MEDAN-persatuannews.com. Di meja sudut Warung Kopi Wak Dollah, asap kopi hitam membumbung tipis, beradu dengan gelak tawa yang tak kunjung padam. Pak Dermawan sibuk mengaduk cangkirnya yang kedua, sementara Wak Dollah berdiri menenteng teko tua abu-abu, menatap deretan tamunya dengan senyum khas yang memikat.
“Negeri kita ini memang luar biasa ajaibnya, celetuk Dadang sambil melempar kacang goreng ke udara dan menangkapnya tepat dengan mulut. “Semua harga tidak pernah naik, hanya disesuaikan saja. Telur, beras, minyak makan bahkan BBM disesuaikan. Yang gak disesuaikan cuma satu, deretan angka di slip gaji ku!”
Arief yang duduk di sebelah Dadang menepuk bahu kawannya itu sambil terkekeh. “Tapi Dang, kita harus bersyukur. Justru di saat semua barang pada pamer harga, cuma tempatnya Wak Dollah yang istiqomah. Kopi tetap goceng, tambah gorengan hangat, plus bonus mendengarkan petuah gratis dari Pak Dermawan.”
“Iya,” sahut Mbak Lastri sembari menuangkan sedikit air hangat ke cangkirnya. “Kadang kita kejar-kejaran semua urusan dunia sampai lupa napas. Antri di jalanan macet, emosi naik, harga sembako ikut-ikutan merangkak. Sampai di sini, minum kopi seduhan Wak Dollah, rasanya tensi langsung meluncur turun.”
Pak Dermawan tersenyum lembut, lalu memegang cangkirnya dengan kedua tangan. “Nah, itu dia rahasianya, Mbak Lastri, Allah itu Maha Baik. Di tengah riuhnya dunia yang bikin dada sesak, Dia selipkan jeda kecil berupa secangkir kopi dan sahabat-sahabat yang mau duduk bersama. Kopi ini pahit, tapi kalau diminum sambil tersenyum bareng kalian, rasanya kok manis ya.”
“Wah, Pak Dermawan mulai lagi dah puitisnya,” goda Udin sambil menyenggol lengan Narto. “Narto aja dari tadi diam, bukannya mikirin harga bahan pokok, tapi lagi ngitung berapa buah pisang goreng yang sudah masuk ke perutnya!”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Pak Dermawan terdiam sejenak. Ia memandang cangkir kopinya yang masih mengepul, lalu menatap wajah satu per satu sahabat yang duduk mengelilingi meja kayu Warung Kopi Wak Dollah. Dengan senyum teduh dan suara yang lembut namun menyusup hingga ke relung hati, ia kembali berujar, “ini nasihat pren saya pak Abdul Aziz, Sekretaris Komdigi MUI Sumut, saat kami ngopi sebulan lalu,”
“di tengah antrian panjang yang menguras kesabaran, di tengah harga-harga yang makin menanjak,di Tengah, dada yang rasanya kian sesak…, Allah titipkan jeda bernama ‘ngopi’. Bukan untuk bermalas-malasan, pren-pren. Tapi untuk mengingatkan kita semua, bahwa hidup ini bukan sekadar berlari mengejar yang tak ada habisnya. Bahwa berteman itu bukan sekadar raga yang duduk bersama”.
“tapi bagaimana kita saling jaga, saling paham, dan saling menguatkan. Karena orang hebat itu… bukanlah orang yang tidak pernah marah. Tapi orang yang mau berhenti sejenak… ngopi…,lalu memilih untuk tidak menyakiti.”
“Masya Allah…” bisik Dadang, yang biasanya paling nyaring melontarkan candaan, kini matanya tampak berkaca-kaca. “Ngena banget ke hati, Pak. Kadang kita terlalu sibuk ngurusin urusan luar, sampai lupa kalau hati kita sendiri sudah kehabisan napas.”
Wak Dollah tertawa pelan seraya menuangkan kembali kopi ke cangkir-cangkir yang mulai kosong. “Betul itu! Asal ingat satu hal lagi yang paling penting, sehebat-hebatnya kita ngopi dan bicara soal negeri, jangan lupa bayar bon nya!”
Gelak tawa kembali pecah mengudara. Di warung sederhana itu, di antara kelakar jenaka dan aroma biji kopi yang pekat, mereka menemukan bahwa kedamaian tak selalu butuh kemewahan cukup secangkir jeda, ketulusan rasa, dan persaudaraan yang tak pernah padam.
- Penulis :Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat











