Medan-persatuannews.com. Dalam beberapa dekade terakhir, dolar AS telah menjadi pilar utama sistem keuangan global. Ia bukan sekadar alat tukar, tetapi juga simbol kekuatan ekonomi dan politik AS. Namun, konflik terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuka babak baru mata uang dolar.
Dilansir Internasional.kontan, Mata uang dolar AS kembali berada di jalur pelemahan untuk pekan kedua berturut-turut pada perdagangan Jumat (17/4/2026), seiring meningkatnya optimisme meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Allah ﷻ berfirman:
فَبِظُلْمٍ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَٰتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرًا
وَأَخْذِهِمُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَقَدْ نُهُوا۟ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
Artinya: “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS An Nisa 4:160-161
Sentimen pasar menguat setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon dan AS, Israel Iran mulai berlaku, namun dolar melemah kembali setelah Israel melanggar genjatan senjata yang telah disepakati.
Konflik menguatkan sekaligus melemahkan dollar, secara historis, setiap konflik besar justru menguatkan dollar. Disaat ketegangan meningkat, investor global mencari safe haven dengan membeli dolar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan (al-muubiqaat).” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda, “(1) Syirik kepada Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh kecuali jika lewat jalan yang benar, (4) makan riba, (5) makan harta anak yatim, (6) lari dari medan perang, (7) qadzaf (menuduh wanita mukminah yang baik-baik dengan tuduhan zina).” (HR. Bukhari, no. 2766 dan Muslim, no. 89).
Konflik Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi memperkuat posisi AS sebagai eksportir energi. Pada konflik Iran, dolar sempat menguat karena ketidakpastian global. Namun menariknya ketika tensi mulai mereda, dolar justru melemah kembali.
Baca juga :
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- PB ISMI Rayakan Milad ke 40, Serahkan Award Serta Peluncuran Website
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
- Bukit Barisan Institute Gelar FGD Pro-Kontra Pilkada Tak Langsung
Ini menunjukkan kekuatan dolar masih besar, tapi semakin sensitif terhadap dinamika geopolitik. Energi, minyak, dan retaknya sistem petrodolar selama puluhan tahun, kekuatan dollar ditopang oleh sistem petrodollar (perdagangan minyak menggunakan USD)
Namun konflik AS, Israel-Iran memunculkan risiko gangguan jalur energi di Selat Hormuz yang dikuasai Iran. Lonjakan harga minyak hingga di atas $100/barel. Iran hanya mengizinkan transaksi Kripto dan Yuan terjadi De-dollarization.
Transaksi minyak lewat selat Hormuz memperluas penggunaan Kripto dan Yuan China dalam perdagangan energi, ini adalah sinyal mulai goyahnya fondasi petrodollar.
De-dollarization dapat terjadi, karena dedolarisasi dan konflik geopolitik memiliki hubungan timbal balik yang saling memperkuat. Hingga April 2026, data menunjukkan bahwa serangan militer AS-Israel terhadap Iran pada (28/2/’26) telah memicu diskusi intens mengenai percepatan dedolarisasi di jalur energi global.
Penggunaan dolar sebagai senjata (Weaponization) bagi AS. Iran merespon dengan dedolarisasi, menghindari sanksi ekonomi AS. Iran mempercepat pengaturan keuangan alternatif dengan mitra dagangnya guna menghindari kontrol sistem keuangan AS.
Konflik di kawasan Teluk, terutama penutupan Selat Hormuz, jalur 28% perdagangan minyak mentah dunia, mengancam dominasi dolar dalam perdagangan energi (Petrodolar). Apabila negara-negara beralih ke mata uang lain untuk transaksi minyak demi keamanan, posisi dolar akan semakin tergerus.
Dalam jangka pendek, konflik biasanya membuat dolar menguat karena dianggap aset aman (safe-haven) oleh investor. Namun, dalam jangka panjang, keterlibatan militer AS yang berlarut-larut di luar negeri secara historis dapat memicu pelemahan dolar yang berkelanjutan.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
Artinya : “Rasulullah ﷺ melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim, no. 1598).
Sungguh lembaga Internasional dengan kekuatan dolarnya bagaikan rentenir Internasional. Seperti IMF sering dianggap sebagai rentenir oleh beberapa negara di Asia dan Eropa.
Julukan ini muncul karena IMF memberikan pinjaman darurat saat negara-negara anggota krisis keuangan, namun pinjaman tersebut datang dengan syarat-syarat yang ketat sering disebut sebagai harga yang harus dibayar.
- Penulis: Tauhid Ichyar
- Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.





