MEDAN-persatuannews.com. Pagi 17 Agustus. Warung Kopi Wak Dollah sudah ramai. Bendera Merah Putih berkibar di depan warung. Suara lagu perjuangan terdengar dari radio tua yang sesekali suaranya hilang ditelan suara blender kopi.
Wak Dollah duduk di kursi kesayangannya. “Merdeka!” teriaknya.”MERDEKA!” jawab Dadang, Arief, Narto dan Udien serempak. Mbak Lastri yang sedang menghidangkan kopi ikut tersenyum. Pak Dermawan tiba-tiba bertanya, “Wak Dollah, menurut Uwak apa arti kemerdekaan?”
Wak Dollah yang biasanya sibuk dengan pelanggan hariannya pagi ini sedikit santai, duduk menyeruput kopi. “Menurut aku, kemerdekaan itu sederhana.” “Apa?” tanya Pak Dermawan. “Bisa minum kopi tanpa ditanya siapa yang bayar!”
Semua tertawa. “Wah, kalau begitu Uwak bukan pejuang kemerdekaan. Artinya Wak Dollah pejuang kopi gratis!” kata Arief. “Jangan salah!” jawab Wak Dollah. “Dulu para pejuang berjuang mengusir penjajah. Sekarang aku berjuang mengusir rasa ngantuk!, semalaman menyambut hari kemerdekaan, aku nunggui si Udien dan keluarganya bakar ikan disini,” Ujar wak Dollah.
Kembali pecah tawa di warung kopi Wak Dollah. Namun Pak Dermawan kemudian berkata serius. “Bercanda boleh. Tetapi kita jangan lupa, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar mahal oleh para pendahulu kita. Mereka berkorban harta, tenaga, bahkan nyawa.”
Suasana warung mendadak lebih tenang. Narto mengangguk. “Betul, Pak. Dulu anak-anak muda mengangkat senjata. Sekarang anak-anak muda mengangkat…”, “HP!” potong Udien cepat.
Semua tertawa. “Benar juga,” kata Mbak Lastri. “Jempol Gen-Z sekarang lebih kuat daripada tangan kita.” Dadang tertawa. “Tapi jangan salah, Mbak. HP itu bisa menjadi senjata juga.” Wak Dollah mengangkat alis. “Senjata?”
“Iyalah Wak. Bisa digunakan untuk menyebarkan ilmu, membangun usaha, berdakwah, membuat karya, bahkan memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia.” Pak Dermawan mengangguk. “Nah, itu baru namanya mengisi kemerdekaan,” Arief menimpali, “Tapi HP juga bisa jadi senjata makan tuan.” “Maksudmu?” tanya Narto. “Kalau dipakai untuk menyebarkan hoaks, fitnah, judi online, penipuan dan saling menghina, yang rusak bukan cuma HP-nya. Otaknya juga bisa ikut lelet!”
“Betul!” kata Wak Dollah. “Jangan sampai internet cepat, tetapi pikiran lambat.” Semua kembali tertawa. Mbak Lastri menimpali, “Berarti perjuangan Gen-Z sekarang bukan melawan penjajah dengan bambu runcing?” “Bukan,” jawab Pak Dermawan. “Perjuangannya adalah melawan kebodohan, kemalasan, kemiskinan, korupsi, judol, narkoba, dan berbagai penyakit sosial yang merusak generasi bangsa.”
Dadang menambahkan, “Termasuk melawan kemalasan bangun pagi.” Wak Dollah langsung menunjuk si Udien. “Nah! Itu perjuangan paling berat untuk kalian!”. “Kenapa, Wak?”. “Karena kalau dulu pejuang menghadapi peluru penjajah, sekarang kalian menghadapi kasur dan bantal!”
Baca juga :
- Secangkir Kopi Pahit Hangat
- Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
- Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
- Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah Memberi Keadilan Sosial Kepada Umat
Warung kembali bergemuruh oleh tawa. Udien kemudian berkata, “Tapi Gen-Z juga punya tantangan besar. Mereka hidup di zaman teknologi. Informasi datang setiap detik.”
“Betul,” kata Arief. “Karena itu mereka harus punya ilmu dan akhlak. Jangan sampai teknologi semakin canggih, tetapi manusia semakin kehilangan adab.”
Pak Dermawan mengangguk. “Generasi muda harus menjadi generasi yang kreatif, berilmu, mandiri, peduli kepada sesama dan mencintai tanah air. Kemerdekaan bukan kesempatan untuk bermalas-malasan. Kemerdekaan adalah kesempatan untuk berkarya.”
Wak Dollah mengangkat gelas kopinya. “Kalau begitu, mari kita bersulang!” Mbak Lastri tertawa.
“Bersulang dengan apa?”. “Kopi!. Kayak orang Barat saja?”
“Bukan. Kita orang Indonesia. Kopi adalah bahan bakar perjuangan!”. “Wak Dollah mulai lagi…” kata Narto sambil tertawa. Wak Dollah tersenyum. “Saudara-saudaraku, para pejuang dahulu mungkin tidak pernah membayangkan Indonesia akan sampai pada zaman internet, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, satelit dan teknologi digital.”
Ia berhenti sejenak. “Tetapi mereka tentu berharap anak cucunya hidup lebih baik daripada mereka.” Pak Dermawan menimpali. “Karena itu tugas kita bukan hanya menikmati kemerdekaan, tetapi menjaga dan mengisinya.”
,“Dan tugas Gen-Z adalah meneruskan perjuangan dengan cara mereka sendiri.” Ujar Dadang. “Dengan ilmu,” kata Arief. “Dengan teknologi,” sambung Narto. “Dengan kreativitas,” ujar Udien. “Dengan kerja keras, apalagi saat ini formasi kerja masih sulit, setidaknya dapat membuka lapangan kerja, ” tambah Mbak Lastri.
Wak Dollah mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi. “Dan dengan kopi! Wak Dollah!” Semua tertawa. Di luar warung kopi, Merah Putih berkibar diterpa angin pagi.
Mereka kembali menikmati kopi. Tetapi di balik canda dan tawa itu tersimpan satu kesadaran. Kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Kemerdekaan bukan sekedar naikan bendera dengan upacara, Kemerdekaan adalah perjuangan menhabisi korupsi, mensejahterankan umat.
Dahulu para pejuang berjuang agar kita merdeka. Kini tugas kita berjuang agar Indonesia menjadi bangsa yang berilmu, beradab, adil, sejahtera dan bermartabat. Dan untuk Gen-Z, pesan Wak Dollah sederhana, “Jangan cuma jago scroll. Jadilah generasi yang mampu meorehkan “sejarah bangsa di hormati bangsa lain!”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka! Merdeka! Merdeka!
- Penulis : Tauhid Ichyar
- Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat











