MEDAN-persatuannews.com. Suasana Warung Wak Dollah di Ahad pagi itu terlihat tidak seperti biasa, ramai dengan orang-orang yang habis berolah raga di Taman Ahmad Yani. Ada dadang, Narto, Arief dan Udin driver pak Dermwan, mereka mojok diujung warung dengan masing-masing kopi, teh hijau dan kopi susu hangatnya.
“Kau tau, Tok,” buka Dadang sambil mengaduk kopi sanger dinginnya, “hidup ini makin dibaca, makin banyak misterinya. Dulu waktu kecil aku pikir orang pintar itu tau semuanya. Pas udah makin tua begini, baru sadar… semakin banyak yang kita tahu, makin sadar kita kalau ternyata banyak sekali yang tak kita ketahui.”
Wak Dollah yang sedang menuang air panas dari teko stanlis melirik pelan. “Tumben otakmu sudah jalan pagi ini, Dang? Habis lari lima putaran langsung jadi filsuf kau ya?”
“Bukan begitu, Wak,” potong Narto sambil tertawa. “Ini gara-gara semalam si Dadang baca artikel tentang Thomas Alva Edison. Itu wak, yang nemukan bola lampu.”
“Hah! Kenapa rupanya si Edison itu?” tanya Wak Dollah menyela.
Dadang memperbaiki posisi duduknya, wajahnya dipasang seserius mungkin meski matanya menyimpan canda.
“Begini, Wak. Kita kan tau si Edison itu berdarah dingin kalau soal eksperimen. Ribuan kali gagal baru jadi itu bohlam. Gara-gara dia, dunia yang dulunya gelap gulita kalau malam, sekarang terang benderang. Nah, semalam ada kawan di grup WhatsApp bilang, ‘Si Edison itu, pahalanya mengalir terus sampai sekarang. Tiap kali orang nyalakan lampu masjid, dapat dia bagiannya. Jangan-jangan dia masuk surga!’’
Wak Dollah hampir saja tersedak napasnya sendiri, lalu tertawa berderak khas warga Medan.
“gak gitu juga Dang, didunia ini kan sudah ia dapatkan balasannya, namanya besar, dipuji, dikagumi, kecukupan materi, namanaya diperbincangkan terus karena temuannya. Tentunya apa yang dia inginkan sudah didapatnya didunia ini, akhirat nanti dulu, apakah ibadahnya sudah sesuai syariat ?, jawab wak Dollah. “mestinya pak Dermawan ada pagi ini, beliau lebih fasih menjawabnya,” sebut Wak Dollah lagi.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
“Bah! Sembarangan kali kawanmu itu kalau cakap! Edison itu kan jelas kafir”, Sebut Arief. Gimana ceritanya pulak bisa masuk surga? Logika dari mana itu?”
Mbak Lastri menimpal sambil menyodorkan kue talam dan goreng-gorengan dimeja. “Itulah uniknya pemikiran orang-orang sekarang, Wak. Ada yang bikin teori, gara-gara Edison bikin dunia terang, di dalam kuburnya pun tak perlu pakai lampu lagi sudah terang benderang sendiri! Katanya, ‘Tuhan kan Maha Adil, takkan tega membiarkan orang yang bikin terang satu bumi malah berada di tempat gelap.”
“Apalagi katanya kalau dia masuk surga,” tambah Dadang sambil tertawa makin lebar, “malaikat tak perlu repot nyalakan penerangan lagi di kaveling dia. Sudah dipasang instalasi hemat energi sama dia sewaktu di bumi!”
Wak Dollah menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkah dua pelangganan tetapnya itu.
“Kalian ini kalau bercanda memang tak ada obatnya. Tapi ya itulah bukti kata-katamu tadi, Dang. Manusia ini makin sok tahu, makin nampak bodohnya. Soal surga dan neraka itu hak prerogatif Allah. Kita manusia cuma tahu hukum syariatnya, kalau tak beriman, ya tak sampai ke sana. Tapi kalau soal takdir dan balasan kebaikan di dunia, cuma Tuhan yang Maha Tahu batasannya.”
Suasana warung makin hangat dipayungi rimbunnya pohon-pohon di sekitar Taman Ahmad Yani pagi itu. Sinar matahari pagi menerobos di antara celah daun, menyinari asap kopi yang membumbung tipis.
“Jadi kesimpulannya gimana, Wak?” tanya Bang Udin yang duduk disebelah Dadang melempar senyum. Wak Dollah meletakkan cangkir kopi baru di meja mereka.
“Kesimpulannya sudah jelas sebagai mana ku katakan tadi, begitupun daripada pusing mikirkan kaveling si Thomas Edison di akhirat, mending kita pusingkan listrik, air PAM yang naik terus! Udah, habiskan lontong kalian itu, habis ini bantu aku angkat tabung gas!,” ujar Wak Dollah.
Tawa pecah seketika di sudut Warung Kopi Wak Dollah. Sebuah Ahad pagi yang sederhana di Medan, dimulai dengan keringat, dihangatkan dengan kopi, dan disegarkan oleh canda tawa yang mengingatkan betapa kecilnya pengetahuan manusia di hadapan luasnya takdir Ilahi.
- Penulis :Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat









