MEDAN-persatuannews.com. Setiap hamba yang beriman meyakini bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan. Kehidupan akan berlanjut menuju alam barzakh dan kemudian kehidupan akhirat. Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya memikirkan apa yang dapat dinikmati selama hidup, tetapi juga memikirkan apa yang akan ditinggalkan setelah ia tiada.
Allah ﷻ berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
Artinya : “Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang telah mati, dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu telah Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas.” (QS. Yasin 36: 12)
Harta akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, rumah dan kendaraan akan berpindah kepada ahli waris. Bahkan nama seseorang perlahan dapat dilupakan. Namun ada sesuatu yang dapat terus mengalir setelah kematian, yaitu pahala dari kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan oleh orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya : “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kematian bukan berarti seluruh peluang memperoleh pahala berakhir. Ada amal tertentu yang manfaatnya terus berlangsung sehingga pahalanya tetap mengalir atas izin Allah.
Sedekah jariyah adalah pemberian yang manfaatnya terus berlangsung. Membangun masjid, menyediakan sumber air bersih, membantu pembangunan madrasah, menyediakan fasilitas pendidikan, mewakafkan Al-Qur’an, atau mendukung sarana yang terus dimanfaatkan masyarakat, merupakan contoh amal yang manfaatnya dapat berlangsung panjang.
Di zaman sekarang, bentuknya dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat. Membantu menyediakan fasilitas belajar bagi anak-anak yang kurang mampu, membangun perpustakaan, mendukung pendidikan keagamaan, menyediakan akses air bersih, atau mewakafkan aset produktif yang manfaatnya terus dirasakan umat.
Ilmu adalah salah satu warisan terbaik yang dapat ditinggalkan. Seorang guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya, seorang ulama yang membimbing umat, seorang penulis yang menyampaikan ilmu melalui buku, maupun seseorang yang menyebarkan nasihat yang benar dan bermanfaat.
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Saat ini ruang menyebarkan ilmu semakin luas. Sebuah tulisan yang baik dapat dibaca bukan hanya oleh puluhan orang, tetapi dapat tersebar kepada ratusan bahkan ribuan orang. Sebuah tulisan dakwah yang disimpan dan dibaca kembali oleh generasi berikutnya dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang ditinggalkan seseorang.
Semakin luas jangkauan dakwah, semakin besar pula tanggung jawabnya. Jangan sampai sesuatu yang salah justru terus tersebar dan menjadi sumber kesesatan. Karena itu, sebelum membagikan ayat, hadis, nasihat, atau informasi keagamaan, hendaknya kita memastikan kebenaran sumbernya.
Anak saleh tidak lahir begitu saja. Orang tua meberikan pendidikan, keteladanan, kasih sayang, agama, dan lingkungan yang baik. Orang tua yang sejak dini mengenalkan anak kepada Allah, mengajarkan shalat, Al-Qur’an, akhlak, kejujuran dan tanggung jawab.
Ada orang tua yang meninggalkan harta yang banyak, tetapi tidak meninggalkan nilai-nilai agama. Sebaliknya, ada orang tua yang mungkin tidak meninggalkan kekayaan besar, tetapi meninggalkan anak-anak saleh yang terus mendo’akan dan melanjutkan kebaikannya.
Allah ﷻ berfirman :
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Artinya : “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran 3: 92)
Kita perlu memahami bahwa amal yang kita tinggalkan dapat membawa pengaruh kebaikan pada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ
Artinya : “Barang siapa memberikan contoh yang baik dalam Islam lalu diamalkan setelahnya, maka dicatat baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Sebuah tulisan dakwah, mungkin hanya menulis beberapa halaman. Namun, apabila tulisan itu mengingatkan seseorang untuk bertaubat, menggerakkan seseorang untuk bersedekah, mengajak seseorang mendirikan shalat, atau membuat seseorang kembali mencintai Al-Qur’an, maka tulisan sederhana itu dapat menjadi jejak kebaikan yang panjang.
Hidup ini singkat, setiap diri dapat meninggalkan kebaikan. Mari kita berlomba menorehkan warisan terbaik sebelum meninggalkan dunia.
Semoga Allah ﷻ menerima amal-amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, memberkahi ilmu, yang kita tinggalkan sebagai pahala yang terus mengalir hingga kehidupan akhirat. Wallahu a‘lam bish-shawab.
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Kapala Kantor PWK LAZ Persis Sumut. Anggota SOSBEN MUI Sumut











