Kisah Al Muwaffaq Sosok Rakyat Biasa: Teladan yang Menginspirasi

Dalam kehidupan nyata ada orang yang kita kenal di dunia, pernah duduk bersama, tertawa bersama, bahkan ada yang pernah berjalan bersama di titik inilah bertemu takdir Tuhan orang-orang bersahaja namun menorehkan sejarah, bukan sejarah kepahlawanan tetapi mengajarkan tentang sejarah keikhlasan.

Medan-persatuannews.com. Ada orang-orang yang tidak dikenal di bumi, namun terkenal oleh penduduk langit.
Bahkan dalam lingkungan tempat tinggalnya sekalipun mereka tidak menjadi perhatian.

Dalam kehidupan nyata ada orang yang kita kenal di dunia, pernah duduk bersama, tertawa bersama, bahkan ada yang pernah berjalan bersama di titik inilah bertemu takdir Tuhan orang-orang bersahaja namun menorehkan sejarah, bukan sejarah kepahlawanan tetapi mengajarkan tentang sejarah keikhlasan.

Satu yang perlu diketahui bahwa; sejarah adalah guru yang paling jujur. Ia tak pernah berbohong, tak pernah memihak, dan tak pernah lupa.

Masih ingatkah kita kisah Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu dari Damaskus? beliau adalah contoh dan teladan keikhlasan yang mendapatkan pahala haji mabrur tanpa menjejakkan kaki nya di Makkah Al Mukarramah.
Ia merelakan 350 dirham tabungan haji selama 30 tahun untuk membantu janda kelaparan yang terpaksa memasak bangkai demi melenyapkan lapar yang di derita bersama anak-anaknya.

Termaktub dalam kitab An Nawadir karya Syech Syihabuddin Al Qulyubi, dikisahkan seorang ulama Sufi bernama Abdullah bin Mubarak. Setelah menunaikan rangkaian ibadah haji beliau merasa letih dan tertidur, dalam tidurnya bermimpi melihat dua Malaikat turun dari langit, Syeik tersebut mendengar percakapan keduanya.

Baca juga :

  1. PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
  2. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
  3. Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung

“Berapa yang berhaji tahun ini? tanya salah satu malaikat, enam ratus ribu jawab malaikat yang ditanya.Berapa banyak dari rombongan yang haji yang diterima ibadahnya?.” Tak satupun”. Percakapan malaikat tersebut membuat Abdullah Mubarak menggigil.

Apa? Ia menangis dalam mimpinya “Begitu banyak orang yang datang dari berbagai belahan bumi, dengan tingkat kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas dan tandus, dan semua usaha mereka sia-sia? pikirnya.

Sambil gemetar dia melanjutkan mendengar percakapan kedua malaikat tersebut. “Namun ada seorang yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, akan tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya diampunkan. Berkat dia seluruh ibadah haji mereka diterima oleh Allah”.

Kenapa begitu? Itu adalah kehendak Allah SWT. Pertanyaan berikut siapa orang tersebut? Ali bin Al Muwaffaq, tukang sol sepatu di kota Damsyik (Damaskus) Abdullah Al Mubarak terbangun dari tidurnya. Sepulang haji ia tak langsung pulang kerumah nya, akan tetapi langsung menuju kota Damaskus, Syria. Hatinya terus bergetar dan bertanya-tanya.

Sesampainya ia langsung mencari sang tukang sol sepatu yang didengarnya dalam mimpi. Hampir semua tukang sol sepatu dia tanya, apa ada yang bernama Ali bin Al Muwaffaq. “Ada, di tepi kota” jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Ia mendapati seorang tukang sol sepatu berpakaian lusuh.”Benarkah anda bernama Ali bin Al Muwaffaq? Betul tuan, ada yang bisa dibantu? “Saya mau tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur? padahal anda tidak berangkat haji.

” Manalah saya tahu tuan” Coba cerita bagaimana kehidupan anda selama ini. Berceritalah Muwaffaq. Sejak puluhan tahun, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya tabung, hingga tahun ini, saya memiliki 350 dirham, cukup untuk berhaji.

“Tapi anda tidak berangkat? Betul ” Apa gerangan terjadi?. Ketika itu, istri saya hamil (mengidam) waktu mau berangkat. Suamiku, adakah kau mencium bau masakan yang harum nikmat? ya istriku. Coba cari siapa yang memasak sehingga baunya begitu nikmat, mintakan sedikit untukku pintanya.

Kemudian saya pun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya sampaikan bahwa istri saya ingin masakan tersebut walaupun sedikit. Janda itu diam saja, kemudian saya ulangi perkataan saya”Ungkap Muwaffaq.

Akhirnya dengan lirih ia mengatakan, tidak boleh tuan. Berapa pun akan saya beli. Makanan itu tidak dijual katanya sambil berlinang air mata Kenapa?
Sambil menangis, janda itu menjawab, Daging ini halal untuk kami, haram untuk tuan.

Bagaimana ceritanya ada makanan yang halal untuk dia, tapi haram untuk ku, padahal kita sama-sama muslim?. Kenapa? Sudah beberapa hari kami tidak makan. Dirumah sama sekali tidak ada makanan.
Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak, dan kami makan ujar janda itu menjelaskan.

Mendengar penuturan tersebut saya menangis, kemudian kembali pulang. Ku ceritakan perihal itu pada istriku, ia pun menangis. Akhirnya kami memasak makanan dan mendatangi rumah janda tersebut.
Ini kami bawakan masakan untukmu.

Uang untuk biaya haji sebesar 350 dirham saya berikan pada mereka. Pakailah uang ini untuk keluargamu. Gunakanlah untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi.

Mendengar cerita tersebut, Abdullah Al Mubarak pun tak bisa menahan air matanya, ternyata inilah amalan yang dilakukan Muwaffaq, sehingga Allah menerima amalan hajinya meskipun dirinya tidak menunaikan haji.

Penulis : Abdul Aziz
Penasehat PW. Persis
Sumatra Utara.

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *