Warung KOPI Wak Dollah : Demo Senayan Jakarta

“Kelihatan demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat pada 27–28 Agustus 2026 melibatkan ribuan massa dari elemen masyarakat dan mahasiswa”,

MEDAN-persatuannews.com. Pagi itu, warung kopi Wak Dollah yang biasanya santai mendadak berubah jadi “ruang sidang darurat”. Aroma kopi sanger dan ubi goreng hangat seolah beradu dengan suara TV yang sedang menyiarkan berita situasi terkini di Senayan.

Di meja paling depan, Dadang, Narto, Arief, Udien dan kawan-kawan sibuk menatap layar ponsel masing-masing sambil berdebat kecil. “Itu lihat, arus manusia makin padat aja di depan gedung DPR,” kata Udin sambil nunjuk layar HP-nya ke arah Wak Dollah.

Wak Dollah yang sedang sibuk menyaring kopi cuma menghela napas panjang sambil nyeletuk, “Udahlah, nikmati dululah kopi kalian biar pikiran adem. Namanya juga anak muda lagi menyalurkan suara, yang penting kita di sini doain supaya semuanya tetap tertib dan gak ada yang anarkis.”

Suasana di warung kopi pun langsung hening sejenak, meresapi omongan Wak Dollah yang bijak sambil kembali menyeruput kopi panas masing-mana, ditemani semilir angin pagi dan lalu-lalang kendaraan di luar. “Kelihatan demonstrasi besar-besaran yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat pada 27–28 Agustus 2026 melibatkan ribuan massa dari elemen masyarakat dan mahasiswa”, ujar Dadang.

“Lihat tuh…,tuntutan utama, massa menyuarakan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, penegakan hukuman bagi koruptor, serta menyampaikan kritik terhadap sejumlah program dan kebijakan pemerintah,” sambung Dadang lagi.

Baca juga :

  1. Secangkir Kopi Pahit Hangat
  2. Hari Lingkungan Hidup 2026 : KIH Sumut dan PLN Tanam 250 Pohon di Belawan Lawan Triple Plenatary Crisis
  3. Dolar Dalam Konflik AS,Israel-Iran
  4. Zakat, Wakaf, Infak, Sedekah Dan Ekonomi Syariah

“berita menyebutkan aksi unjuk rasa sempat diwarnai ketegangan dan kericuhan pada Kamis malam (27/8). Massa membakar pos polisi dan kendaraan di sekitar Kompleks Parlemen, yang kemudian dihalau oleh aparat keamanan menggunakan meriam water cannon. Syukurlah siituasi kemudian dapat dikendalikan dan berangsur kondusif,” ujar Dadang lagi.

Menjelang sore, suasana di warung kopi Wak Dollah berangsur-angsur tenang. Berita-berita di televisi swasta dan layar ponsel yang tadinya disimak dengan tegang mulai berganti topik jadi obrolan santai soal lain dan rencana memancing akhir pekan.

Arief, yang dari pagi paling bersemangat memantau perkembangan demo di Senayan, akhirnya menutup layar HP-nya sambil menghela napas lega. “Syukurlah kalau beritanya bilang situasi di sana mulai kondusif menjelang sore ini. Yang penting aspirasi udah didengar, fasilitas umum tidak dirusak lagi,” kata Arief sambil menyeruput sisa kopi sanger-nya yang sudah mulai hangat.

Wak Dollah yang sedang membersihkan meja pelanggan langsung mengangguk setuju. Sambil merapikan gelas-gelas kosong, beliau menutup obrolan hari itu dengan pesan khasnya, “Nah, begitulah baru sedap awak dengar beritanya. Politik boleh panas, berita luar boleh riuh, tapi perut harus tetap kenyang dan kepala harus tetap dingin. Silaturahmi di warung kopi ini jauh lebih berharga daripada kita ikut-ikutan panas di jalan.”

Semua orang di warkop tertawa kecil mengamini kata-kata Wak Dollah. Hari itu ditutup dengan senja yang mulai turun di emperan warung, menyisakan kedamaian secangkir kopi di tengah hiruk-pikuk dunia luar.

  • Penulis : Tauhid Ichyar
  • Pemerhati Lingkungan Sosial Masyarakat

Persatuan News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *