Menjaga Bumi, Belajar dari Guru Rimba

"Di Sokola Rimba, kami tidak mengajar anak untuk keluar hutan. Kami mengajar mereka agar tidak diusir dari hutannya sendiri."

Medan-persatuannews.com. Kita sering salah kaprah, bahwa bumi ini adalah warisan dari nenek moyang. Padahal yang benar: “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tetapi meminjam dari anak cucu kita.” — Prof. Dr. Emil Salim

Karena ini pinjaman maka ada 3 hal wajib dipedomani: dijaga, dikembalikan, dan ditambah nilainya. Setiap hektar hutan yang kita selamatkan, setiap sungai yang kita bersihkan, setiap aset bumi yang dikelola dengan amanah, hakikatnya adalah cicilan utang kepada anak cucu.

Di sinilah makna hijrah bukan sekadar kisah Rasulullah pindah dari Mekah ke Madinah. Hijrah adalah keberanian meninggalkan zona nyaman demi menyelamatkan peradaban.

Itu pula lah yang dilakukan seorang Butet Manurung. Tahun 1999, sarjana Antropologi UI ini memilih “hijrah” dari Jakarta ke jantung rimba Jambi. Bukan untuk mencari ketenangan, tapi untuk duduk bersama Suku Anak Dalam yang bahkan tak kenal huruf. Ia tidur di pondok kayu, makan umbut, belajar bahasa rimba selama berbulan-bulan tanpa mengajar. Sebab ia paham: hijrah sejati dimulai dengan menundukkan ego, bukan menaklukkan orang lain. Di Muharram ini, Butet bertanya pada kita, masihkah kita berani hijrah dari zona nyaman ke tempat di mana umat paling membutuhkan?

Di tangan Butet, lahirlah Sokola Rimba: sekolah tanpa dinding. Papan tulisnya kulit kayu Meranti, kapurnya arang, atapnya langit. Anak-anak belajar baca-tulis sambil mengenal jejak harimau, hak atas tanah, dan hukum negara. Bagi Orang Rimba, hutan adalah Masjid tempat mereka bertasbih, apotek tempat mereka berobat, dan universitas tempat mereka belajar hidup. Maka merusak hutan sama dengan membakar madrasah.

Baca juga :

    1. Pesan KH Jeje Zaenudin di Muktamar XIV: Saatnya Pemuda PERSIS Tampil di Panggung Peradaban Dunia
    2. PW ISMI Jambi Siap Dilantik, PW ISMI Riau Terima Mandat ISMI Ekspansi ke Sumatera, Usung Melayu sebagai Mesin Penggerak Zaman
    3. Dahsyatnya Pusaran Agin Puting Beliung dan Siklon Tropis

Tahun ini, Muharram berdampingan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni. Temanya “Restorasi Ekosistem” persis dengan yang Butet kerjakan 20 tahun diam-diam: memulihkan manusia dengan memulihkan hutannya. Dari rimba, ia menafsirkan ayat Kauniyah untuk kita: menjaga satu pohon artinya menjaga satu ruang kelas, satu generasi, satu peradaban. Kebangkitan Islam tidak akan lahir dari beton pencakar langit jika ayat-ayat Tuhan yang terhampar di hutan kita biarkan digergaji.

Allah SWT telah mengikatkan amanah ini dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah ia diperbaiki dengan baik…” (QS. Al-A’raf: 56). Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan, “Dunia ini hijau dan indah, dan sesungguhnya Allah menempatkan kamu sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimana kamu berbuat.” (HR. Muslim No. 2742).

Jagalah Hutan Rimba, ia memberi kehidupan bagi umat manusia.

Bapak Lingkungan Hidup Indonesia, Prof. Dr. Emil Salim merumuskan sejak era 1970-80 saat menjadi Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, 3 pemikiran beliau yang masih relevan hingga saat ini adalah:

1. Pembangunan Berwawasan Lingkungan: Ekonomi boleh tumbuh, tapi jangan nginjak leher ekologi.
2. Konsep Ekonomi Hijau: “Hitunglah kerugian lingkungan sebagai biaya, bukan eksternalitas gratis.”
3. Etika Lingkungan: Manusia bukan pemilik alam, tapi khalifah yang dititipi amanah.

Butet pernah diusir, difitnah, puluhan kali diserang malaria. Tapi ia bertahan dengan keyakinan: Islam itu rahmatan lil ‘alamin, rahmat untuk semua alam, bukan hanya manusia. Maka hijrah 1448 H yang paling mendesak hari ini adalah hijrah cara pandang: dari melihat alam sebagai warisan yang boleh dieksploitasi, menjadi amanah yang wajib untuk dimuliakan.

Kita dipanggil bukan jadi penebang, tapi menjadi khalifah. Dari rimba Jambi, Butet menitipkan pesan: “Kalau umat ini, negara ini mau bangkit dari keterpurukan, rawat dulu rumah kita yang bernama bumi. Sebab tidak ada negara yang makmur di atas tanah yang tandus, dan tidak ada peringatan lingkungan yang berarti tanpa aksi nyata.”

  • Penulis: Abdul Aziz, Penasehat PW. Persis Sumut
    Peduli lingkungan (Pepeling)

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *