Medan-persatuannews.com. Sejarah teknologi komunikasi dan informasi selalu ditandai oleh revolusi. Setiap kehadiran teknologi baru, selalu mengubah cara manusia berpikir, beradab, dan berinteraksi.
Kehadiran media cetak ratusan tahun lalu memfasilitasi melek huruf secara global. Lalu datang telepon, radio, televisi. Kini hadir handphone dan smartphone. Alat kecil 6 inci yang sanggup menembus jarak, waktu, bahkan benua.
Di era modern ini, akses informasi ada di genggaman. Ingin tahu berita sedetik terjadi? Buka medsos. Ingin bicara dengan keluarga di kampung? Video call.
Dimensi revolusi komunikasi mobile hari ini ditandai dengan 3 hal: cepat, murah, dan tanpa batas. Masa ketika kita harus menunggu orang pulang ke rumah dulu untuk menerima telepon, sudah berakhir.
Media sosial pun bertransformasi. Dari sekadar “sarana chat” menjadi ruang publik baru. Di sana kita berdagang, berdakwah, berdebat, bersilaturahmi, bahkan bertengkar.
Komunikasi bukan Sekadar Menyampaikan.
Secara sederhana, komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan dengan sengaja, terencana, dan punya tujuan.
Tapi komunikasi yang baik bukan hanya soal “sampai”. Ia harus benar, bermanfaat, dan tidak melukai.
Komunikasi yang baik itu:
1. Shiddiq: Jujur. Tidak hoax, tidak mengada-ada.
2. Amanah: Bertanggung jawab atas setiap kata dan share.
3. Tabligh: Menyampaikan dengan cara yang sampai dan dimengerti.
4. Fathanah: Bijak. Tahu kapan bicara, kapan diam, kapan share.
Karena itu, komunikasi yang baik tidak akan menimbulkan kebencian, kegelisahan, dan perpecahan di masyarakat. Ia menyaring informasi, bukan menyebar fitnah.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Ada Malaikat dan Ada Algoritma yang Mencatat
Jangan lupa, di balik kecepatan teknologi ada hukum Allah yang tidak pernah telat.
Allah berfirman: “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata: Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya…” QS. Al-Kahfi: 49
Setiap status, setiap komentar, setiap forward WA grup. Semua tercatat.
Jempol kita hari ini, bisa jadi saksi di akhirat nanti. Mau jadi saksi kebaikan atau saksi keburukan?
Dengan bantuan teknologi, kita bisa menjaga kebersamaan di mana pun kapan pun. Anak bisa “hadir” di ulang tahun ayahnya lewat video call. Silaturahmi tak terputus meski beda negara.
Tapi jujur saja kawan…
Handphone bisa menggantikan kehadiran fisik, tapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya nuansa sosial.
Ada rasa yang hilang. Sulit membayangkan jabatan tangan, pelukan ibu, atau makan bajamba bersama, digantikan oleh emoji dan stiker.
Teknologi berbasis nirkabel itu rapuh untuk urusan hati. Ia kuat untuk informasi, tapi lemah untuk menghadirkan kehangatan.
Dalam berkomunikasi harus merdeka dari:
Merdeka dari hoax. Merdeka dari ghibah. Merdeka dari jari yang lebih cepat dari otak.
Gunakan teknologi untuk 3 hal: Menyambung silaturahmi, Menyebarkan ilmu, dan Menebar manfaat.
Ingat, alatnya netral. Smartphone bisa jadi Al-Qur’an digital, bisa juga jadi gudang maksiat.
Mediasos bisa jadi mimbar dakwah, bisa juga jadi arena adu domba.
Pilihannya ada di kita. Karena setiap ketikan adalah doa, dan setiap share adalah jejak.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,Rasulullah bersabda:
“Man Kaana Yu:minu Billahi Wal Yaumil Akhiri. Fal-Yaqul Khoiron Au Li-Yashmut”.
Artinya: Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR.Bukhari dan Muslim)
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis: Abdul Aziz. Sekretaris Infokomdigi MUI Prov. Sumatera Utara









