Memaknai Hari Lanjut Usia Nasional: Berdamai Dengan Usia Senja

Di usia senja, kebaikan tak lagi butuh panggung. Ia cukup dilakukan dalam diam. Menolong tanpa pamrih. Bermain dan bercanda cucu tanpa menuntut balas. Mendo'akan anak dari sajadah, walau mereka tidak tahu.

Medan –persatuannews.com. Setiap tanggal 29 Mei, kita memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN).
Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bagi kita semua, terutama para lansia, untuk memperbaiki kualitas hidup di sisa usia yang Allah titipkan.

Tema tahun ini: “Mandiri, Sehat, dan Produktif untuk Indonesia yang Berdaya”. Tema yang sederhana, tapi dalam. Karena kemandirian di usia senja bukan lagi soal berlari kencang. Ia berubah menjadi mampu bangun sendiri, tersenyum pada cermin, dan bersyukur tanpa syarat.

Maka ketika fajar datang dan engkau masih terbangun,
Katakan dalam hatimu:
“Terima kasih, Ya Allah. Hari ini aku tidak harus hebat. Aku hanya ingin cukup.”

Di Usia Tua, Kebaikan Tak Lagi Butuh Pujian
Dulu saat muda, kita berlomba. Berlomba bekerja, berlomba diakui, berlomba agar nama disebut orang. Kebaikan kadang kita ukur dari tepuk tangan.

Tapi usia mengajarkan kejujuran.
Di usia senja, kebaikan tak lagi butuh panggung. Ia cukup dilakukan dalam diam. Menolong tanpa pamrih. Bermain dan bercanda cucu tanpa menuntut balas. Mendo’akan anak dari sajadah, walau mereka tidak tahu.

Karena di usia ini, kebaikan bukan lagi untuk dunia.
Kebaikan adalah bekal pulang.

Baca juga :

  1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
  2. Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Untuk Mendapatkan Kebaikan di Usia Tua, Perlu Persiapan
1. Persiapan amal yang baik
Perbanyak istighfar, sedekah kecil, maafkan orang, dan doakan keturunan. Di usia senja, setiap zikir yang ringan di lidah tapi berat di timbangan itu yang kita kumpulkan. Bukan untuk dipuji manusia, tapi untuk taat kepada Allah, serta Allah punya alasan memberatkan timbangan amal kita.

2. Persiapan kesehatan dengan olahraga rutin
Mandiri dimulai dari badan yang sehat. Jalan pagi 30, senam lansia, atau sekadar gerak ringan 15 menit sehari. Jaga makan, cukup istirahat. Karena badan yang sehat membuat ibadah jadi ringan dan hati jadi lapang. Sehat itu nikmat yang sering baru kita sadari saat mulai berkurang.

Penulis bersama KH. M.Nuh dalam Kegiatan Ormas Persatuan Islam Sumatera Utara

3. Persiapan hati: merelakan sorotan
Kalau sudah usia senja, lampu sorot sudah bukan milik kita lagi. Berikan pada yang lebih muda. Tugas kita bergeser: dari menjadi pemeran utama, menjadi sutradara yang membimbing dari belakang. Merelakan panggung bukan berarti berhenti berarti. Justru di sanalah letak kemuliaan: membesarkan orang lain agar mereka bisa lebih jauh melangkah.

Berdamai dengan Usia Senja
Usia senja itu seperti senja di langit Medan. Tidak seterang siang, tapi warnanya paling indah. Ia mengingatkan: waktu sebentar lagi malam.

Berdamai dengan usia artinya menerima keriput sebagai tanda pahala. Menerima langkah pelan sebagai anugerah masih bisa melangkah. Menerima lupa sebagai cara Allah melembutkan hati agar tak banyak menuntut dunia.

Di usia ini kita belajar mengurangi: mengurangi marah, mengurangi mengeluh, mengurangi mengejar yang fana. Dan menambah: menambah syukur, menambah doa, menambah kebaikan yang sembunyi.

Penutup
HLUN mengingatkan: lansia bukan beban. Mereka kitab hidup yang berjalan. Setiap keriputnya ayat tentang sabar. Setiap ceritanya hadits tentang tegar.

Untuk para orang tua: Selamat merayakan usia. Anda tidak harus hebat lagi. Cukup menjadi baik. Cukup menjadi hamba yang bersiap pulang.

Engkau kini sampai di musim hidup dimana kecepatan bukan lagi ukuran, melainkan kejernihan hati, dan lapangnya dada

Dan untuk yang lebih muda: Muliakan mereka sekarang. Karena kelak kita juga akan sampai di usia senja. Dan ingin diperlakukan seperti yang kita perlakukan mereka hari ini.

“Hari ini aku tidak harus hebat. Aku hanya ingin cukup.”
Cukup iman. Cukup amal. Cukup ridha Allah.

  • Penulis: Abdul Aziz.
  • Purna tugas BMKG

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *