Secangkir Kopi dan Distorsi Kemajuan Zaman.

Kita diberi limpahan karunia, tapi mentalitasnya masih mental penjarah. Pemimpinnya sibuk memperkaya diri seolah besok pagi ia pasti hidup, rakyatnya di bawah sibuk antri BBM subsidi sambil ngedumel. Negara hadirnya telat, egoismenya yang datang duluan," sebut pak Dermawan.

Medan-persatuannews.com. Dengan kaos oblong putih, celana traingi Pak Dermawan santai diruang baca, ngobrol dengan istrinya, ibu Amalia tentang berbagai peristiwa. Disamping teras rumah, aroma kopi hitam beradu dengan sejuknya angin sore. Narto, Arief, dan Dadang duduk melingkar. “Yah, kemari, ngobrol disini aja,” ujar Dadang. “ ya, bentar Dang,” sahut Pak Dermawan.

Dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya, sibuk melipat koran hari itu ia berjalan keteras samping. “ apa kabar nih, anak muda generasi Z,” ujar pak Dermawan menyapa. Apa diskusi kita sore ini. Arus modernisasi teknologie, menggerus tradisi masyarakat. Cocok menurut kalian,” kata pak Dermawan.

“Zaman sekarang ini,” Narto menjawab, sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja, “kalau dicari kemajuannya, ya maju pesat. Gadget makin tipis, terkadang dompetpun ikut tipis. Tapi kalau dicari rasanya, kok kayak makin jauh ya? Jauh dari sentuhan, jauh dari kebenaran,” sebut Narto.

Arief terkekeh, menyeruput kopinya sedikit. “Jauh dari sentuhan karena tangan kita lebih sering megang layar daripada jabat tangan, To. Soal kebenaran? Sekarang kebenaran itu bukan apa yang nyata, tapi apa yang paling banyak di-share dan di-like. Mau salah total pun, kalau viral dan banyak pembelanya, mendadak kelihatan suci.”

“Betul itu!” Dadang menimpali, tubuhnya condong ke depan. “Lihat saja berita akhir-akhir ini. Pejabat yang sumpah pakai kitab suci, kerjanya malah pakai kalkulator korupsi. Hukum yang harusnya tegak lurus, malah kayak karet gelang bisa ditarik-ulur tergantung siapa yang megang duit.”

Pak Dermawan melepas kacamatanya, memandang ketiga pemuda itu bergantian, lalu tersenyum tipis. “Kalian ini kalau bicara soal borok negeri selalu bersemangat,” kata Pak Dermawan, suaranya berat namun teduh. “Tapi, poin kalian benar. Bangsa kita ini sedang mengalami penyakit akut, krisis rasa syukur dan kepercayaan.”

Suasana mendadak agak hening. Ketiganya mendengarkan. “Negeri ini, kalau diibaratkan tanah, itu tanah surga,” lanjut Pak Dermawan dengan nada tegas tanpa basa-basi. “Tongkat kayu jadi tanaman, minyak tinggal bor, lautnya kaya. Kurang apa? Tapi manusianya rakus”.

Baca juga :

    1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
    2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
    3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
    4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat

Kita diberi limpahan karunia, tapi mentalitasnya masih mental penjarah. Pemimpinnya sibuk memperkaya diri seolah besok pagi ia pasti hidup, rakyatnya di bawah sibuk antri BBM subsidi sambil ngedumel. Negara hadirnya telat, egoismenya yang datang duluan,” sebut pak Dermawan.

“Nah, itu dia Pak!” sahut Narto. “Kita mau merayakan kemerdekaan yang ke-81 bulan depan, tapi kalau ngelihat antrian SPBU mengular atau berita OTT tiap hari, rasanya kemerdekaan kita ini masih diskon, belum 100 persen”.

Teringat ucapan Agus Salaim, tokoh pendidikan yang menyentuh,”Menjadi pemimpin berarti harus siap berkorban. Seorang pemimpin sejati tidak mencari kenyamanan, melainkan menderita bersama rakyat demi memperjuangkan arah kemajuan bangsa”.

Pak Dermawan mengangkat tangannya, memotong argumen Narto dengan candaan segar. “Heh Narto, merdeka diskon itu lumayan dibanding imanmu yang sering diskon kalau lihat diskon belanja online! Tapi serius…,, kita ini jangan cuma bisa menyalahkan Bupati, Walikota, atau Jaksa yang ketangkap, mereka hanya tak tahan hidup cukup, mereka ingin hidup penuh kemewahan diatas penderitaan umat.”

Google Image. Agus Salaim bersama Soekarno Diskusi Masalah Bangsa dan Negara

Beliau mengetuk meja dengan jarinya. Ingat ayat yang sering kita dengar, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. Perubahan itu bukan dari pidato indah di podium kemerdekaan, tapi dari bagaimana kita menjaga amanah sekecil apa pun di rumah dan pekerjaan kita.”

Arief tersenyum kecut. “Kena tampar kita, Tok, Dang. Kita sibuk ngritik negara, tapi bayar pajak motor aja sering nunggak,” Dadang tertawa lepas. “Nah, itu namanya kritik mandiri, Rief! Tapi benar kata Pak Dermawan. Negeri ini bukan salah ‘Ibu Pertiwi’ yang melahirkan kita. Tapi salah kita, anak-anak negerinya, yang belum pandai bersyukur dan menjaga amanah.”

Pak Dermawan kembali mengangkat kopinya, lalu tersenyum. “Sudah, jangan terlalu tegang mukanya. Nanti draf refleksi kalian jadi kering kayak kerupuk masuk angin. Minum dulu kopinya, mumpung masih hangat dan belum kena pajak distorsi zaman.” Gelak tawa pun pecah di teras itu, mencairkan kenyataan pahit yang baru saja mereka telan bersama-sama.

  • Oleh: Tauhid Ichyar
  • Pengamat Sosial dan Lingkungan.

Persatuan News

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *