Medan – persatuannews.com. Setiap tanggal 7 Juli, Indonesia memperingati Hari Pustakawan Nasional.
Peringatan ini diusung oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI).
Melansir situs Perpusnas, peringatan ini adalah bentuk apresiasi terhadap peran strategis pustakawan dalam membangun literasi masyarakat, memperkuat budaya baca, memperluas akses informasi, dan mendorong transformasi digital perpustakaan.
Mari sejenak kita menengok ke belakang.
Melihat perkembangan budaya literasi dari masa ke masa.
Jangan sampai hilang, jangan sampai luntur. Karena jika luntur, kita kehilangan jati diri bangsa yang cinta ilmu.
Di tengah arus zaman, pustakawan tidak boleh berhenti di batasan tradisional.
Pustakawan hari ini harus melek teknologi, inovatif, dan adaptif.
Sebab kita hidup di era disrupsi digital, di mana informasi mengalir tanpa batas di ruango maya.
Dengan mengusung tema “Pustakawano Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak”, mari terus dorong semangat literasi untuk mewujudkan generasi emas 2045.
Di saat masyarakat kesulitan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan,
di sinilah pustakawan hadir sebagai:
1. Kurator informasi yang menyeleksi sumber terpercaya.
2. Penjamin akses ilmu bagi semua kalangan.
3. Pendidik literasi informasi dan digital bagi generasi.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengakuan atas peran penting pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai jantung peradaban.
Baca juga :
- Darah Sebagai Amanah Dan Tanggungjawab Hidup
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Menjaga Bumi, Belajar dari Guru Rimba
Tema tahun ini adalah panggilan:
Terlibat dalam gerakan literasi.
Bersinergi dengan sekolah, kampus, komunitas, dan pemerintah.
Berdampak nyata dalam melahirkan generasi cerdas, kritis, dan berwawasan luas.
Mari kobarkan semangat literasi.
Mari galakkan budaya membaca dan menulis.
Dari perpustakaan kecil di pelosok, sampai perpustakaan digital di genggaman.
Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang membaca.
Dan generasi emas 2045 lahir dari kebiasaan hari ini: membaca, menulis, dan berpikir.
Penulis: Abdul Aziz
Sekretaris Bidang Infokomdigi MUI Provinsi Sumatera Utara









