Medan-persatuannews.com. Suasana di warung kopi Wak Dollah pagi itu cukup ramai. Aroma kopi pancung yang khas beradu dengan wangi tauco dari lontong sayur yang baru saja dihidangkan. Dadang, Arief, Narto, dan Pak Dermawan duduk mengelilingi meja kayu panjang di pojok warung, meluruskan kaki setelah sejam penuh berjalan santai di Taman Cadika, Gedung Johor.
Sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil, Arief membuka ponsel. Jempolnya sibuk menggeser layar, lalu tiba-tiba ia berdecak.
“Ih, tengok ini nah… Si Gunawan, pejabat yang baru naik jabatan itu. Gayanya di media sosial bukan main. Jam tangannya aja merk luar negeri, padahal dulu pas masih staf biasa, sepedaan aja dia ke kantor,” celetuk Arief sambil menyodorkan layar ponselnya ke depan Narto.
Narto langsung mendekatkan wajahnya, matanya menyipit. “Oh iya? Halah, palingan juga hasil ‘main belakang’ itu. Tengoklah potongan bajunya, sok paten kali, padahal nggak cocok sama badannya,” sebut Narto
Dadang yang sedang mengunyah rempeyek ikut nimbrung. “Kalian ini, pagi-pagi udah seru kali bahas hidup orang. Tapi emang iya sih, katanya istrinya juga sekarang kalau arisan keluarga agak hebohan”.
“Istrinya bahkan buat “Vlog” (Video Blog) atau “A Day in My Life”, kalian bisa mengakses di FB fitur Log Aktivitas, dari bangun tidur sampai mau tidur. Terkadang malu juga kita melihatnya. Ku komentari Vlognya, jangan terlalu vulgar, aib anda terbuka,” ujar Dadang lagi.
Mendengar obrolan yang mulai menghangat itu, Pak Dermawan yang sejak tadi tenang menyeruput teh manis hangatnya, meletakkan gelas perlahan. Beliau tersenyum tipis, memandang anak-anak muda di depannya dengan tatapan kebapakan.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
“Dadang, Arief, Narto… asyik kali ya bahas ‘menu’ pagi ini di medsos?” tanya Pak Dermawan lembut.
“Eh, Pak Dermawan. Iya nih Pak, kan kenyataan yang kami bilang. Memang begitu adanya di postingan dia,” sahut Arief membela diri.
Pak Dermawan mengangguk-angguk, lalu menoleh ke arah pemilik warung. “Wak Dollah, tolong ambilkan air garam segelas.”
Wak Dollah yang sedang menyaring kopi di balik steling langsung tanggap. “Siap, Pak Dermawan!” Tak lama, Wak Dollah mengantarkan segelas air putih yang sudah diberi dua sendok garam dapur.
“Coba, Rief, kau cicipi air ini. Macam mana rasanya?” tanya Pak Dermawan.
Arief mencicipinya sedikit lalu langsung meringis. “Ugh! Asin kali lah, Pak! Kelat lidah dibuatnya.”
Pak Dermawan tersenyum, lalu pandangannya beralih serius namun tetap teduh. “Nah, tahu kalian? Obrolan kalian tentang si Gunawan tadi, soal jam tangannya, baju pribadinya, sampai urusan keluarganya… itu namanya ghibah.”
“Tapi kan kami nggak fitnah, Pak? Kan memang betul begitu kenyataannya,” potong Narto.
Pak Dermawan menghela napas lembut. “Justru karena itu benar, makanya disebut ghibah, Narto. Kalau tidak benar, namanya buhtan atau fitnah. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan kita soal ini. Seringkali kita merasa tidak sadar telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan kita menjawab, ‘Yang saya katakan ini benar adanya!’ Padahal, justru menceritakan aib atau hal yang tidak disukai orang lain di belakangnyalah yang dilarang.”
Beliau kemudian mengetuk meja perlahan, menarik perhatian ketiga pemuda itu.
“Kalian ingat kisah Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha? Suatu hari beliau pernah berkata kepada Nabi ﷺ tentang Ibunda Shofiyah, ‘Cukup bagimu dari Shofiyah ini dan itu.’ Sebagian perawi mengatakan bahwa maksud ucapan ‘Aisyah adalah Shofiyah itu pendek. Hanya satu kata itu, anak-anakku.”
Pak Dermawan menunjuk gelas air garam tadi.
“Mendengar kata itu, Nabi ﷺ langsung bersabda: ‘Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya.’ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, & Ahmad).”
Dadang, Arief, dan Narto terdiam. Suasana meja yang tadinya bising oleh tawa mendadak hening. Hanya terdengar suara sendok Wak Dollah yang beradu dengan gelas di kejauhan.
“Bayangkan,” lanjut Pak Dermawan lirih. “Air laut yang segede samudera itu bisa berubah rasa dan baunya hanya karena satu kalimat pendek tentang fisik seseorang. Apalagi ‘gunjingan digital’ kita hari ini di medsos yang diketik, disebarkan, dan dibaca oleh ratusan orang? Bisa jadi bangkai yang kita makan lewat ketikan jempol kita ini sudah menumpuk setinggi gunung,” ujar pak Dermawan serius.
Wak Dollah yang sejak tadi mendengarkan dari balik meja kasir ikut menyahut sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Betul kata Pak Dermawan itu, woi. Di dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 12, Allah dengan tegas melarang kita mencari-cari kesalahan orang lain dan bergunjing. Allah ibaratkan orang yang bergunjing itu seperti memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Jijik kita membayangkannya, kan?”
Arief perlahan menurunkan ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana dengan wajah agak merona merah karena malu.
“Astagfirullah… ngeri juga ya, Pak. Ghibah ini penyakit hati yang pelan-pelan memakan kebaikan kita, mendatangkan keburukan, dan buat waktu kita habis sia-sia di warung ini,” ucap Dadang sambil mengusap wajahnya.
“Iya, Pak. Kadang jari ini lebih cepat mengetik daripada pikiran mengingat dosa,” aku Narto tulus.
Pak Dermawan kembali tersenyum, lalu mengangkat gelas teh manisnya. “Alhamdulillah kalau kita cepat sadar. Yuk, dihabiskan lontong dan kopinya. Habis ini kita pulang, bawa badan yang sehat dari Taman Cadika, dan bawa hati yang bersih kembali ke rumah.”
“Siap, Pak Dermawan!” jawab mereka serempak, menutup pagi itu dengan tawa yang lebih berkah dan obrolan yang jauh lebih bermanfaat.
- Penulis: Tauhid Ichyar, Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat







