Medan-persatuannews.com. Seorang sahabat datang dengan senyumannya, ia terlihat baik-baik saja, namun aura kesedihan terlihat dari matanya, kesedihan ditutupinya dengan tertawa ringan. “Ustad boleh aku bertanya”, ujarnya, ”ya, silahkan”. Jawab ustad, “aku sedang berduka, beberapa hari lalu anak bungsuku meninggal dunia, aku sangat kehilangan”, sebutnya lagi.
“Dalam kesedihan itu, aku merasa bahwa Allah itu tidak adil, mengapa putraku yang baik dan sangat menghormati orangtua itu harus secepat itu Allah ambil”, ujarnya lagi, “dengarkan wahai saudaraku apa yang harus kau ketahui, agar kau tak bersedih lagi ketika datang cobaan hidup”, ucap Ustad.
Allah ﷻ berfirman :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh, ketahuilah dengan mengingat Allâh hati menjadi tenang” (QS Ar-Ra’d 13: 28).
Sesungguhnya kesedihan adalah reaksi emosional yang normal terhadap kehilangan, penolakan, atau kekecewaan. Meskipun menyakitkan, ini adalah proses alami yang memungkinkan merenung diri, beradaptasi, dan memulihkan diri secara emosional.
Baca juga :
- Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Dalam kehidupan, seringkali manusia ditimpa berbagai musibah, didera duka nestapa, sehingga membuat sedih dan merasa sakit. Bahkan tak jarang membuatnya terpuruk dalam duka lara yang berkepanjangan.
Firman Allah ﷻ :
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya : “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imron 3:139).
Kesedihan dan kepedihan ini bisa disebabkan oleh hal-hal yang telah lewat, atau berkenaan dengan hal yang dikhawatirkan akan terjadi nanti, maupun kepedihan yang tengah dialami. Kadang seseorang berduka hati ketika mengingat masa lalu yang pahit.
Atau dirundung kekhawatiran ketika membayangkan derita yang diperkirakan akan menimpa. Juga terkadang ia diliputi kegundahan dan duka mendalam ketika musibah tengah mendera.
Sesungguhnya setiap orang menempuh berbagai cara untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Mulai dari cara yang gratis sampai yang berbayar, baik yang berbiaya murah ataupun yang berbiaya mahal, bahkan super mahal pun mereka lakukan, demi menghilangkan kegundahan hatinya.
Namun mereka tidak akan berhasil meraihnya, karena tidak ada cara lain yang terbaik dan termanjurnya obat kecuali dengan sepenuh hati kembali kepada Allâh ﷻ. Dengan menghambakan diri kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda :
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Artinya : Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allah ﷻ Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Allah ﷻ Pemilik dan Penguasa Arsy’ yang agung; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Allah ﷻ Pemilik dan Penguasa langit, bumi dan Arsy yang mulia.” (HR. Al-Bukhâri, no. 6346 dan Muslim, no. 2703)
Mengingat-Nya dengan berdzikir dan mengagungkan-Nya, menyibukkan hati dengan tauhid dan iman, serta bermunajat dimalam-malam sepi kepadanya-Nya. Dengan ini, niscaya kesedihan, kekhawatiran dan kegundahan hati akan hilang.
Rasulullah ﷺ bersabda :
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Artinya : Ya Allâh , semata-mata hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka jangan kau biarkan aku mengurus diriku sendiri walau sekejap mata sekalipun, dan perbaikilah segala urusanku, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”.(HR Abu Daud, no. 5090.)
Ketahuilah, ada sedih yang berbuah pahala dan terpuji, seperti sedih karena musibah menimpa agamanya atau kesedihan karena musibah yang banyak menimpa kaum muslimin.
Sedih seperti ini bernilai pahala dari sisi hati yang cenderung pada kebaikan dan membenci kejelekan. Akan tetapi jika sedih tersebut sampai meninggalkan hal yang diperintahkan hilang kesabaran, meninggalkan jihad, tidak meraih manfaat atau malah mendatangkan mudhorot, maka sedih semacam ini jadi terlarang.
Jangan hadirkan kesedihan bernilai dosa dengan melampiaskan dengan sesuatu yang diharamkan. Sedih berbuah pahala dengan memperbanyak sedekah, bersabar dalam musibah.
Tidak selamanya orang yang bersedih tercela walaupun dengan meneteskan air mata. Selama lisan tidak menggerutu dan mengeluh terhadap takdir, bersabar dalam kesedihan, maka kesedihan berbuah pahala.
Sesungguhnya, kesedihan hati ketika datang cobaan hidup dan kegundahan, hanya bisa dicapai dengan banyak bersedekah banyak mengingat Allâh ﷻ, mengagungkan dan beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.






