaca lalu mengarsipkannya. Kupikir tulisan itu tersebar ke banyak tempat. Ada yang menjadikannya bahan khutbah Jumat, arsip di WA atau berlalu begitu saja. Namun ada pula yang bertanya atau berdiskusi setelah membacanya. Selebihnya aku tidak tahu ke mana tulisan itu berlalu.
Namun satu hal yang selalu aku inginkan setelah menulis, semoga Jendela Fajar bermanfaat untuk umat. Waktu dalam hidup ini terasa terlalu berharga, jika hanya berlalu begitu saja. Harapannya untaian kata-kata dalam tulisan Jendela Fajar mengingatkan pembaca untuk memperbaiki akhlak, atau memikirkan nasib umat, kembali kepada Allah, agar waktu sebagai anugrah Allah tidak berlalu sia-sia.
Pada akhirnya aku menyadari bahwa perubahan besar dalam masyarakat tidak selalu dimulai dari pidato besar atau karena kekuasaan. Kadang ia bermula dari sebuah kata yang menyentuh hati. Karena hati adalah pusat kehidupan manusia. Jika hati baik, maka baiklah seluruh kehidupan.
Semoga setiap kata yang lahir dari niat baik menjadi pengingat bagi diri sendiri dan bagi siapa pun yang membacanya.
- Penulis: Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor Laz Persis Sumut
Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.









