Warung Kopi Wak Dollah : Keracunan MBG

“Coba kalau pengelola program MBG mau belajar sedikit aja dari kearifan lokal uda-uda RM Padang, masak pakai hati, jaga kebersihan dapur secara konsisten, dan anggap konsumen itu seperti keluarga sendiri. Gak bakal ada cerita nasi basi atau anak-anak masuk UGD! keracunan"

MEDAN-persatuannews.com. Suasana Warung Kopi Wak Dollah pagi itu riuh seperti biasa. Bau harum kopi saring beradu dengan aroma pisang goreng yang baru diangkat dari kuali. Wak Dollah sedang sibuk mengocok teh tarik ketika Bang Budi melempar koran pagi ke atas meja kayu.

“Wak ada berita menarik nih! Berita program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di TV sama media online heboh betul. Ada yang usus kaget dapat makanan katering terus keracunan, ada yang porsinya mirip sajen, sampai isu korupsi anggaran. Kok bisa ya program niat mulia gini bikin hebohnya gado-gado kali?” celetuk Arief sambil menyeruput kopinya.

Wak Dollah mengelap meja dengan kain lap legendarisnya, lalu tertawa kecil. “Alah, Rief, Arief. Niatnya mah udah jempolan, “mau bikin anak-anak kita pinter dan sehat. Tapi ya itu, urusan perut ini memang sensitif. Kalau konsepnya bergizi tapi eksekusinya bikin anak-anak mampir ke UGD, itu namanya bukan MBG, tapi ‘Makanan Bikin Geger’!”

Narto yang dari tadi manggut-manggut mendadak menepuk jidatnya. “Iya juga ya, Wak! Kalau dipikir-pikir, Rumah Makan Nasi Padang dari jaman nenek moyang sampai sekarang layanannya luar biasa. Lauk pauk dipajang berjam-jam di etalase kaca, bertumpuk-tumpuk, tapi kok hampir gak pernah kita denger ada berita ‘puluhan warga keracunan makan nasi rendang’? Rahasianya apa coba?”

Wak Dollah tertawa terkekeh sambil menuang teh tarik ke gelas batu. “Nah! Ini perbandingan kelas berat!” sahut Wak Dollah. “Rumah Makan Padang itu ibaratnya Standard Operating Procedure (SOP) tingkat dewa tanpa perlu sertifikat ISO yang ribet-ribet! Rahasia mereka itu ada di tiga hal, bumbu, komitmen, sama rasa memiliki.”

Pak RT yang nimbrung pagi itu manggut-manggut penasaran. “Maksudnya gimana tuh, Wak?”, Pertama, bumbu rempah asli Indonesia itu pengawet alami paling tangguh. rendang sama gulai dimasak berjam-jam pakai rempah komplit, santan dikandangkan sampai keluar minyak. Bakteri mana yang betah hidup di situ? Jangankan bakteri, niat jahat aja mundur!” kata Wak Dollah disambut tawa pelanggan warung.

“Kedua,” lanjut Wak Dollah dengan nada lebih serius, “soal SENSE OF RESPONSIBILITY. Pemilik RM Padang itu menjaga nama baik usaha dan keluarganya. Kalau masakan basi atau bikin orang sakit, esok hari warungnya bisa sepi, mata pencaharian melayang. Jadi mereka mutar otak dan tenaga buat memastikan kebersihan dapur, kesegaran bahan, dan cara olah yang benar dari subuh.”

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah

Dadang menyela, “Lho apa beda sama oknum vendor dadakan ya, Wak?” “Beda jauh, Dang!” pangkas Wak Dollah. “Kalau oknum vendor dadakan mikirnya, ‘Ah, ini kan proyek, yang penting pesanan terkirim, cuan masuk, urusan perut anak orang belakangan.’ Nyari untungnya kebangetan!

“Coba kalau pengelola program MBG mau belajar sedikit aja dari kearifan lokal uda-uda RM Padang, masak pakai hati, jaga kebersihan dapur secara konsisten, dan anggap konsumen itu seperti keluarga sendiri. Gak bakal ada cerita nasi basi atau anak-anak masuk UGD! keracunan”

Pak RT yang baru datang ikut menyambar pisang goreng. “Tapi kan anggaran per porsinya lumayan besar, Wak. Kenapa hasilnya bisa ada yang zonk?”

“Nah, di situ seni ‘sulap-menyulapnya’, Pak RT!”, timpal Wak Dollah sembari menunjuk dengan sendok teh. “Di atas kertas angkanya mewah, pas turun ke dapur penyedia, eh kepotong pangkas sana-sini. Pas nyampe ke piring murid, menunya tinggal nasi putih, tempe setipis kartu ATM, sama sayur yang kuahnya lebih bening dari masa depan jomblo. Kalau ada vendor dadakan yang main sunat anggaran demi cuan, ya gizi anak melayang, gizi kantong mereka yang mengembung!”

“MBG jangan dihapuslah, Dien!” pangkas Wak Dollah cepat. “Kuncinya itu pengawasan. Jangan cuma kirim makanan, tapi kirim juga pengawas yang bener-bener cek kualitasnya. Masak makanan buat ribuan anak itu beda sama masakakan RM Padang. Kebersihan dapur harus nomor satu, distribusi jangan lelet. Jangan sampai niatnya investasi SDM menuju Indonesia Emas, eh malah bikin anak-anak lemes!”

Suasana warung kopi mendadak riuh dengan gelak tawa. Wak Dollah menyatukan kedua tangannya. “Intinya, kita semua dukung program ini sukses. Cuma ya tolonglah para pejabat dan vendor, anggaplah anak-anak sekolah itu seperti anak sendiri. Kasih makanan yang layak, higienis, dan penuh gizi. Jangan jadikan piring anak-anak kita lapangan olah-raga buat nyari untung. Biar perut murid kenyang, otak cerdas, dan orang tua pun tenang!”

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *