Medan-persatuannews.com. Pada pertengahan Juni 2026, masyarakat di sebagian wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan garis khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatera, mulai merasakan penurunan suhu udara yang signifikan pada malam hingga pagi hari. Fenomena penurunan suhu musiman ini secara lokal dikenal dengan istilah Bediding.
Allah ﷻ berfirman :
اَللّٰهُ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهٗ فِى السَّمَاۤءِ كَيْفَ يَشَاۤءُ وَيَجْعَلُهٗ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلٰلِهٖۚ فَاِذَآ اَصَابَ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَۚ ٤٨
Artinya : Allahlah yang mengirim angin, lalu ia (angin) menggerakkan awan, kemudian Dia (Allah) membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya.
Maka, apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, seketika itu pula mereka bergembira. (QS Ar-Rum 30:48)
Menariknya, berdasarkan laporan berkala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 9–15 Juni 2026, penurunan suhu ini terjadi secara simultan dengan masih adanya potensi hujan signifikan di beberapa wilayah akibat dinamika atmosfer lokal.
Allah ﷻ berfirman :
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ١٩٠
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (QS Ali ‘Imran 3:190)
Fenomena suhu dingin di Indonesia pada pertengahan tahun secara ilmiah dikontrol oleh pergerakan angin berkala setengah tahunan (monsun). Pada periode Juni hingga Agustus, posisi semu matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Kondisi ini menyebabkan Belahan Bumi Selatan (BBS), khususnya Benua Australia, mengalami musim dingin ekstrem.
Sesuai hukum termodinamika atmosfer, perbedaan suhu yang kontras memicu terbentuknya pusat tekanan udara tinggi di Australia dan tekanan udara rendah di Asia. Aliran massa udara dari pusat tekanan tinggi ke tekanan rendah inilah yang disebut sebagai Monsun Australia atau Angin Timuran.
Data BMKG per Juni 2026 mengonfirmasi adanya penguatan sirkulasi angin Monsun Australia yang bersifat kering dan dingin. Angin ini bergerak melintasi Samudra Hindia dan masuk ke wilayah Indonesia bagian selatan. Karakteristik utama dari massa udara ini adalah rendahnya kandungan uap air. Suhu minimum ekstrem bahkan tercatat oleh BMKG mencapai 16,9°C di wilayah Tambi, Wonosobo pada 8 Juni 2026.
Baca juga :
- Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
- Transformasi Gerakan Jam’iyah: Sebuah Keniscayaan
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis
Allah ﷻ berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَقَلَّتْ سَحَا بًا ثِقَا لًا سُقْنٰهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَ نْزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَاَ خْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۗ كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : “Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu.
Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.”(QS. Al-A’raf 7:57)
Selain faktor eksternal dari Australia, BMKG menjelaskan bahwa penurunan suhu dingin malam hari dipicu oleh mekanisme pelepasan radiasi bumi (radiational cooling). Karena angin Monsun Australia bersifat kering, pembentukan awan konvektif pada siang hari menurun drastis di wilayah selatan.
Pada malam hari, absennya tutupan awan bertindak sebagai hilangnya “selimut atmosfer”. Akibatnya, energi panas matahari yang diserap bumi pada siang hari langsung dilepaskan kembali secara bebas ke luar angkasa tanpa adanya hambatan (refleksi balik) dari awan. Hal inilah yang menyebabkan suhu permukaan bumi anjlok drastis menjelang fajar.
Meskipun pengaruh Monsun Australia yang kering kian meluas, stasiun pengamatan BMKG mencatat adanya anomali berupa curah hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah geografis Indonesia pada pertengahan Juni 2026. Fenomena hujan di musim dingin/kemarau ini terjadi karena:
Dinamika atmosfer skala lokal, adanya daerah belokan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Indonesia bagian utara dan tengah. Kondisi perairan di sekitar wilayah lokal (seperti Selat Makassar dan Laut Maluku) yang masih hangat memberikan suplai uap air tambahan yang memicu pertumbuhan awan hujan terlokalisasi, terutama di Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Papua.
Berdasarkan analisis data BMKG Juni 2026, bahwa fenomena cuaca dingin yang melanda sebagian wilayah Indonesia merupakan dampak langsung dari penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering, didukung oleh proses radiational cooling akibat minimnya tutupan awan di malam hari.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Ka.Kantor Perwakilan Laz Persis Sumut
- Anggota Komisi Sosial dan Penanggulangan Bencana MUI Sumatera Utara.











