Medan-persatuannews.com. Muharram selalu mengajak umat meninjau ulang arah perjalanan. Hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah bukan sekadar pindah kota. Ia adalah revolusi peradaban. Dari jahiliah menuju masyarakat yang menegakkan persaudaraan, keadilan, dan penghormatan pada ilmu.
Karena itu, hijrah adalah gerak menuju keadaan yang lebih baik. Baik untuk diri, maupun untuk umat. Tema “Hijrah Menuju Kebangkitan Abad 15 Hijriah yang Harmonis dan Berkah” adalah ajakan membaca tanda zaman. Setiap masa punya ujiannya. Jika generasi terdahulu diuji dengan langkanya informasi, generasi kita diuji sebaliknya: informasi melimpah, bergerak lebih cepat dari nalar kita.
Dahulu, orang menuntut ilmu menempuh perjalanan berbulan-bulan demi satu hadis. Hari ini, ribuan kitab ada di genggaman. Peluang belajar terbuka selebar-lebarnya. Tapi di situlah ujian baru muncul.
Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang diikuti jutaan orang itu lurus. Era digital menciptakan ilusi baru: semua orang merasa bisa berfatwa, semua orang merasa paling benar.
Akibatnya, kita hidup di zaman ketika hoaks lebih laju dari tabayyun. Perdebatan lebih disukai daripada kebenaran. Prasangka lebih laris daripada fakta.
Al-Qur’an telah memberi protokol keselamatan sejak 15 abad lalu: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Tabayyun bukan budaya lama. Ia adalah sistem keamanan di era banjir informasi. Sebab keputusan yang lahir dari kabar keliru bisa membakar ukhuwah dan meruntuhkan bangsa.
Banjir informasi melahirkan krisis komunikasi. Ruang publik kita bising, tapi miskin makna. Debat bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menjatuhkan lawan. Perbedaan yang sunatullah berubah jadi bahan bakar permusuhan.
Padahal harmoni tidak tumbuh liar. Ia butuh kesediaan mendengar, memahami, dan menempatkan perbedaan pada tempatnya. Tanpa adab, ilmu hanya menjadi pisau yang melukai. Tanpa akhlak, teknologi hanya mempercepat kehancuran.
Digitalisasi telah meruntuhkan batas geografis. Dakwah, pendidikan, ekonomi, semua masuk ke telepon genggam. Ini peluang kebangkitan. Sekaligus ujian besar. Sebab teknologi hanyalah alat. Ia netral. Arahnya ditentukan oleh nilai yang kita hidupkan.
Di titik inilah peran ulama tak tergantikan. Tradisi keilmuan Islam dibangun dengan sanad yang jelas, kehati-hatian menafsir dalil, dan tanggung jawab moral menyampaikan ilmu. Di tengah arus informasi yang deras, umat butuh mercusuar, bukan sekadar influencer.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra mengingatkan: “Kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut. Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal para pendukungnya.”
Hari ini, yang ramai belum tentu benar. Yang sepi belum tentu salah. Tugas kita bukan ikut arus, tetapi meluruskan arus. Kebangkitan Abad 15 Hijriah ditentukan oleh tiga hal: kualitas informasi, kualitas komunikasi, dan kualitas pemanfaatan teknologi digital.
Muharram menegaskan: setiap perubahan butuh arah. Tanpa arah, kecepatan hanya membuat kita tersesat lebih jauh.
Maka hijrah kita hari ini adalah hijrah berpikir:
1. Dari malas tabayyun menjadi teliti verifikasi.
2. Dari reaktif berkomentar menjadi bijak mendengar.
3. Dari konsumen hoaks menjadi produsen konten maslahat.
4. Dari bangga pada followers menjadi rindu pada sanad keilmuan.
Jika empat hijrah ini kita jalankan, insyaAllah lahir peradaban yang harmonis, berilmu, dan membawa berkah bagi semesta. Bukan karena kita hebat, tetapi karena kita kembali pada esensi hijrah: mengubah diri, lalu mengubah zaman.
Wallahu a’lam bish shawab.
Penulis: Abdul Aziz
Sekretaris Bidang Infokomdigi MUI Sumatera Utara











